Dream Big, Work Bigger , Membongkar Mental Lazy Ambitious 

Opini40 Views

 

Penulis: Vie Dihardjo | Guru Bimbingan Konseling

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Pernahkah kita bertanya, apakah kita benar-benar mengejar mimpi? Atau sekedar menyukai bayangan kesuksesan? Mimpinya besar, tetapi langkahnya tidak pernah benar-benar dimulai.

Ingin hasil besar tapi enggan melewati proses, ingin pencapaian tapi menghindari perjuangan, ingin juara tapi menolak berlatih. Masalahnya bukan pada mimpinya, mimpi adalah awal perubahan, yang perlu diperbaiki adalah cara memperbaiki mimpi tersebut.

Sebuah kondisi di mana seseorang memiliki ambisi yang tinggi tapi tidak diiringi dengan kemauan bertumbuh, disiplin, dan berusaha. Ini disebut Lazy Ambitious. Seorang lazy ambitious akan berkata “nanti saja kalau sudah siap”, atau “aku ingin sukses tapi jalannya terlalu sulit’, bahkan ingin hebat tapi tidak ingin gagal.

Padahal tidak ada juara lahir tanpa latihan, tidak ada pencapaian tanpa pengorbanan, dan tidak ada pertumbuhan tanpa proses. Benih yang ingin menjadi pohon besar harus menembus tanah, kupu-kupu harus melewati fase ulat sebelum mengembang sayap yang cantik, begitupun manusia harus melewati tantangan sebelum muncul versi terbaik dirinya.

Di era serba cepat seperti hari ini, anak muda, genz hingga gen alpha tumbuh dengan berbagai kemudahan, informasi dalam genggaman, inspirasi datang dari berbagai arah, dan peluang seakan terbuka semakin luas.

Namun di balik berbagai kemudahan itu ada tantangan lazy ambitious yang menyusup dan mewarnai cara berpikir mereka, ingin sukses, terkenal, memiliki pencapaian luar biasa tapi tidak siap menjalani proses yang panjang.

Mereka bukan tidak memiliki potensi, justru banyak dari mereka memiliki ide kreatif, kemampuan digital dan keberanian bermimpi tinggi, dan tantangan yang harus diselesaikan adalah mengubah potensi menjadi prestasi melalui proses.

Bakat Besar Yang Kehilangan Arah

Jebakan budaya instan menyusup pada banyak anak muda. Mereka terbiasa melihat kesuksesan dalam bentuk akhir, pencapaian orang lain, pencapaian sempurna yang terlihat di media sosial, hasil tanpa melihat perjuangan dibaliknya.

Akibatnya proses dianggap lamban dan membosankan. Padahal Allah berfirman dalam Qur’an surat an-Najm ayat 39, ‘ Dan bahwasanya manusia tiada mendapatkan selain apa yang telah diusahakannya.’

Makna yang terkandung didalamnya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang ingin didapatkan, akan tetapi juga apa yang telah diupayakan.

Gen z dan gen alpha tidak kekurangan mimpi, namun mereka membutuhkan arah, karakter dan keberanian untuk berproses. Ironisnya, mereka menghadapi tantangan yang tidak mudah, ketika potensi mereka berkembang tanpa arah dan nilai yang kuat. Generasi muda sedang masuk dalam jebakan potensi dalam sekulerisme.

Dalam sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan, seringkali seseorang mengejar kesuksesan dan pengembangan diri hanya berdasarkan ukuran duniawi. Sementara tujuan hidup sebagai hamba Allah menjadi terpinggirkan.

Padahal Allah berfirman dalam Qur’an surat adz-Dzaariyat ayat 56, ‘ Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Anak muda bisa menjadi sangat pintar, kreatif dan berprestasi, namun ketika ukuran keberhasilan adalah popularitas, uang, jabatan dan pengakuan manusia, akan muncul pertanyaan ‘ untuk apa aku jadi herbat?’

Bakat dan kecerdasan yang luar biasa pada anak muda jika tanpa arah dan nilai yang benar akan mengarah pada pencapaian manfaat pribadi saja. Padahal sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.

Selan itu, sekulerisme juga menanamkan gagasan ‘ self made success’, ketika seseorang menyakini bahwa kesuksesannya berasal dari kemampuan dirinya sendiri, dan melupakan peran Allah dalam setiap prosesnya.

Jebakan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah ketika kemampuan tumbuh lebih cepat ketimbang karakter. Di era teknologi dan informasi begitu cepat, seseorang bisa lebih cepat mendapatkan kesuksesan dan pencapaian, namun jika tidak dibarengi dengan karakter yang baik, ibarat kendaraan tanpa rem, ia melaju tak terkendali, dan justru akan membahayakan banyak orang.

Seseorang bisa meraih prestasi tapi kehilangan adab, bisa pintar berbicara tetapi tidak bisa mengendalikan lisannya, bisa menjadi pemimpin tetapi tidak bisa mengendalikan egonya. Di sinilah potensi justru menjadi ujian.

Dream Big, Work Bigger, Menjadi Generasi Pejuang

Islam memandang kehidupan sebagai tempat bertumbuh dan berproses. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an surat al Balad ayat 4, ‘ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.’ Maknanya, hidup bukan hanya soal kesulitan, tetapi manusia memang diciptakan dengan proses agar semakin kuat.

Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk memiliki mimpi dan cita-cita yang tinggi dan mulia, akan tetapi juga kesungguhan untuk mewujudkannya. Bukan sekedar menunggu perubahan, tapi keberanian dan kekuatan untuk bergerak. Sebagaima firman Allah, ‘ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.’ (Qs.Ar Ra’d ayat 11).

Islam membangun generasi pejuang, yakni generasi yang kuat dalam prinsip, tangguh menghadapi tantangan dan siap memberikan manfaat, bukan hanya pada dirinya sendiri, melainkan juga pada orang lain. Karakter inilah yang akan mewarnai setiap mimpi generasi Islam.

Mental pantang menyerah yang juga dimiliki oleh para Nabi dan Rasul. Mereka menunjukkan bahwa perjuangan membutuhkan kesabaran, keteguhan dan keberanian.

Sebagaimana Allah berfirman, ‘ Maka tetaplah kamu di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu. ‘ (Qs.Hud ayat 112). Istiqomah adalah jalan pejuang, meski membutuhkan waktu dan proses yang tidak sebentar.

Perjuangan generasi muslim senantiasa diawali dengan tawakal, yakni menyerahkan segala urusan kepada Allah, bahkan sejak memulai usaha dan perjuangan, ia senantiasa melibatkan Allah. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, ‘ Ikatlah untamu dan bertawakallah’ (HR.Tirmidzi).

Pendidikan Islam menjadikan karakter adalah pondasi sebelum prestasi. Karena prestasi tanpa karakter seperti bangunan tinggi dan pondasi, terlihat megah tetapi mudah runtuh.

Generasi muda yang berkarakter akan belajar bahwa, keberhasilan membutuhkan kerja keras, kegagalan adalah bagian dari proses dan kemampuan harus digunakan secara benar sesuai dengan aturan Allah.

Para ulama terdahulu sangat memperhatikan adab dan karakter, karena masuknya ilmu ke dalam hati jika tidak didahului oleh adab yang baik, bisa menjadi sumber kesombongan. Sebagaimana Allah berfirman, ‘ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang palin bertaqwa.’ (Qs. Al Hujurat ayat 13)

Pada akhirnya, generasi hebat adalah generasi yang berkarakter, yang tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibentuk oleh tiga kekuatan besar, yaitu individu, masyarakat dan negara yang bekerja secara simultan.

Pembentukan karakter dimulai dari kesadaran individu, karena manusia memiliki tanggung jawab atas dirinya dan kelak akan bertanggungjawab di hadapan Allah (Qs.al Isra ayat 13).

Di saat yang sama, manusia tidak tumbuh sendirian, ia berada dalam lingkungan yang membentuk cara berfikir, kebiasaan dan nilai.

Sebagaimana Nabi ﷺbersabda, ‘ Seseorang mengikuti agama (kebiasaan) teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.’ (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Oleh karena itu, diperlukan lingkungan yang menghargai ilmu, membiasakan adab, peduli terhadap sesama hingga memberi contoh kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Negara memiliki peran menciptakan ekosistem yang melahirkan generasi kuat iman dan prinsipnya, cerdas, baik karakternya dan memberi manfaat seluas-luasnya, melalui kebijkaan kurikulum pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter, kebijakan informasi dan media yang bertanggungjawab, mendidik, memberi ruang bagi karya positif, dan melindungi generasi dari informasi merusak, juga sistem ekonomi yang memberi kesempatan berkembang, membuka peluang kerja dan mengurangi kesenjangan. Wallahu’alam bisshowab. []

Comment