Bukan Perang Saudara Biasa: Krisis Sudan dan Permainan Adidaya

Opini262 Views

Penulis: Arisa Umrahyani, S.Pd | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Krisis kemanusiaan di Sudan kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir. Di kota El Fasher ibu kota Darfur utara, lebih dari 62.000 warga mengungsi hanya dalam kurun waktu empat hari. Pemerintah Sudan juga melaporkan bahwa sedikitnya 2.000 orang terbunuh dalam serangan yang terjadi di wilayah tersebut (Republika, 30/10/2025).

Humanitarian Lab Yale menyebut bahwa citra satelit menunjukkan keberadaan objek-objek yang diperkirakan merupakan jasad manusia beserta noda tanah merah secara luas. lembaga bantuan kemanusiaan yang menerima laporan dari sumber yang terpercaya menyebut adanya eksekusi mendadak, pembunuhan warga sipil yang mencoba melarikan diri hingga penggerebekan rumah yang berujung pada pemerkosaan terhadap perempuan dan anak.

Namun, penderitaan Sudan tidaklah muncul tiba-tiba. Sudan adalah negeri yang sangat kaya sumber daya. Ia merupakan negara terbesar ketiga di Afrika, memiliki cadangan emas yang sangat melimpah, piramida yang lebih banyak dari Mesir, dan dilintasi sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan.

Namun realitas keseharian rakyat Sudan justru sebaliknya. Infrastruktur minim, jalan beraspal yang sangat sedikit dan banyak wilayah tidak dapat diakses terutama saat musim hujan. Rakyat hidup dalam kesulitan dan ketidakpastian yang panjang.

Krisis Sudan tidak dapat dipandang sebagai konflik internal semata. Perebutan kekuasaan antara Abdel Fattah al Burhan yang memimpin Tentara Nasional Sudan (SAF) dan Muhammad Hamdan Dagalo atau Hemedti yang memimpin kelompok paramiliter Rapid Support Force (RSF) hanyalah permukaan dari persoalan yang jauh lebih kompleks.

Kekayaan alam Sudan, terutama emas dan posisi strategisnya di kawasan Sungai Nil menjadikannya sasaran perebutan pengaruh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris, yang sejak lama berupaya mempertahankan pengaruh geopolitik di Afrika melalui dukungan politik, tekanan ekonomi, dan kerja sama dengan aktor lokal.

Negara-negara seperti Zionis dan Uni Emirat Arab (UEA) juga terlibat melalui penyelundupan emas dan dukungan logistik yang memperpanjang konflik.

Menurut laporan Chatham House, sebagian besar emas Sudan tidak tercatat dan justru menjadi sumber pendanaan perang. artinya, kekayaan yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan rakyat malah berubah menjadi bahan bakar pertikaian.

Sudan pun menjadi contoh bagaimana negeri muslim yang kaya sumber daya dijaga dalam kondisi tidak stabil agar mudah dikendalikan.

Dalam konteks inilah terlihat bahwa krisis Sudan tidak lepas dari dominasi sistem global berlandaskan ideologi sekuler kapitalis yang menempatkan keuntungan dan penguasaan sebagai tujuan utama.

Lembaga internasional dan mekanisme global seringkali berjalan sesuai kepentingan negara-negara adidaya, bukan demi kemaslahatan umat.

Karena itu, penderitaan Sudan bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan bagian dari pola besar penjajahan modern yang menimpa banyak negeri muslim.

Umat Islam harus menaikkan cara pandang terhadap konflik seperti Sudan. masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan sekadar diplomasi lokal atau bantuan kemanusiaan. Dibutuhkan kesadaran ideologis bahwa ada pertarungan besar antara peradaban Islam dan peradaban sekuler kapitalis yang berusaha menancapkan dominasinya.

Kesadaran ini akan menuntun umat untuk memahami bahwa solusi hakiki bukanlah bergantung pada lembaga internasional atau intervensi negara asing.

Solusi yang benar hanya dapat diwujudkan melalui penerapan sistem Islam secara menyeluruh dalam bingkai persatuan Islam global. Persatuan Islam global di bawah satu bendera islam ini memiliki mekanisme politik untuk menyatukan negeri-negeri muslim, mekanisme ekonomi untuk mengelola kekayaan alam secara mandiri, serta mekanisme keamanan yang mampu menjaga umat dari dominasi asing.

Dengan demikian umat Islam di bawah satu kepemimpinan, kekayaan seperti emas Sudan tidak akan lagi menjadi sumber perang, tetapi menjadi sumber kesejahteraan.

Persatuan ini adalah keniscayaan yang harus diperjuagkan. Tanpanya umat Islam akan terus terjajah, terpecah dan menderita. sudan hari ini adalah cermin bagi seluruh negeri muslim: Bila umat tidak bersatu, maka musuh akan selalu mendapatkan celah untuk menguasai dan menghancurkan.[]

Comment