Esensi Pergantian Tahun: Bukan Baru, tetapi Tahun yang Semakin Menua

Opini51 Views

Penulis: Furqon Bunyamin Husein| Editor in Chief

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap akhir Desember, ruang-ruang publik di Indonesia dipenuhi hiruk-pikuk pergantian tahun. Jalanan macet, pusat perbelanjaan ramai, kembang api menghiasi langit malam, dan istilah “tahun baru” kembali diucapkan seolah-olah waktu benar-benar memulai hidupnya dari awal.

Namun, di balik euforia tersebut, ada satu kekeliruan persepsi yang telah lama mendarah daging dalam kesadaran kolektif masyarakat. Mereka menganggap bahwa pergantian tahun identik dengan kebaruan hidup – seolah setiap 1 Januari, manusia mendapatkan lembaran kosong yang sepenuhnya bebas dari beban masa lalu.

Kesalahan persepsi ini tidak sekadar bersifat istilah, tetapi memengaruhi cara individu memaknai hidup, menyusun harapan, dan menapaki masa depan. Tak jarang, refleksi diri direduksi menjadi resolusi singkat yang berumur pendek—lahir di awal tahun, lalu menguap sebelum pertengahan tahun tiba.

Padahal, waktu tidak pernah benar-benar memulai ulang dirinya. Ia terus berjalan, menumpuk, dan menua—bersama usia manusia dan perjalanan peradaban.

Tahun Berganti, Usia Bertambah

Jika dilihat secara sederhana dan logis, pergantian tahun justru menandai akumulasi waktu yang semakin besar. Angka tahun sebelumnya selalu lebih kecil dibanding tahun berikutnya. Tahun 2025 lebih kecil dari 2026. Ini bukan simbol kebaruan, melainkan penambahan usia zaman.

Dengan kata lain, semakin berganti tahun, dunia ini semakin tua—dan kita yang hidup di dalamnya pun ikut menua. Waktu bukanlah rangkaian titik nol yang terus diulang, melainkan satu alur panjang yang tidak pernah berhenti bergerak.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari masyarakat, kesadaran ini seharusnya terasa dekat. Setiap pergantian tahun berarti usia bertambah, tenaga berkurang, dan kesempatan hidup semakin menyempit. Namun ironisnya, kesadaran itu sering tertutup oleh pesta dan selebrasi yang menjauhkan manusia dari makna waktu itu sendiri.

Kesalahan mendasar dalam memaknai pergantian tahun terletak pada cara pandang yang terlalu linear dan konvensional. Waktu dipersepsikan seolah bergerak dari awal ke awal berikutnya, bukan sebagai rangkaian proses yang saling terhubung.

Dalam buku Thinkertoys, Michael Michalko menekankan pentingnya berpikir melingkar (circular thinking), yakni melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi. Dari sudut pandang ini, pergantian tahun bukan titik awal yang terpisah, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang terus menua.

Aktif Memaknai Waktu, Bukan Pasif Merayakannya

Dalam realitas sosial hari ini, pergantian tahun lebih sering dimaknai secara pasif. Manusia menjadi penonton waktu: merayakan, bersorak, lalu kembali pada rutinitas lama tanpa perubahan berarti.

Sebaliknya, memaknai waktu secara aktif menuntut keterlibatan batin—evaluasi, perenungan, dan keberanian memperbaiki diri. Setiap pergantian tahun sejatinya adalah alarm sunyi bahwa usia dunia dan manusia terus bertambah, sementara kesempatan hidup terus berkurang.

Sejumlah pemikir Muslim menegaskan pentingnya kesadaran waktu ini. Malik Bennabi menyebut waktu sebagai salah satu unsur utama pembentuk peradaban, selain manusia dan tanah.

Krisis umat, menurutnya, bukan semata karena kekurangan sumber daya, melainkan kegagalan memaknai dan mengelola waktu secara bermakna.

Syed Muhammad Naquib al-Attas bahkan mengingatkan bahwa kekeliruan memahami waktu akan melahirkan loss of adab—kekacauan orientasi hidup. Ketika waktu direduksi menjadi sekadar momen hiburan, manusia kehilangan kesadaran akan tujuan eksistensinya.

Sementara itu, Tariq Ramadan menekankan pentingnya muhasabah zaman: evaluasi diri yang terus-menerus seiring berjalannya waktu. Setiap fase kehidupan adalah amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar tonggak perayaan tahunan.

Dari Seremonial ke Kesadaran

Realitas hari ini menunjukkan bahwa pergantian tahun masih didominasi seremonial dan selebrasi. Kembang api dan pesta kerap menenggelamkan kesadaran bahwa waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Sebaliknya, memandang pergantian tahun sebagai pertanda bahwa usia zaman semakin menua justru dapat melahirkan kesadaran psikologis dan moral yang lebih sehat. Kesadaran ini mendorong manusia untuk menimbang ulang amal, perilaku, dan arah hidupnya—bukan dengan euforia, tetapi dengan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, pergantian tahun bukan tentang menjadi “baru”, melainkan tentang menyadari bahwa kita—dan dunia—sedang bergerak dalam sirkulasi waktu yang kian menua. Dari kesadaran inilah lahir tanggung jawab, kedewasaan, dan komitmen untuk hidup lebih bermakna.

Bukan sekadar merayakan waktu yang berlalu, tetapi memaknai setiap detiknya sebagai amanah yang tak akan pernah kembali.[]

Comment