by

Bisnis Retail Akan Habis, Tergerus Ekonomi Kapitalis

-Opini-17 views

 

Oleh : Enny Prima Putri, S.Hut, M.Si

_________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Menjelang akhir Mei lalu publik seakan dikejutkan dengan berita bahwa Supermarket Giant
akan menutup seluruh gerainya yang tersebar di Indonesia. Namun melihat situasi ekonomi yang
berkembang saat ini tutupnya Giant dan banyak bisnis retail lainnya adalah hal yang sudah bisa
diduga sebelumnya.

Pandemi yang berkepanjangan sejak awal 2020 lalu hingga saat ini tentu saja salah satu faktor yang memberi dampak paling signifikan bagi industri retail. Namun bila dilihat lebih belakang
lagi ternyata bisnis retail ini mulai menunjukkan kehancurannya sejak tahun 2017 lalu.

Amerika yang merupakan pusat kedigdayaan bisnis retail diberitakan mulai runtuh seperti dalam harian online kompas.com pada 30 Nopember 2017, yang memberitakan “Awan kelabu ritel menggerayangi negeri adikuasa Amerika Serikat sepanjang tahun ini.

Peritel pun remuk redam dalam pusaran kekelaman tak tahu ujungnya. Banyak analis berusaha menerka apa sebetulnya yang terjadi dengan ritel Amerika Serikat tahun ini. Satu per satu toko gulung tikar.

Sebut misalnya, peritel legendaris Sears yang mesti merelakan 63 gerainya tutup. Ada pula Bon-Ton yang melepas portofolio 40 gerainya, disusul dengan banyak industri retail lainnya”.

Indonesia pun turut mulai merasakannya ketika pada pertengahan tahun 2017 tutupnya gerai Seven Eleven. Padahal ketika baru buka pada tahun 2009 hingga tahun-tahun selanjutnya gerai Seven Eleven ini membuka banyak gerai di beberapa wilayah di Indonesia.

Setelah itu disusul banyak retail lagi yang mulai berjatuhan. Usaha mereka mencoba mempertahankan bisnisnya tak kunjung membuahkan hasil bahkan keuntungan yang diharapkan, semakin tergerus oleh besarnya hutang dan pengeluaran operasional yang harus
terus dibayarkan.

Penyebab Runtuhnya Bisnis Retail

Dikumpulkan dari beberapa sumber, didapatkan data bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan bisnis retail runtuh, beberapa diantaranya :

● Belanja Online
Dengan mudahnya berbelanja secara online maka konsumen tak perlu lagi mendatangi gerai-gerai untuk membeli barang yang dimau dan yang diperlukan.

● Pandemi berkepanjangan
Pembatasan berskala besar atau jaga jarak dan instruksi untuk berkegiatan di rumah saja membuat hampir seluruh masyarakat tak lagi mengunjungi mal, minimarket maupun supermarket.

● PHK dimana-mana
Efek lain dari pandemi adalah banyaknya terjadi PHK yang membuat terhentinya pendapatan para pekerjaan sehingga mereka hanya membeli barang yang sangat dibutuhkan untuk sehari-hari di warung atau pasar tradisional dibanding membeli barang
di retail.

● Besarnya Hutang dan Operasional Retail. Tak dapat dipungkiri dengan menurunnya daya beli dan persaingan yang ketat antar retail dan penjualan secara online, di sisi lain beban hutang, operasional dan keuntungan yang tak seimbang membuat bisnis retail tak lagi mampu mempertahankan usahanya.

Rusaknya sistem Ekonomi Kapitalis
Indonesia dikenal memiliki sistem ekonomi Pancasila sehingga setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Namun pada kenyataannya hampir semua kegiatan ekonomi berskala besar baik itu nasional maupun internasional, lebih mengarahb kepada sistem ekonomi kapitalis.

Hampir semua sumber daya alam yang ada di Indonesia yang seharusnya diolah dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ternyata telah dijual dan dimiliki oleh individu ataupun korporat.

Begitu juga dengan semua kegiatan ekonomi yang berskala besar, bagi pengusaha besar sistem kapitalisme dianggap sangat menguntungkan kapitalisme merupakan sebuah sistem
organisasi ekonomi yang didirikan oleh hak milik privat atas alat-alat produksi dan distribusi yang pemanfaatannya untuk mencapai laba dalam kondisi yang kompetitif.

Sedangkan sistem ekonomi kapitalis ialah suatu sistem yang memberikan kebebasan cukup besar bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan individu atas sumber daya ekonomi atau faktor-faktor ekonomi.

Sederhananya, kapitalisme dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang memberikan kebebasan penuh bagi setiap orang untuk mengendalikan kegiatan ekonomi, dengan tujuan
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Sistem Kapitalisme dapat dilihat dari ciri-ciri berikut :

1. Mementingkan diri sendiri (self interest). Setiap individu memiliki kebebasan penuh dalam bersaing bisnis dengan menggunakan berbagai metode untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya.

Di mana semua aktivitas ekonomi dan sosial dilakukan sepenuhnya untuk kepentingan diri sendiri.

2. Penjaminan atas hak milik perseorangan. Adapun prinsip yang lain dalam sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi barat memiliki
perbedaan yang sangat mendasar, bila kapitalisme harta kekayaan dikuasai penuh oleh manusia.

Sosialisme itu dikuasai oleh negara, sedangkan Islam segala harta apapun bentuknya adalah pemberian Allah, yang penggunaannya diatur menurut aturan-aturan Allah.

Manfaat penerapan sistem ekonomi Islam adalah karen nilai-nilai ekonomi Islam sangat kuat dan pelakunya tidak akan melakukan kecurangan, karena sadar bahwa segala perbuatan dan
perilaku akan dimintai pertanggungjawaban.

Selanjutnya, sistem ekonomi Islam sangat memperhatikan kepemilikan individu dengan batasan-batasan yang ditentukan oleh agama. Yang mana negara merupakan institusi penting
dalam perekonomian sebagai kontroling.

Selain itu, sistem ekonomi Islam memiliki sistem yang baik dalam memenuhi pemerataan melalui zakat, infak, dan sedekah.

Dalam sistem ekonomi Islam semua individu akan termotivasi untuk bekerja keras namun tetap dalam jalur yang telah ditetapkan oleh Islam agar masing-masing individu juga bisa berbagi manfaat dengan yang lainnya.[]

Referensi
-kompas.com, merdeka.com, media.com

Comment

Rekomendasi Berita