RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Fenomena munculnya biawak di kawasan pemukiman warga beberapa waktu terakhir menarik perhatian publik di sejumlah daerah Indonesia. Hewan reptil besar yang biasanya hidup di sungai, rawa, atau hutan mangrove itu kini kerap terlihat berkeliaran di halaman rumah, saluran air, hingga sekolah-sekolah.
Bila dicermati, sejak Juli hingga November 2025 ini sudah tiga biawak ukuran besar masuk ke pemukiman di wilayah RT022)05 Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan.
Selain ukuran besar, sudah sekitar 10 biawak kecil seukuran 10 hingga 15 cm kerap ditemui dan ditangkap warga. Biawak biawak kecil sering muncul di saluran air di lingkungan tersebut.
Kemunculan biawak besar di lingkungan warga RT012/05 ini terjadi pada Ahad (10/11/2025). Dua ekor biawak ditangkap oleh Dimas dan Ubay di sebuah toko miliki Sunardi dan di tepian kali krukut.
Ketidakseimbangan Ekosistem Jadi Akar Masalah
Kemunculan biawak di area pemukiman menandakan adanya gangguan keseimbangan habitat alami mereka. Biawak termasuk predator oportunis yang biasa berburu ikan, kodok, burung kecil, dan bangkai.
Saat sumber makanan di alam menipis akibat rusaknya ekosistem sungai dan rawa, mereka berpindah ke area yang menyediakan sumber pangan baru — termasuk lingkungan manusia.
Ahli ekologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Raden Satria Nugraha, menjelaskan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan perubahan fungsi lahan.
Biawak menurutnya, adalah indikator ekosistem perairan. Jika mereka banyak muncul di permukiman, artinya ruang hidup di alam sudah semakin sempit. Banyak rawa dan sempadan sungai yang berubah jadi perumahan, sehingga satwa seperti biawak kehilangan tempat berburu.
Selain itu, pencemaran sungai juga menjadi faktor pemicu. Limbah rumah tangga dan industri menyebabkan populasi ikan di perairan menurun, membuat biawak mencari sumber makanan alternatif.
Dampak Perubahan Iklim dan Pola Hujan
Perubahan iklim turut memengaruhi perilaku hewan reptil, termasuk biawak. Suhu yang semakin tinggi dan pola hujan yang tidak menentu mendorong mereka berpindah tempat mencari lokasi dengan kelembapan stabil.
Pejabat Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Ir. Eko Prasetyo, M.Si., mengatakan bahwa pergeseran perilaku satwa liar akibat perubahan iklim kini makin sering terjadi.
Menurutnya, saat habitat mereka terganggu atau tergenang akibat curah hujan ekstrem, mereka cenderung masuk ke area yang lebih tinggi atau kering, termasuk permukiman.
Sampah dan Drainase Jadi Magnet Baru
Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga memperparah situasi. Tumpukan sampah di tepi sungai dan got menciptakan habitat baru bagi biawak yang mencari makanan sisa.
Drainase buruk dengan genangan air dan tumpukan organik menjadi tempat persembunyian ideal bagi reptil tersebut.
Menurut Dr. Satria, biawak tertarik pada bau amis, daging, dan ikan busuk. Jika pola kebersihan lingkungan tidak berubah, maka mereka akan terus datang. Jadi, penyelesaian masalah ini bukan hanya soal menangkap biawak, tapi memperbaiki ekosistem kota.
Perlu Edukasi dan Penanganan Berbasis Lingkungan
Pemerintah daerah dan warga diimbau tidak panik menghadapi fenomena ini. Biawak umumnya tidak berbahaya bagi manusia jika tidak diganggu. Namun masyarakat disarankan tidak mencoba menangkap sendiri, karena hewan ini dapat menyerang saat merasa terpojok.
Langkah tepat adalah melapor kepada dinas pemadam kebakaran, BKSDA, atau lembaga penyelamat satwa. Sementara itu, upaya jangka panjang perlu difokuskan pada perbaikan ekosistem sungai, penertiban pembuangan sampah, dan pelestarian ruang hijau.
Fenomena biawak masuk permukiman sejatinya adalah alarm ekologis. Ia mengingatkan manusia bahwa kerusakan lingkungan tidak pernah berdampak sepihak.
Ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusia pun akan turut merasakan konsekuensinya — bahkan dari makhluk yang dulu hidup damai di tepian rawa.[]









Comment