Bunuh Diri Anak Sekolah, Cermin Kegagalan Sistem Kapitalis Sekuler

Opini334 Views

Penulis: Muflihana, S.Pd | Guru dan Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 anak di Indonesia mengakhiri hidupnya sepanjang tahun 2025. Fenomena tragis ini bukan sekadar persoalan individu atau lemahnya kesehatan mental, melainkan cermin retaknya sistem kehidupan kapitalis sekuler yang hari ini mengatur masyarakat.

Dalam kurun sebulan terakhir saja, terjadi tiga kasus bunuh diri yang mengejutkan publik. Di Sukabumi, seorang siswi SMP bernama Eneng ditemukan meninggal akibat perundungan yang ia alami.

Di Sawahlunto, Bagindo, siswa SMP, juga ditemukan tewas dengan cara yang sama; penyebabnya masih dalam pengusutan.

Masih di daerah yang sama, Arif, remaja 15 tahun, mengakhiri hidup di ruang OSIS setelah mengalami putus cinta. Rangkaian tragedi ini menegaskan adanya krisis makna hidup dan tekanan sosial yang kian menjerat generasi muda.

Fenomena ini tidak dapat dipandang sempit sebagai akibat bullying atau tekanan akademik semata. Di baliknya, tersimpan potret generasi yang rapuh secara kepribadian, mudah goyah menghadapi tekanan hidup, kehilangan arah ketika gagal memenuhi standar sosial, dan tak memiliki kekuatan menahan diri saat dihantam kesulitan.

Kerapuhan ini berakar dari lemahnya fondasi akidah yang ditanamkan dalam pendidikan modern. Sistem pendidikan hari ini menonjolkan capaian akademik dan keterampilan teknis, sementara dimensi keimanan hanya menjadi materi teoretis tanpa penghayatan.

Agama diposisikan sebagai pelajaran tambahan, bukan sebagai kerangka nilai yang membentuk cara berpikir dan bersikap anak.

Akibatnya, banyak remaja tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi kosong secara ruhiyah—tidak memahami tujuan hidup, tidak siap menghadapi ujian, dan kehilangan pegangan ketika didera masalah.

Paradigma kedewasaan ala Barat turut memperparah masalah. Anak dianggap dewasa pada usia 18 tahun, menyebabkan mereka yang sudah balig tetap diperlakukan seperti anak kecil, tanpa diarahkan untuk memikul tanggung jawab moral dan spiritual.

Padahal dalam Islam, baligh adalah titik awal seseorang memikul amanah sebagai hamba Allah.

Bunuh diri hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang lebih besar: tekanan ekonomi keluarga, konflik rumah tangga, perceraian, hingga tuntutan gaya hidup konsumtif yang diproduksi budaya kapitalistik.

Semua ini menunjukkan bahwa problem mental remaja tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari sistem sosial yang rusak, yakni kapitalisme yang meniadakan jaminan kesejahteraan, arah hidup, dan ketenangan batin.

Di sisi lain, paparan media sosial yang tak terkendali memperburuk keadaan. Berbagai konten menormalisasi depresi bahkan bunuh diri. Remaja yang labil mudah terseret arus ini, mencari pengakuan dalam kesedihan, bukan solusi dalam iman.

Islam hadir membawa solusi yang menyentuh akar persoalan. Akidah merupakan fondasi seluruh proses pendidikan—di rumah, sekolah, dan masyarakat. Anak sejak dini diarahkan untuk mengenal Tuhannya, memahami tujuan hidup, dan melihat setiap kesulitan sebagai ujian yang menguatkan, bukan alasan untuk berputus asa.

Sistem pendidikan Islam membentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami, melahirkan generasi yang kuat secara ruhiyah dan matang secara akal. Sejak balig, anak dibimbing untuk menjadi pribadi yang aqil, mampu mengendalikan diri dan memikul tanggung jawab.

Dalam masyarakat Islam, penerapan syariat menjamin kebutuhan pokok rakyat, mengokohkan keluarga, dan memberikan arah hidup yang jelas sesuai fitrah penciptaan.

Kurikulum pendidikan Islam sebagaimana diterapkan dalam sistem Khilafah, tidak hanya menekankan ilmu pengetahuan, tetapi juga penguatan karakter, iman, dan kepribadian.

Karena pada akhirnya, generasi yang teguh akidahnya tidak akan runtuh oleh tekanan hidup. Mereka tahu untuk apa mereka hidup, dan kepada siapa mereka kembali. Allahu a’lam bish-shawab.[]

Comment