by

Dahsyatnya Pengaruh Sholat Terhadap Kepribadian Dan Jiwa Seorang Muslim

-Opini-10 views

 

 

Oleh Lilis Sulistyowati, S.E, Pemerhati Sosial

_________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sholat merupakan amalan pertama yang akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban. Akan tetapi banyak kaum muslimin yang meninggalkan sholat tersebut. Bahkan ada yang sholat akan tetapi mereka masih melakukan perbuatan yang melanggar norma agama. Lalu bagaimanakah sebenarnya kedudukan sholat sehingga mampu mencegah perbuatan keji dan munkar?

Dalam surat Al Ankabut ayat 45 Allah berfirman ;

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya: “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Melansir dari tafsir Al Quran Kementerian Agama RI, ayat di atas menjelaskan mengenai perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk selalu membaca dan memahami Al Quran. Perintah ini tentunya juga diteruskan kepada seluruh umat muslim.

“Setelah memerintahkan membaca, mempelajari, dan melaksanakan ajaran-ajaran Al-Qur’an, maka Allah memerintahkan agar kaum Muslimin mengerjakan salat wajib, yaitu salat lima waktu,” tulis Kemenag.

Menurut tafsir Ibnu Katsir,
“Salat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar”.

Artinya, sholat dapat menjadi pengekang diri bagi seseorang dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut. Sekaligus mendorong seseorang untuk menghindarinya.

Salah satu hadits yang diungkap oleh Ibnu Katsir yang mendukung pernyataan di atas. Rasulullah SAW menyebut seseorang yang jauh dari Allah SWT adalah orang yang tetap melakukan perbuatan keji dan mungkar meskipun amalan sholatnya terus dikerjakan. Bisa dikatakan bahwa sholat terus tapi maksiat jalan.

Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Barang siapa yang salatnya tidak dapat mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka salatnya itu tidak lain makin menambah jauh dirinya dari Allah,”

Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa ” Dalam sholat itu mengandung tiga perkara yang mendorong seseorang untuk selalu mengerjakan kebajikan. Tiga perkara yang dimaksud adalah ikhlas, khusyuk, dan zikrullah (mengingat Allah).”

Ikhlas artinya mendorong untuk mengerjakan perkara baik yakni mencari ridho Allah SWT.

Khusyuk sebagai pencegah diri dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.

Dzikrullah yang dilakukan dengan membaca Al Quran dalam mengaplikasikan amar makruf.

Lalu sebenarnya apa saja perbuatan keji dan munkar dan bagaimana agar sholat bisa menjadi benteng agar kita tidak melakukanya?

Sholat Benteng dari Perbuatan Keji dan Munkar

Perbuatan keji diistilahkan dengan al-fakhsya’. Perbuatan al-fakhsya’ dalam kamus Alquran diartikan sebagai dosa yang sangat jelek. Dalam kitab Tafsir al-Maraghi (2006:170) disebutkan, bahwa al-fakhsya’ adalah ucapan dan perbuatan yang jelek seperti zina, mabuk, rakus, mencuri, dan perbuatan tercela lainnya. (republika.co.id)

Sedangkan munkar dilihat dari .segi bahasa, kata munkar senada dengan kata ingkar, yang artinya menolak atau mengingkari. Kata Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Tafsirnya (1997:220), munkar adalah perbuatan yang dilarang oleh syara’ (ajaran Islam) dan dianggap jelek oleh akal sehat. Sedangkan menurut Al-Maraghi (2006:170), munkar adalah perbuatan yang diingkari oleh akal seperti rasa marah yang kuat, memukul, membunuh, dan bersikap congkak di hadapan orang lain. Perbuatan ini sudah barang tentu semuanya ditolak oleh akal sehat dan tidak dibenarkan oleh agama.
Betapa banyaknya perbuatan keji dan munkar berseliweran di hadapan kita. Adanya bunuh diri akibat depresi, adanya laki-laki dan perempuan yang suka bahkan menikah dengan sesamanya. Adanya pencurian, perzinahan, pembunuhan dari janin yang belum lahir hingga ulama yang sangat mulia. Saat ini semua terjadi dan Allah pun menegur kita dengan berbagai kerusakan termasuk bencana alam.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

(QS Ar-Rûm: 41)

Berbagai kerusakan atau bencana yang terjadi merupakan ulah tangan manusia. Pernyataan awal pada ayat ini menegaskan bahwa manusialah yang telah mendapat mandat menjadi khalifah di bumi. Segala hal yang terjadi di muka bumi tidak lepas dari campur tangan manusia. Akhirnya terjadilah bencana itu, yang oleh Allah di akhir ayat ini dijadikan sebagai warning (peringatan) bagi manusia. Agar manusia kembali ke jalan yang benar sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan alam semesta.

Kembali ke Jalan yang Benar

Kembali ke jalan yang benar sama seperti do’a di dalam Alfatihah yang memohon agar diberi jalan yang lurus pada ayat 6. Kata shiratal mustaqim (jalan yang lurus) ini, paling tidak tersebar dalam 50 ayat di dalam Alquran. Sesuatu yang perlu diperhatikan, apalagi setiap melaksanakan shalat kata shiratal mustaqim ini selalu dibaca. Bahkan sering didengar tentang cerita shiratal mustaqim ini sebuah jembatan menuju surga yang melewati neraka. Tetapi bukan jembatan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan shiratal mustaqim yang terkait dengan agama.

Ini penting diketahui mengingat banyaknya agama yang berlalu lalang tiap hari yang didaku sebagai agama langit atau berasal dari Tuhan dan bukan budaya manusia. Lalu dari berbagai agama tersebut, manakah yang termasuk agama yang lurus sebagai jawaban dari doa yang diajarkan lewat Alquran itu.

Beberapa ayat-ayat yang terkait dengan shiratal mustaqim ini menunjukkan agama yang lurus adalah agama Ibrahim. Salah satu ayat yang menunjukkan hal ini adalah surat Al An’am ayat 161. Kemudian pada ayat berikutnya diterangkan sejumlah ciri-ciri agama Ibrahim yang lurus itu (QS Al An’am ayat 162-163).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”.(161). “Katakanlah. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (162). Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama (Muslimin) menyerahkan diri (kepada Allah)” (163). (QS Al An’am 161-163).

Dari ayat di atas jelas bahwa agama yang benar, agama yang lurus adalah agama Ibrahim. Pemeluk agama Ibrahim ini bercirikan, menjalankan shalat dan beribadah hanya untuk Allah. Demikian juga dengan hidup dan matinya hanya untuk Allah. Pemeluk agama Ibrahim juga tiada menyekutukan Allah. Lalu siapa nama pemeluk agama Ibrahim ini, disebutkan dalam Al An’am ayat 163 sebagai al-muslimin.

Karenanya jelas bahwa pemeluk agama Ibrahim adalah Muslim, dan agamanya disebut Islam. Itulah Islam jalan lurus. Jadi sebetulnya, Islam ini bukan hanya agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW tetapi juga dibawa nabi-nabi sebelumnya.  Ini dapat dilihat dalam Alquran surat Al Hajj ayat 78 : “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. ” (Al Hajj 78).

Seperti inilah gambaran bahwa sesungguhnya ketika kita menjalankan sholat dengan benar kita akan menjauhi perbuatan yang keji dan munkar. Dan berusaha berpegangteguh pada jalan yang benar atau lurus yakni Islam. Bukan Islam abu – abu, Islam moderat atau Islam liberal dan Islam – Islam yang lain. Wallahu’alam bi sowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita