Dari Ruang Kelas ke Masa Depan Bangsa: Strategi Pembelajaran untuk Pendidikan Indonesia

Opini57 Views

 

Penulis: Dita Ayu Nur Afrilia | Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Pendidikan di Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kebijakan pendidikan hadir dengan semangat pembaruan, mulai dari digitalisasi sekolah hingga penerapan Kurikulum Merdeka.

Namun, di balik dinamika tersebut, pertanyaan mendasar tetap muncul: apakah proses pembelajaran di kelas sudah benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik?

Di sinilah strategi pembelajaran memegang peran penting sebagai penentu arah dan kualitas pendidikan.
Realitas pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa tantangan tidak hanya terletak pada kurikulum atau sarana prasarana, tetapi juga pada praktik pembelajaran sehari-hari.

Di banyak sekolah, pembelajaran masih berpusat pada guru, dengan penekanan kuat pada penyampaian materi dan pencapaian nilai. Pola ini membuat peserta didik cenderung pasif dan kurang memiliki ruang untuk berpikir kritis, berekspresi, serta mengembangkan potensi diri.

Strategi pembelajaran merupakan kunci untuk mengubah wajah pendidikan Indonesia. Strategi pembelajaran tidak sekadar memilih metode mengajar, tetapi mencakup cara guru merancang pengalaman belajar agar bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan peserta didik.

Guru dituntut untuk memahami bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, gaya belajar, dan kemampuan yang berbeda.

Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan secara luas sejak 2022 sejatinya memberikan peluang besar bagi guru untuk berinovasi. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, penguatan karakter, serta pengembangan kompetensi abad ke-21.

Namun, kebebasan tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Tanpa pemahaman strategi pembelajaran yang matang, pembelajaran berisiko hanya berganti istilah tanpa perubahan substansial di kelas.

Strategi pembelajaran seperti project based learning, problem based learning, dan pembelajaran berbasis konteks lokal sangat relevan diterapkan di Indonesia. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi dilatih untuk mengamati, menganalisis, dan mencari solusi atas permasalahan nyata di sekitarnya.

Pembelajaran semacam ini mendorong siswa menjadi pembelajar aktif sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial.

Selain itu, perkembangan teknologi pascapandemi juga memengaruhi strategi pembelajaran. Pembelajaran daring dan hibrida telah membuka wawasan baru tentang pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Namun, kesenjangan akses dan literasi digital masih menjadi persoalan serius.

Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus bersifat adaptif. Guru perlu kreatif memadukan teknologi dengan pendekatan sederhana yang tetap berpusat pada interaksi dan proses belajar, bukan semata pada perangkat digital.

Pendidikan Indonesia membutuhkan strategi pembelajaran yang lebih humanis. Guru tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu membangun relasi yang positif dengan peserta didik.

Pembelajaran seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Proses belajar yang menghargai usaha dan refleksi akan membentuk kepercayaan diri dan motivasi intrinsik siswa.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran aktif berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah peserta didik (Siregar & Nara, 2020).

Selain itu, pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata terbukti meningkatkan keterlibatan belajar serta pemahaman jangka panjang (OECD, 2021).

Temuan ini menegaskan bahwa strategi pembelajaran bukan pelengkap kurikulum, melainkan fondasi utama keberhasilan pendidikan.

Ke depan, pendidikan Indonesia dihadapkan pada tantangan globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial yang cepat. Sekolah tidak lagi cukup hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang adaptif, berkarakter, dan mampu belajar sepanjang hayat.

Dalam konteks ini, guru memiliki peran strategis sebagai agen perubahan melalui pembelajaran yang reflektif dan inovatif.

Pada akhirnya, perbaikan pendidikan Indonesia dapat dimulai dari ruang kelas. Melalui strategi pembelajaran yang tepat, guru dapat menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia seutuhnya.

Masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada keberanian guru untuk terus belajar, berinovasi, dan menempatkan peserta didik sebagai pusat dari setiap proses pembelajaran.

Dengan komitmen tersebut, pendidikan tidak hanya menjadi kewajiban formal, melainkan proses pembebasan yang memanusiakan manusia dan relevan dengan tantangan nyata kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.[]

Daftar Referensi
Kemendikbudristek. (2022). Kurikulum Merdeka: Panduan Pembelajaran dan Asesmen. Jakarta.
• OECD. (2021). 21st-Century Readers: Developing Literacy Skills in a Digital World. Paris: OECD Publishing.
• Siregar, E., & Nara, H. (2020). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.
• UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris.

Comment