by

Eno Fadli*: Ekonomi Islam Solusi Tahan Krisis Hadapi Resesi

-Opini-64 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dunia dihadapi pada ketidakpastian kapan virus Covid-19 akan berakhir, hingga memunculkan kekhawatiran di semua sektor, terutama pada sektor ekonomi.

Isu resesi yang mengancam negara-negara di dunia sudah santer terdengar. Kekhawatiran ini juga dirasakan pemerintah Indonesia, tampak dari beberapa kali Presiden Joko Widodo mengingatkan para menterinya akan ancaman yang terjadinya pada sektor ekonomi, yang bisa berujung pada resesi ekonomi.

Kekhawatiran pemerintah semakin meningkat, dengan adanya prediksi dari Dana Moneter Internasional (IMF) dalam rilis terbarunya yang berjudul A Crisis Like No Other, An Uncertain Recovery yang memprediksi PDB Indonesia akan minus 0,3% tahun ini, hal ini akan diperburuk jika infeksi virus Covid-19 semakin meningkat.

Resesi ekonomi terjadi ditandai dengan produksi domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif dalam dua kuartal atau lebih satu tahun. Dan menurut Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menyatakan, bahwa resesi ini juga dapat dilihat dari pendapatan masyarakat yang menurun, kemiskinan bertambah, penjualan khususnya motor dan mobil yang anjlok.

Resesi ekonomi juga dapat ditandai dengan sepinya mal-mal, berkurangnya tingkat produksi, bahkan di dunia perbankan sendiri ditandai dengan meningkatnya angka kredit macet atau sering disebut non performing loan (NPL). Sedangkan dalam pemerintahan sendiri, bisa dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah hutang, papar Tauhid, (Detik.com, 18/07/07).

Hal ini juga dirasakan pada aktivitas manufaktur dan penjualan ritel yang semakin merosot. Resesi akan mengakibatkan angka pengangguran semakin tinggi, akibat pemutusan hubungan kerja yang terjadi di mana-mana dan pastinya menimbulkan dampak krisis finansial. Jika situasi ini dibiarkan, skenario terburuk angka kemiskinan akan semakin bertambah.

Ancaman ini membuat para ahli angkat bicara, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan bahwa masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang, untuk menyiapkan dana darurat selama resesi, sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi ini benar-benar terjadi (Detik.com, 17/07/2020).

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Riset center of Reform on economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah “Masyarakat jangan boros dan harus menyiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan, serta menjaga kesehatan agar resesi tidak berkepanjangan”.

Bukannya tanpa sebab, negara-negara di dunia termasuk Indonesia sendiri diambang resesi. Negara Amerika Serikat (AS) saja sudah puluhan kali mengalami resesi sejak tahun 1854 terhitung sudah 33 kali terjadi resesi. Indonesiapun terakhir mengalaminya pada tahun 1998 yang lalu, dan kemungkinan kali ini sangat dalam karena akibat virus Covid-19 roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.

Resesi ekonomi yang sering berulang menandakan cacat bawaan dari ekonomi kapitalis. Ekonomi kapitalis yang dibangun dari sektor non riil melahirkan institusi pasar modal dan perseroan yang menjadikan saham sebagai komoditi, sektor ekonomi semu ini jelas-jelas rentan akan isu. Begitupun dengan penggunaan ekonomi moneter dunia yang menjadikan dolar sebagai alat ukur.

Melihat ini, bisa disimpulkan menghadapi resesi bukan hanya dicukupkan dengan anjuran menabung dan bersikap tidak boros, karena ini hanya merupakan solusi secara individual saja. Sedangkan resesi yang terjadi bersifat sistematis dan fundamental.

Untuk itu perlu solusi yang sistematis pula, yaitu dengan kembali kepada sistem ekonomi yang tahan krisis, ini hanya ditemui pada sistem ekonomi Islam.

Sistem ekonomi Islam berdasarkan sektor ekonomi riil, yang menjadikan dinar dan dirham sebagai tolak ukur, karena nilai intrinsik dua mata uang ini yang merupakan alat ukur yang adil, terukur dan stabil, sehingga dapat menghilangkan problem kelangkaan mata uang yang kuat serta dominasinya.

Dalam ekonomi Islam juga memperhatikan distribusi kekayaan, yang pengaturannya dapat dilihat dari pembagian kepemilikan, yang terdiri dari kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara, ini bertujuan agar tidak terjadi akumulasi harta kekayaan pada segelintir orang.

Sejalan dengan ini semua, dalam ekonomi Islam negara mendorong warga negaranya agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang bersangkutan serta memberi jaminan pemenuhan kebutuhan pokok mereka.

Jelas sudah, hanya dengan pengaturan perekonomian yang benarlah resesi ekonomi dapat dihindari, dan itu hanya dapat ditemui dalam sistem ekonomi Islam, sistem yang paripurna.Wallahu a’lam bishshawab.[]

 

*Pemerhati Kebijakan Publik

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + three =

Rekomendasi Berita