RADARINDONESIANEWS.COM, TANAH BUMBU – Apa yang awalnya sekadar hobi menanam, kini berubah menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi Sri Purwanti, warga Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Bermula dari lahan kosong yang gagal dijadikan rumah, ia bersama sang suami justru menemukan peluang baru lewat tanaman kemangi.
Sri yang sehari-hari bekerja sebagai sanitarian di sebuah rumah sakit swasta itu menuturkan, keputusan menanam kemangi berawal pada 2017. Saat itu, rencana membangun rumah di sebidang tanah yang mereka miliki tidak mendapat restu orang tua. Alih-alih kecewa, lahan tersebut dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
“Awalnya hanya coba-coba menanam cabai, kangkung, dan sawi. Ternyata yang paling laris kemangi. Banyak yang cari, dari tetangga sampai warung makan,” kata Sri kepada Radar Indonesia News, Jumat (29/8/2025).
Permintaan kemangi semakin meningkat. Kini, hasil panen Sri dipasok secara rutin ke dua pasar di Kecamatan Simpang Empat. Dari penjualan setiap pekan, ia mendapat tambahan penghasilan cukup signifikan. Sebagian hasil itu digunakan untuk menopang operasional Rumah Baca Cahaya Ilmu yang ia dirikan.
“Bagi saya, pertanian, kesehatan, dan literasi saling berkaitan. Anak-anak butuh gizi dari makanan sehat, sekaligus nutrisi dari bacaan,” ujarnya.
Langkah Sri di dunia pertanian semakin mantap setelah pada 2024 ia terpilih sebagai penerima hibah kompetitif Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) dari Kementerian Pertanian RI bekerja sama dengan IFAD.
Melalui hibah tersebut, Sri berencana memperluas usaha, memperbaiki sistem irigasi, dan mengembangkan produk turunan kemangi. “Kalau ada dukungan, kenapa tidak? Kemangi bisa jadi komoditas unggulan Tanah Bumbu,” katanya.
Kepercayaan masyarakat juga datang. Seorang kawan mempersilakan Sri mengelola lahannya tanpa meminta bagi hasil. Kesempatan itu ia sambut sebagai peluang memperbesar produksi sekaligus membuka lapangan kerja.
Kisah Sri menjadi bukti bahwa pertanian tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan inovasi dan manajemen tepat, hobi menanam bisa memberi dampak ekonomi dan sosial.
“Bertani itu bukan cuma mencangkul. Sekarang banyak teknologi yang memudahkan. Ada ilmu kesabaran, keikhlasan, hingga strategi pemasaran yang bisa dipelajari. Generasi muda harus berani melihat pertanian dengan cara baru,” ucapnya.
Sri berharap, anak-anak di rumah baca binaannya bisa menumbuhkan dua kecintaan: pada ilmu dan pada tanah. “Tanah yang kita rawat akan memberi makan, dan buku yang kita baca akan memberi arah,” katanya.[]














Comment