Peran dan Posisi Perempuan yang Salah Tempat

Opini231 Views

 

 

Oleh : Irohima, Guru

___________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  — Ungkapan doa berjuta untaian kata ramai berseliweran di berbagai platform media, teruntuk Ibu yang konon katanya mempunyai hari spesial di setiap tanggal 22 Desember, di mana sebagian besar orang selalu merayakan tanggal tersebut sebagai hari Ibu.

Hari itu sosok Ibu begitu diistimewakan, dimanjakan dan tak lupa berbagai hadiah pun diberikan. Sosok Ibu benar-benar dibuat menjadi ratu seharian namun sayang terkadang sering diabaikan di hari kemudian.

Ibu adalah sosok seorang perempuan  tangguh. Dia mengandung, melahirkan serta membesarkan anak hingga dewasa, dia juga mengurus rumah, suami dan segalanya dengan segenap suka cita. Namun sayang, kini ketangguhan seorang perempuan sering disalah artikan, dimanfaatkan, dan ditempatkan pada ranah yang tidak semestinya ?.

Pada perayaan hari Ibu tahun ini, pemberdayaan perempuan masih menjadi tema utama. Latar belakang dicetuskan tema ini berlandaskan catatan bahwa peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan perayaan Mother’s Day negara lain.

Hari Ibu di Indonesia merupakan tonggak perjuangan perempuan untuk terlibat dalam upaya kemerdekaan dan pergerakan perempuan dari waktu ke waktu dalam menyuarakan hak-hak perempuan untuk mendapatkan perlindungan dan kesetaraan.

Perempuan akan diberdayakan secara totalitas dan didorong untuk ikut aktif terlibat dalam upaya membangun perekonomian keluarga dan negara.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan resesi,  perempuan dianggap sebagai kaum yang paling terdampak imbasnya. Menjadi korban kekerasan yang dominan dalam rumah tangga, korban praktik pernikahan anak, terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, hingga menjadi korban terbanyak dalam bencana alam membuat banyak pihak memutuskan bahwa perempuan harus mendapatkan perhatian tersendiri.

Sangat disayangkan, ketangguhan perempuan khususnya kaum ibu diarahkan pada upaya pemberdayaan guna meningkatkan ekonomi keluarga bahkan negara, padahal jika kita melihat fakta, justru angka pengangguran dan jumlah SDM bergender laki-laki masih begitu banyak.

Pemberdayaan kaum ibu atau perempuan harusnya dikembalikan kepada peran utama seorang ibu sebagai pendidik generasi calon pemimpin masa depan. Bukan bertukar peran dengan lelaki yang bertugas sebagai penanggung jawab ekonomi keluarga.

Jangan sampai pemberdayaan perempuan justru mengeksploitasi terhadap perempuan itu sendiri. Berbagai kebijakan yang memudahkan kaum perempuan memiliki peluang lebih besar untuk bekerja sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada banyak aspek kehidupan.

Kita tak boleh menanggap ringan dampak seorang Ibu keluat rumah untuk bekerja sementara dia meninggalkan anak yang menjadi tanggung jawabnya. Belum lagi banyaknya survei yang menyatakan bahwa masih banyak pekerja perempuan yang mendapat perlakuan diskriminasi di tempat kerja. Berbagai kebijakan terkait kesetaraan gender dan perlindungan terhadap perempuan nyatanya tak mampu mengatasi permasalahan yang selama ini menjerat perempuan Indonesia.

Bukan hal yang tabu lagi bahkan telah menjadi hal yang sangat lumrah jika tulang rusuk bertransformasi menjadi tulang punggung, dan anggapan bahwa perempuan mulia adalah yang berkarya di luar rumah serta value perempuan yang diletakkan pada capaian materi adalah mindset yang coba ditanamkan di benak para perempuan.

Walhasil perhatian para perempuan teralihkan dari tugas utamanya sebagai ummu warobatul bayt menjadi ibu yang sibuk mencari duit. Pemulihan ekonomi keluarga dan bangsa bukanlah tugas seorang ibu atau perempuan lainnya melainkan negara.

Berbagai program pemberdayaan perempuan sejatinya adalah buah dari sistem kapitalisme, sebuah sistem yang berorientasi pada materi yang melakukan berbagai cara salah satunya mengemas eksploitasi menjadi emansipasi, tanpa peduli dampak besar yang menghantui.

Telah banyak bukti bahwa program ini sepenuhnya telah gagal dan menyisakan banyak masalah. Pemberdayaan perempuan yang mendorong seorang ibu atau perempuan lebih dominan dalam mencari nafkah apalagi hingga menjadi tulang punggung keluarga menyebabkan tertukarnya peran antara laki-laki dan perempuan.

Hilangnya peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga atau seorang suami akan menimbulkan krisis dalam rumah yang terkadang melebar ke arah perselingkuhan, perceraian, kekerasan, dan lain sebagainya.

Pemberdayaan perempuan ala kapitalis telah terbukti tidak membawa perempuan kepada kemuliaan namun lebih kepada kehancuran. Saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme dan beralih pada sistem yang bisa bahkan menjamin kemuliaan perempuan.

Solusi yang hakiki hanya ada pada sistem Islam. Dalam Islam pemberdayaan perempuan adalah upaya untuk mencerdaskan para perempuan dan menempatkan mereka pada tempat yang sesuai fitrahnya sebagai Ummu Warobbatul Bayt.

Islam mewajibkan laki-laki yang mencari nafkah sementara perempuan tidak diwajibkan. Aturan ini bukan dimaksudkan untuk meninggikan atau merendahkan salah satunya namun lebih kepada menempatkan peran laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodratnya.

Pemberdayaan dalam Islam adalah pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan. Seluruh lapisan masyarakat akan diberdayakan, difasilitasi, dibina dan diberikan pemahaman akan aturan Islam hingga masyarakat akan memahami dan menjalankan perannya secara maksimal sesuai syariat hingga kelak akan tercipta masyarakat yang tak hanya sejahtera namun juga produktif dan taat mengikuti aturan Sang Pencipta. Waalahualam bisshawab.[]

Comment