Brain Rot, Bom Waktu Generasi Emas 2045

Opini1510 Views

 

Oleh: Rahmawati Ayu Kartini | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Anak-anak kini semakin akrab dengan layar ponsel. Sejak usia dini, mereka terbiasa menonton video pendek dan menyukai konten instan—tanpa pengawasan orang tua. Fenomena ini dikenal sebagai Brain Rot, yakni kondisi penurunan fungsi kognitif akibat paparan konten cepat dan dangkal secara terus-menerus.

Brain Rot membuat anak-anak malas membaca teks panjang dan kehilangan daya kritis. Jika terus dibiarkan, kondisi ini akan menjadi bom waktu yang mengancam terwujudnya Generasi Emas 2045—generasi unggul yang diharapkan membawa Indonesia menjadi negara maju tepat saat satu abad kemerdekaan.

Konsentrasi Lebih Rendah dari Ikan Mas

Studi Microsoft pada 2015 menyebutkan bahwa rata-rata perhatian manusia kini hanya 8 detik, lebih rendah dari ikan mas yang mencapai 9 detik. Ini merupakan dampak dari derasnya arus informasi media sosial, yang membuat otak kesulitan memproses informasi secara utuh dan mendalam.

Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi media sosial, video pendek, dan tulisan singkat mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis dan membaca secara mendalam.

Fenomena ini disebut shallow reading—membaca secara cepat tanpa pemahaman mendalam. Tak heran jika mereka lebih memilih konten instan, dan kerap melewatkan video panjang atau bacaan berbobot.

Penghalang Visi Generasi Emas

Survei menunjukkan, 70,6% pakar pendidikan menilai pembelajaran daring turut mendorong meningkatnya Brain Rot. Meski bukan penyebab utama, tingginya interaksi anak dengan gadget memperburuk kualitas berpikir mereka. Gen Z dan Gen Alfa disebut sebagai kelompok paling terdampak.

Padahal, visi Indonesia Emas 2045 menargetkan lahirnya generasi unggul yang siap bersaing secara global. Jika Brain Rot tak segera diatasi, bagaimana mungkin visi besar ini dapat terwujud? Apa jadinya jika jumlah generasi muda melimpah, namun minim kualitas dan ketahanan berpikir?

Mencabut Akar Masalah

Para pakar pendidikan menekankan pentingnya pendidikan digital citizenship—yakni kemampuan memilah informasi, bersikap etis di ruang digital, dan menjaga kesehatan mental. Anak-anak harus dibekali kemampuan ‘berenang’ di samudera digital, bukan dibiarkan tenggelam tanpa pelampung.

Orang tua pun perlu berperan aktif. Faktanya, tak sedikit orang tua justru menggunakan gawai untuk “menenangkan” anak, agar tidak mengganggu aktivitas mereka. Sementara di sekolah, para guru harus melek teknologi agar tidak tertinggal dari muridnya. Kesenjangan digital ini bisa membuat murid “mengakali” guru demi kepentingan yang tak sehat.

Pemerintah pun perlu meninjau ulang batas usia pengguna media sosial yang kini ditetapkan minimal 13 tahun. Faktanya, banyak anak-anak jauh di bawah usia itu sudah aktif bermedia sosial. Penegakan regulasi harus dikawal bersama oleh masyarakat.

Namun semua upaya itu tak akan cukup jika kapitalisme sekuler yang menuhankan materi sebagai akar persoalan tidak dicabut. Sistem ini tentunya – Dalam praktiknya – lebih mengutamakan keuntungan di atas pendidikan karakter. Tanpa fondasi iman dan takwa, setiap solusi akan goyah, dan semangat awal akan kembali tenggelam dalam arus liberalisme global.

Sistem Islam, Solusi Menyeluruh

Islam sebagai sistem hidup memiliki panduan lengkap, termasuk dalam menyikapi perkembangan teknologi digital. Dalam pandangan Islam, gadget hanyalah alat. Manusia sebagai pemakainya kelak akan dimintai pertanggung – jawaban: digunakan untuk apa dan dalam rangka apa?

Negara dalam sistem Islam memegang peran sentral melalui departemen penerangan yang bertugas memenuhi ruang digital dengan konten-konten edukatif, dakwah, dan pesan moral. Edukasi tentang adab informasi wajib diajarkan agar masyarakat tidak menjadi korban fitnah dan disinformasi.

Negara juga bertugas menjadi junnah (perisai) bagi rakyatnya, termasuk dari bahaya digitalisasi yang dijadikan alat penjajahan. Teknologi big data dikendalikan, konten maksiat dicegah penyebarannya, dan jurnalisme diarahkan untuk menyuarakan kebenaran dan membela umat.

Islam menjadikan ruang digital sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Di sinilah kita akan temui generasi yang kuat, tidak alay dan lebay, melainkan berkualitas sebagaimana para pemuda tangguh dalam sejarah peradaban Islam.

Kita mengenal sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang ketika wafatnya mengguncang dunia hingga ke Eropa. Kaisar Romawi Leo III berkata:

“Seorang penguasa yang adil telah meninggal. Aku tak heran jika ada biarawan yang meninggalkan dunia untuk ibadah. Tapi aku takjub pada seorang penguasa yang mampu menguasai dunia, namun ia memilih meninggalkannya.”

Saatnya kembali pada Islam yang terbukti mampu membangun generasi berkualitas. Hanya dengan penerapan aturan Allah SWT, insya Allah visi Generasi Emas 2045 bukan sekadar mimpi. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment