by

Evi Widianti, S.Pd: Selesai UNBK, Mau ke Mana?

Evi Widianti, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nampaknya, Maret dan April tahun ini adalah bulan-bulan tersibuk khususnya bagi pelajar di Sekolah Menengah Atas (SMA). Bagaimana tidak, perhatian mereka begitu tercurah pada beragam bentuk tes mulai dari Ujian Praktik, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Simulasi UNBK, sampai puncaknya nanti, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tanggal 1, 2, 4, dan 8 April 2019. 
Menurut laman unbk.kemdikbud.go.id, UNBK pada tahun pelajaran 2018/2019 ini akan diikuti oleh 12.840 SMA dengan 1.519.635 siswa. Artinya, bulan Juni 2019 nanti, terdapat sekitar 1,5 juta lulusan SMA yang akan menapaki “kehidupan baru”, entah itu kuliah, bekerja, ataupun menikah.
Tentu saja, setiap pilihan yang diambil memiliki latar belakang dan konsekuensi tersendiri. Siswa yang capaian prestasinya baik dan memiliki kemampuan finansial mencukupi, biasanya “cukup beruntung” untuk bisa masuk ke perguruan tinggi negeri ataupun swasta pilihan mereka. Hanya saja, persentase kalangan ini biasanya tidak terlalu besar. Pada tahun 2018, Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan tinggi di Indonesia hanya sekitar 32,5%, sangat jauh dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang mencapai lebih dari 90%. Ini berarti, dari 1,5 juta lulusan SMA pada tahun 2019 ini, hanya sepertiganya saja yang akan memiliki kesempatan untuk duduk di bangku kuliah. Sisanya, kemungkinan besar akan memilih opsi kedua, yaitu mencari pekerjaan.
Apakah mencari pekerjaan itu mudah? Jawabannya adalah relatif, tergantung pada jenis pekerjaan yang dicari, sebanyak apa koneksi yang dimiliki, dan seberapa maksimal ikhtiar serta doa yang menyertainya. Namun, apabila kita mencermati data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat peningkatan angka pengangguran sebesar 130 ribu jiwa; dari 6,87 juta pada Februari 2018 menjadi hampir 7 juta jiwa pada Agustus 2018. Secara logika, siapapun bisa melihat bahwa pekerjaan ternyata tidak semudah yang dibayangkan, apalagi jika sebagian dari angka pengangguran tersebut adalah lulusan perguruan tinggi dan sekolah vokasi/kejuruan.
Kondisi sulit ini menjadi lebih rumit dengan masuknya kita pada era Revolusi Industri 4.0 yang identik dengan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/Ai), termasuk dalam bidang industri.  Sudah menjadi rahasia umum, perusahaan-perusahaan raksasa dengan kapital besar saat ini banyak yang akhirnya memilih untuk “mempekerjakan” robot, memanfaatkan otomatisasi mesin dan komputer karena dipandang lebih efisien serta lebih minim resiko. Hal ini disadari oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menilai bahwa hadirnya Revolusi Industri 4.0 bisa menjadi ancaman tersendiri bagi tenaga kerja dalam negeri yang tidak memiliki keterampilan untuk beradaptasi dalam pekerjaan-pekerjaan jenis baru. Bahkan Dirjen Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas Kemenaker, Bambang Satrio Lelono memperkirakan, sebanyak 57% pekerjaan yang ada saat ini dalam waktu dekat akan segera tergerus oleh robot.
Dari sini kita seharusnya menyadari, bahwa selesainya UNBK dan lulusnya para pelajar dari SMA bukanlah akhir dari proses perjuangan. Terdapat tantangan nantinya yang jauh lebih rumit dari sekedar mengerjakan soal-soal ujian. Namun sebagai muslim, kita tidak seharusnya bersikap pesimis dan apatis menghadapi perubahan yang terjadi, karena baik diakui maupun tidak, proses digitalisasi dan kemajuan teknologi tetap membawa kebaikan serta mempermudah urusan manusia, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Setiap kerumitan hakikatnya adalah tantangan yang menarik untuk dianalisis dan dicari solusinya. Apalagi, ada janji dari Allah SWT:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah (94): 5)
Pilihan apapun yang diambil setelah lulus SMA nanti, tetaplah berjuang dengan optimis. Jika berkesempatan untuk kuliah, menuntut ilmulah dengan segenap kemampuan berniatkan ibadah. Setiap ilmu hakikatnya adalah investasi untuk kesuksesan kita di masa yang akan datang. Jika memang harus bekerja, pilihlah pekerjaan sesuai passion atau minat kita. Banyak bersyukur, dan perkuat jaringan. Siapa tahu ada peluang usaha baru dari sana. 
Hal lain yang tidak kalah penting, jangan pernah berhenti belajar. Sebagai muslim, kita harus memahami bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari kewajiban individual dan kewajiban kolektif, khususnya untuk ilmu-ilmu yang terkait sains dan teknologi. Tentu saja ada tujuan luhur di balik kewajiban agung ini, salah satunya adalah supaya generasi muda muslim bisa menjadi pelopor kemajuan dan kesejahteraan bangsa, serta menjadi pemimpin (khalifah) di muka bumi. 
Allah SWT berfirman: “…Niscaya Allah SWT akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadalah (58):11)
Sungguh sangat disayangkan apabila pendidikan direduksi maknanya menjadi hanya sekedar cara untuk mendapatkan ijazah, masuk kampus ternama, mendapatkan pekerjaan, dan segudang tujuan-tujuan duniawi lainnya. Pendidikan hakikatnya adalah proses memaknai hakikat penciptaan manusia untuk beribadah, meningkatkan ketakwaan serta membentuk karakter manusia (muslim) sehingga memiliki kepribadian (syakhsiyyah) Islam. Dengan begitu, makna pendidikan menjadi lebih luas dan bisa dilakukan siapapun dan kapanpun, tidak hanya saat berada di bangku sekolah saja.
Dengan pandangan tersebut, tentu kita mendambakan proses pendidikan berbasis aqidah Islam yang diterapkan secara terpadu dan terintegrasi dalam kurikulum di semua jenjang sekolah, bukan hanya pada mata pelajaran agama saja. Harapannya, tidak lagi ada dikotomi antara “ilmu dunia” dan “ilmu akhirat”. Kita merindukan output pendidikan yang tidak hanya cerdas dalam sains, namun juga bertakwa, siap bersaing, dan siap mengarungi medan kehidupan yang semakin sulit dari waktu ke waktu. Selamat berjuang! []

Penulis adalah Guru di SMAN 1 Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi

Comment

Rekomendasi Berita