Penulis: Alfira Khairunnisa | Aktivis IDARI – Ikatan Daiyah Riau
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Datangnya bulan Dzulhijjah kembali mengingatkan umat Islam pada kisah agung dua hamba pilihan Allah SWT, yakni Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Dari perjalanan hidup keduanya, umat Islam diajarkan tentang makna ketundukan, pengorbanan, dan ketaatan total kepada Allah SWT.
Melalui perintah-Nya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Baitullah dengan penuh keikhlasan seraya memanjatkan doa agar amal mereka diterima. Allah SWT berfirman:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan fondasi Ka’bah bersama Ismail seraya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah: 127).
Ka’bah yang dibangun itu kemudian menjadi pusat ibadah haji bagi kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia.
Haji merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu. Di balik rangkaian manasiknya, tersimpan nilai besar tentang kepatuhan, pengorbanan, dan persatuan umat. Allah SWT berfirman:
“Serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus dari setiap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).
Haji sebagai Bukti Ketaatan kepada Allah
Seluruh rangkaian ibadah haji mengajarkan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Banyak ritual dalam ibadah haji yang tidak selalu dapat dipahami sepenuhnya oleh logika manusia. Justru di situlah letak ujian keimanan seorang hamba.
Kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan keluarganya di lembah tandus Makkah hingga kesediaannya menyembelih Nabi Ismail menjadi simbol puncak kepatuhan terhadap perintah Allah SWT. Haji menegaskan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total kepada kehendak Ilahi. Sebagaimana firman-Nya:
“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196).
Haji Mengajarkan Makna Pengorbanan
Ibadah haji juga mengandung pelajaran besar tentang pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah SWT.
Pakaian ihram yang sederhana meleburkan seluruh status sosial, kekayaan, dan kebanggaan duniawi. Semua jamaah berdiri setara di hadapan Allah SWT tanpa perbedaan jabatan maupun kedudukan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa berhaji karena Allah tanpa berkata keji dan berbuat fasik, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses penyucian jiwa melalui keikhlasan dan pengorbanan.
Haji dan Persatuan Umat Islam
Di Arafah, Mina, hingga Masjidil Haram, jutaan Muslim dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit berkumpul dalam tujuan yang sama: menyembah Allah SWT.
Tidak ada sekat suku, ras, jabatan, maupun kebangsaan. Semua mengenakan pakaian yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan tunduk kepada Rabb yang sama. Inilah gambaran nyata persatuan umat Islam.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Semangat persatuan dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan semata. Nilai tersebut perlu melahirkan kesadaran kolektif umat dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga politik.
Potret Umat Islam di Tengah Realitas Dunia
Sejarah mencatat, ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan dan visi peradaban, lahirlah kekuatan besar yang disegani dunia. Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menyebut bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran umat sebagai satu komunitas global yang dipersatukan oleh akidah dan syariat.
Namun, kondisi dunia Islam hari ini justru menunjukkan realitas yang berbeda. Konflik politik, nasionalisme sempit, sektarianisme, hingga kepentingan geopolitik global membuat persatuan umat semakin rapuh.
Krisis kemanusiaan di Gaza menjadi contoh nyata bagaimana umat Islam masih menghadapi persoalan besar dalam membangun solidaritas politik dan kemanusiaan. Ribuan warga sipil menjadi korban, infrastruktur hancur, dan penderitaan berkepanjangan terus berlangsung.
Sebagaimana ditulis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional, konflik berkepanjangan di Gaza telah menyebabkan tingginya korban sipil serta kerusakan fasilitas publik dalam skala besar.
Di sisi lain, dinamika geopolitik Timur Tengah juga semakin kompleks dengan keterlibatan berbagai kekuatan regional dan global yang memiliki kepentingan berbeda-beda.
Menuju Kebangkitan Umat Islam
Karena itu, momentum haji dan kurban seharusnya menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk kembali memperkuat ukhuwah dan persatuan.
Jutaan Muslim yang berkumpul di Tanah Suci menunjukkan bahwa umat Islam sejatinya memiliki potensi besar sebagai kekuatan peradaban dunia.
Dengan populasi lebih dari dua miliar jiwa serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah, umat Islam memiliki modal besar untuk bangkit apabila mampu membangun persatuan dan visi bersama.
Allah SWT berfirman:
“Berpegang teguhlah kamu semua pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Di Indonesia, persatuan umat juga perlu terus dijaga di tengah perbedaan pandangan politik, organisasi, maupun mazhab. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan perpecahan yang melemahkan kekuatan umat.
Perjuangan memperbaiki kondisi masyarakat hendaknya dilakukan melalui dakwah, pendidikan, penguatan ekonomi umat, dan kesadaran politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Semangat haji dan kurban harus menjadi energi moral untuk membangun peradaban yang lebih adil, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa menolong dan meridhai perjuangan umat Islam di seluruh dunia dalam meraih persatuan dan kebangkitan peradaban Islam. Wallaahu a’lam bish-shawaab.[]










Comment