Penulis: Fathimatul Ajizah, S.Sos Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kita hidup di era serba digital. Setiap hari, jari tak berhenti scrolling TikTok, menonton video yang lucu, menyentuh, bahkan membuat menangis. Tapi anehnya, semakin sering online, semakin terasa sepi.
Fenomena ini bahkan menjadi kajian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY yang menyebutnya lonely in the crowd—sepi di tengah keramaian. Di dunia maya, interaksi tampak ramai, tetapi dalam kenyataan, banyak orang justru minim sentuhan sosial yang nyata.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena media sosial telah membentuk dunia hiperrealitas—realitas buatan yang terasa lebih “nyata” daripada kehidupan sebenarnya.
Emosi kita mudah sekali dibentuk oleh algoritma: melihat konten sedih, ikut sedih; melihat orang insecure, malah ikut minder. Sementara itu, kehidupan nyata di sekitar kita sering terabaikan.
Masalahnya bukan sekadar soal literasi digital atau kemampuan mengatur waktu layar (screen time). Lebih dari itu, media sosial telah menjadi bagian dari industri kapitalistik yang memang dirancang untuk membuat kita kecanduan.
Tujuannya bukan menyehatkan mental kita, tapi mengejar keuntungan semata. Akibatnya, banyak orang berubah menjadi asosial. Nongkrong dengan teman, tapi sibuk menatap layar. Kumpul keluarga, tapi hati terasa jauh.
Yang paling mengkhawatirkan adalah dampaknya bagi generasi muda. Mereka yang seharusnya penuh energi dan semangat untuk berkarya demi umat, justru terjebak dalam pusaran kesepian dan kehilangan arah hidup. Jika terus dibiarkan, umat akan kehilangan generasi yang mestinya menjadi tulang punggung peradaban.
Di sinilah Islam menawarkan jalan keluar. Solusinya bukan sekadar “detoks digital” atau tips mengurangi waktu layar, melainkan kembali kepada identitas sejati sebagai Muslim.
Islam mengajarkan adab berinteraksi, menjaga ukhuwah, dan menetapkan orientasi hidup yang jelas—bukan mencari validasi lewat likes dan views, tetapi mencari ridha Allah.
Negara pun memiliki peran penting. Pengelolaan dunia digital seharusnya diarahkan untuk dakwah, pendidikan, dan karya yang membangun peradaban, bukan hanya menjadi arena hiburan kosong yang menjauhkan manusia dari fitrahnya.
Selama sistem sekuler-liberal masih mendominasi, manusia akan terus menjadi korban—ramai di dunia maya, tapi sepi di dunia nyata.
Islam hadir bukan sekadar untuk menyembuhkan kesepian itu, tetapi juga membangkitkan generasi yang kuat, produktif, dan peduli pada sesama.[]









Comment