Dr. Shamsi Ali, LC, M.A PhD: Dunia Islam Punya Potensi Besar, Tapi Lemah oleh Politik dan Perpecahan

Internasional550 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Direktur Jamaica Muslim Center sekaligus Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali, menilai dunia Islam sejatinya memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan global. Namun, berbagai kelemahan internal membuat umat Islam justru berada dalam posisi lemah dan kerap diperlakukan semena-mena di panggung internasional.

“Ada paradoks besar yang dialami dunia Islam. Di satu sisi, umat Islam memiliki potensi luar biasa. Tapi di sisi lain, justru lemah dan tak berdaya menghadapi tekanan negara-negara kuat secara ekonomi dan militer,” kata Shamsi Ali dalam tulisannya bertajuk Kekuatan, Kelemahan, dan Harapan Terhadap Dunia Islam yang dirilis ke Radar Indonesia News, Rabu (11/2/2026).

Menurut Shamsi, dunia Islam saat ini tengah menghadapi berbagai krisis serius, mulai dari perang global, kekacauan politik, krisis ekonomi, hingga krisis spiritual dan moral. Kondisi tersebut, kata dia, membuat situasi umat Islam “cukup menyedihkan dan bahkan menyakitkan”.

Ia menyoroti kecenderungan sebagian umat Islam yang terlalu bergantung pada pihak luar dalam menyelesaikan persoalan global, termasuk konflik Palestina.

“Sangat disayangkan, berbagai persoalan umat sering kali hanya menunggu belas kasih dan pertolongan pihak lain, khususnya Amerika. Padahal, solusi seharusnya bertumpu pada kekuatan umat itu sendiri,” ujarnya.

Padahal, Shamsi menegaskan, dunia Islam memiliki modal besar untuk tampil sebagai blok kekuatan global. Ia menyebut sedikitnya ada 57 negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan jumlah populasi sekitar dua miliar jiwa.

Selain itu, wilayah dunia Islam disebut menyimpan lebih dari 50 persen sumber daya alam dunia, mulai dari minyak, emas, hingga kekayaan bahari.

“Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bahkan merupakan organisasi terbesar kedua di dunia setelah Gerakan Non-Blok dalam struktur PBB,” kata Shamsi.

Selain faktor demografi dan sumber daya, Shamsi juga menilai kekuatan utama umat Islam terletak pada ajaran agamanya.

“Kekuatan terbesar umat Islam sejatinya ada pada petunjuk hidup yang jelas, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui dunia Islam masih dibelit berbagai kelemahan mendasar. Salah satunya adalah lemahnya sistem dan institusi politik. Menurut Shamsi, politik di banyak negara Muslim kerap dikendalikan oleh elite yang tidak kapabel, bahkan dikuasai oleh segelintir keluarga atau kelompok.

Selain itu, ia menyoroti buruknya tata kelola ekonomi di negara-negara Islam.

“Kekayaan alam yang melimpah sering kali tidak dikelola untuk kesejahteraan rakyat, tetapi justru dikuasai oleh segelintir elite melalui kolaborasi jahat antara pemodal dan penguasa,” katanya.

Kelemahan lain yang tak kalah serius adalah sistem hukum yang rapuh, maraknya korupsi, serta perpecahan internal umat.

Menurut Shamsi, perpecahan menjadi akar kelemahan paling mendasar yang membuat penderitaan umat Islam, termasuk di Gaza, terus berulang.
Ia juga menyinggung adanya kebingungan dalam memosisikan agama dalam kehidupan publik.

“Banyak yang setengah hati menjadikan Islam sebagai petunjuk hidup. Bahkan, agama kerap dijadikan alat kepentingan sesaat,” ujar dia.

Untuk keluar dari kondisi tersebut, Shamsi menawarkan sejumlah langkah perbaikan. Di antaranya adalah komitmen tulus terhadap ajaran agama, penguatan persatuan umat, reformasi institusi publik, pemulihan rasa percaya diri, serta membangun kemandirian umat.

“Dunia Islam harus membangun kerja sama internal yang kuat dan menghindari ketergantungan berlebihan pada pihak-pihak yang tidak berpihak, bahkan bermusuhan,” kata Shamsi.

Ia meyakini, dengan langkah-langkah tersebut, dunia Islam dapat bangkit dan memainkan peran yang lebih berpengaruh dalam politik global.[]

Comment