RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pengamat Timur Tengah sekaligus mantan wartawan Harian Kompas untuk desk Timur Tengah, Musthafa Abdul Rahman, menilai dukungan internasional terhadap Palestina semakin menguat dan sulit dibendung. Menurut dia, pengakuan yang lebih luas terhadap negara Palestina hanya tinggal menunggu waktu.
Pernyataan itu disampaikan Musthafa dalam diskusi yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Islam Indonesia (Sajid) di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, 19 Juni 2026. Diskusi tersebut dipandu Ketua Sajid, Bachtiar Nasir, dan dihadiri sejumlah jurnalis Muslim dari berbagai media.
Dalam paparannya, Musthafa menyoroti dinamika geopolitik Timur Tengah pascaperang yang menurutnya akan ditentukan oleh persaingan kekuatan regional, terutama Iran, Turki, dan Israel.
Ia mengatakan, apabila Iran mampu memperkuat ekonomi, teknologi, dan kapasitas strategisnya dalam beberapa tahun ke depan, negara itu berpotensi menjadi faktor penting yang mendorong Israel menerima berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 dan 338 terkait wilayah pendudukan pasca-Perang 1967.
“Kalau Iran sukses membangun ekonominya, teknologinya, dan mampu bersaing dengan Israel dan Turki, maka akan muncul kekuatan baru yang bisa memaksa Israel menerima resolusi-resolusi internasional tersebut,” kata Musthafa.
Menurut dia, posisi Israel saat ini semakin tertekan di tingkat internasional. Sejumlah negara Barat yang selama ini dikenal dekat dengan Israel mulai menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap Palestina.
“Secara internasional Israel sudah terpojok. Dukungan terhadap negara Palestina sangat kuat, terutama di Eropa. Palestina kini telah diakui oleh banyak negara besar dunia,” ujarnya.
Musthafa juga berharap perundingan yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran dapat menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan. Stabilitas kawasan, kata dia, akan membuka peluang lahirnya Iran yang lebih kuat dalam bidang ekonomi dan teknologi.
Selain membahas isu geopolitik, Musthafa berbagi pengalaman selama hampir tiga dekade berkecimpung di dunia jurnalistik internasional. Ia mengenang visinya pendiri Kompas, Jakob Oetama, yang menginginkan kehadiran koresponden tetap di Timur Tengah agar pemberitaan kawasan tersebut dapat diperoleh langsung dari sumber utama.
“Saya bersyukur pernah diberi kesempatan hampir 20 tahun bersama Kompas dan ikut mewarnai pemberitaan internasional, khususnya Timur Tengah,” katanya.
Hegemoni Media Barat Mulai Bergeser
Dalam diskusi tersebut, Musthafa juga menyoroti perubahan lanskap media global. Menurut dia, dominasi media Barat dalam pemberitaan internasional mulai bergeser sejak hadirnya jaringan televisi Al Jazeera dari Qatar.
Sebelum kemunculan Al Jazeera, pemberitaan internasional banyak didominasi media Barat seperti CNN dan BBC. Kehadiran media asal Qatar itu, menurut Musthafa, menghadirkan sudut pandang alternatif yang mendapat perhatian luas dari masyarakat dunia, khususnya di Timur Tengah.
“Hegemoni media Barat terhadap pemberitaan internasional mulai berakhir setelah munculnya Al Jazeera. Pengaruhnya luar biasa dan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Timur Tengah,” ujarnya.
Ia menilai media-media di dunia Islam perlu terus diperkuat agar mampu menghadirkan perspektif yang lebih berimbang dalam pemberitaan internasional.
Sebagai jurnalis yang lama bertugas di Timur Tengah, Musthafa mengaku rutin mengikuti berbagai media Israel untuk memahami dinamika politik dan opini publik di negara tersebut.
“Saya membaca media Israel hampir setiap hari. Mereka sangat cepat dan profesional dalam pemberitaan. Kita harus memahami bagaimana mereka berpikir dan bagaimana lanskap politik mereka bekerja,” katanya.
Musthafa mencontohkan kebijakan Presiden Mesir Anwar Sadat setelah Perang Arab-Israel 1973 yang mendorong pembelajaran bahasa Ibrani di sejumlah perguruan tinggi Mesir sebagai bagian dari upaya memahami Israel secara lebih mendalam.
Menurut dia, pemahaman yang baik terhadap pihak lain merupakan bagian penting dalam membangun strategi politik, diplomasi, maupun media yang efektif di kawasan Timur Tengah.[]









Comment