Oleh: Diana Septiani, Pemerhati Generasi
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Pernikahan adalah proses pengikatan janji suci antara seorang lelaki dengan perempuan dalam mahligai rumahtangga. Segala perbuatan dalam pergaulan lelaki dan perempuan yang semula haram, menjadi halal karena pernikahan. Ijab qabul atau akad nikah menjadi penanda memasuki kehidupan baru bagi dua insan sebagai sepasang suami istri. Sepaket dengan tanggungjawab, hak dan kewajibannya masing-masing.
Pernikahan tak melulu bak kisah romantis di dongeng fiksi. Ada bumbu rumah tangga yang terasa pahit, asam dan manis. Memang tak seindah yang dibayangkan, tetapi juga tak seburuk yang diberitakan. Mengarungi bahtera rumahtangga memanglah tidak mudah, karena itu diperlukan kesiapan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Kesiapan ilmu, fisik, mental juga finansial.
Ujian Pernikahan dalam Sistem Kapitalis
Dalam menyatukan dua insan yang jauh berbeda, ada kalanya emosi melanda. Belum lagi ujian pernikahan dari berbagai sisi juga terus menggerus akal sehat, terlebih tanpa bimbingan agama. Kekerasan dalam rumahtangga (KDRT) bahkan berujung hilangnya nyawa banyak terjadi di sistem kapitalis sekuler.
Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), angka kasus KDRT di seluruh Indonesia terus melonjak. Per Oktober 2022 sudah mencapai 18.261. Sebanyak 79,5% atau 16.745 korban adalah perempuan, sisanya 2.948 lelaki menjadi korban.
Belum lagi kasus perselingkuhan. Indonesia menempati posisi kedua kasus perselingkuhan terbanyak se-Asia. Menurut survei, 40 persen laki-laki dan perempuan mengakui pernah berselingkuh. Tak ayal, fenomena ani-ani sebagai simpanan sugar daddy (pria kaya yang menghabiskan banyak uang untuk wanita simpanannya) kian merebak. Ujung dari perselingkuhan seringkali berakhir dengan perceraian.
Selain itu yang menjadi penyebab banyaknya perceraian terjadi karena faktor ekonomi. Kehidupan rumah tangga di tengah sistem kapitalisme begitu sulit. Lapangan pekerjaan yang sulit, gaji pekerja yang minim, gaya hidup konsumtif ditambah biaya kebutuhan hidup yang kian naik, seringkali menjadi pemicu pertengkaran rumahtangga.
Merebak Generasi Takut Nikah
Menjamurnya berita tentang KDRT, perselingkuhan hingga perceraian menimbulkan rasa takut dan khawatir untuk menikah di kalangan generasi muda. Bila sampai berlebihan ketakutan ini akan memicu gamophobia yaitu perasaan takut berlebihan akan komitmen dalam pernikahan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) persentase pemuda (usia 16-30 tahun) yang belum nikah atau melajang semakin meningkat setiap tahunnya. Sebaliknya, persentase pemuda yang memutuskan segera menikah semakin menurun. Pada tahun 2021, angka belum kawin meningkat menjadi 61,1% sementara angka menikah di kalangan pemuda menurun menjadi 37,7%. (katadata.co.id)
Selain karena faktor KDRT, perselingkuhan hingga perceraian ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pemuda takut nikah.
Pertama, fokus meraih pendidikan tinggi dan/atau membangun karir. Dalam sistem kapitalisme, pendidikan diarahkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak serta meraih materi sebanyak-banyaknya. Generasi muda saat ini lebih disibukkan dengan aktivitas mencari cuan. Misalnya meraih impian menjadi konten kreator berpenghasilan tinggi.
Kedua, tidak adanya panutan yang baik. Banyak pemuda beralasan takut menikah karena terlahir dari keluarga yang kurang harmonis, bahkan mungkin korban brokenhome. Mereka melihat sosok ibu dan ayah yang gagal menjadi pasangan yang baik. Bertengkar di depan anaknya, sering melakukan kekerasan, hingga menimbulkan trauma mendalam terhadap anak-anaknya. Kemudian muncul pernyataan, “Aku takut nikah. Aku gak mau seperti ibu dan ayah.”
Ketiga, biaya pernikahan yang tinggi. Hanya untuk mahar pernikahannya saja pihak lelaki harus menyiapkan banyak uang. Ini belum ditambah dengan tingginya biaya resepsi. Biaya dekor, catering dan lain-lain demi menyelenggarakan pernikahan impian.
Keempat, menikah seolah merampas kebebasan seseorang. Tanggung jawab yang besar setelah menikah dijadikan alasan generasi muda enggan menikah. Mereka khawatir jika menikah, mereka akan sibuk mengurus keluarga. Terutama seorang perempuan, sibuk mengerjakan pekerjaan rumah sembari mengurus anak-anak. Tidak ada waktu untuk liburan bersama teman-teman. Tidak ada kesempatan untuk berhura-hura karena ada istri dan anak yang menanti di rumahnya.
Islam Atasi Kekhawatiran Generasi Muda untuk Menikah
Jika kita amati maka ada dua faktor utama penyebab semakin maraknya generasi takut nikah. Pertama, karena faktor generasi muda yang tidak memahami hukum-hukum Islam terkait pernikahan. Mereka belum tergambarkan bagaimana mulianya sosok ibu dan ayah yang mencari nafkah. Bagaimana Islam memudahkan perihal mahar.
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasalam bersabda dalam hadits riwayat Ahmad, “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”
Kedua, faktor lingkungan yang rusak. Sosok ibu, ayah atau sanak keluarga yang gagal menjalankan perannya menjadikan mereka enggan mengulang kesalahan. Belum lagi pengaruh influencer yang menyampaikan asyiknya melajang tanpa beban pernikahan. Padahal, pernikahan bukanlah beban. Justru menyempurnakan iman, menggenapkan separuh agama yang belum sempurna.
Bila pemikiran takut menikah terus menyerang generasi muda, mungkinkah regenerasi manusia terus berjalan? Bila tanpa pernikahan, bagaimana manusia menyalurkan gharizah nau’-nya atau naluri melestarikan jenis? Bukankah hal ini akan memicu tingginya kasus perzinahan. Menyalurkan hawa nafsu pada yang haram, sementara yang halal malah ditakut-takutkan.
Padahal dalam pandangan Islam, keluarga adalah unit yang paling penting dalam membangun suatu bangsa. Dari keluarga inilah terlahir generasi gemilang yang membawa perubahan.
Negara Islam juga menjamin keadilan serta kemeratan dalam menyejahterakan rakyatnya demi memenuhi kebutuhan rumahtangga. Selain itu negara Islam dengan baitul malnya dan regulasi kas negara demi terpenuhinya kebutuhan primer warga negara. Termasuk memenuhi pendidikan dan kesehatan secara percuma, juga biaya transportasi dan komunikasi yang murah.
Tak hanya itu negara juga bertanggung jawab dalam pendidikan rakyatnya guna yang membentuk keluarga yang mampu mendidik anak laki-lakinya menjadi pemimpin dan anak perempuannya menjadi calon istri dan ibu.
Alhasil, generasi muda yang takut menikah tumbuh subur dalam sistem kapitalis sekuler. Butuh peran bersama agar menyadarkan mereka, memahamkan nilai-nilai Islam seputar pernikahan dan menciptakan lingkungan yang baik sebagai panutan dan pendukung mereka mengarungi biduk rumahtangga. Wallahua’lam bishshowab.[]









Comment