Penulis: Nurjanah Fatahillah | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.XOM, JAKARTA — Negara yang ekonomi dan militernya diembargo selama lebih dari 40 tahun, ternyata sanggup meluncurkan serangan balasan berupa hujan rudal ke Israel, menghancurakan 17 pangkalan militer milik AS dan Israel, dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Zionis. Hal ini ditulis mediaindonesi.com (12/4/2026).
Iran juga terus menghujani wilayah Tel Aviv dengan ribuan misil balistik dan drone Shahed yang mampu menembus pertahanan militer Zions, dan situasi kota itu nyaris sama dengan Gaza. Kehancuran dan kepanikan terjadi di mana-mana karena ratusan tentara AS menjadi korban, meski AS dan Zions berusaha menutup-nutupi kenyataan agar tidak bocor ke dunia luar.
Iran membuat mata dunia terbuka, bahkan Donald Trump tidak pernah menyangka dengan kejutan yang ia saksikan sendiri, bahwa Iran bisa membangun ribuan rudal dan drone canggih ditengah cekikan ekonomi dan keterdesakan karena embargo.
Padahal para penguasa di negeri-negeri Arab, sekedar mengecam saja mereka tidak berani, mereka takut kehilangan kekuasaan, mereka khawatir jika tidak mendukung AS, posisi mereka akan terancam seperti yang dialami oleh Mursi di Mesir atau Maduro di Venezuela.
Mereka mungkin lupa kalau AS dengan lembaga-lembaga internasional buatannya bisa dengan mudah mencari alasan turut campur berbagai urusan dalam negeri negara lain, termasuk mencampuri suksesi kepemimpinan untuk disesuaikan dengan yang diinginkan oleh Amerika, seperti di Irak, Afganistan, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya.
Bahkan Amerika akan melakukan operasi intelijen atau perang proxy untuk menindak pemimpin yang tidak loyal dan akan memastikan digantikan dengan mereka yang siap menjadi bonekanya, bahkan Amerika berani malu melakukan aksi preman seperti apa yang terjadi pada Venezuela dan Iran.
Sekutu AS di Eropa mulai enggan untuk terlibat lebih jauh. Spanyol secara terbuka menolak penggunaan pangkalan udara dan ruang udaranya untuk kepentingan militer AS untuk menyerang Iran. Penolakan ini menjadi pukulan keras karena posisi geografis Spanyol sangat strategis bagi suplai logistik AS menuju Israel.
Prancis tidak mengizinkan Israel menggunakan wilayah udaranya untuk mengangkut senjata AS yang akan digunakan dalam perang melawan Iran. pemerintah Italia juga melarang sebuah pesawat militer AS yang menuju Timur Tengah untuk mendarat di pangkalan militer di Sisilia.
Laman cnn indonesia, Rabu (1/4/2026) menulis, Media Italia melaporkan Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan Sigonella.
Awal bulan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut sekutu lama NATO sebagai “pengecut” karena kurangnya dukungan.
Ketidakinginan Eropa ini karena kondisi internal mereka yang sedang “sakit” akibat dampak lanjutan perang Rusia-Ukraina dan krisis energi yang menjadikan inflasi tinggi. Hal ini membuat Washington merespon dengan bahasa tekanan, di mana Donald Trump secara terbuka akan mengancam konsekuensi perdagangan sebagai hukuman atas ketidakpatuhannya.
Iran dengan jeli mengambil jalan shock strategis dan protes ritual, yang ternyata lebih berbahaya dalam mengubah konfrontasi menjadi uji tekan seluruh wilayah terhadap pertahanan udara, perlindungan angkatan laut, keamanan pangkalan, dan kohesi politik antar negara yang menjadi sekutunya tertekan. Sehingga efek politik dari ancaman yang terus-menerus, gangguan lalu lintas, dan dampak serangan yang berulang memiliki kekuatan korosif.
Hal ini memaksa setiap pemerintahan yang terimbas untuk mempertanyakan berapa lama pasar, warga negara, dan koalisi internal mereka dapat bertahan sebelum akhirnya retak.
Karena semakin lama perang yang akan berlangsung maka fokusnya bukan lagi hanya pada ketahanan platform dan amunisi, melainkan pada stok, anggaran, logistik, dan kesediaan mitra untuk tetap membuka pintu, sehingga front diplomatik menjadi bagian yang sangat penting.
Iran berhasil menerapkan strateginya dan mampu memaksa Amerika menerima proposal 10 poin dari Iran setelah 40 hari perang yang mencakup gencatan senjata permanen, pencabutan semua sanksi, dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, mengonfirmasi bahwa kerangka kerja 10 tersebut telah diterima sebagai dasar dialog mendatang dengan Amerika Serikat. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran dan kantor berita Anadolu, beberapa poin krusial dalam 10 syarat tersebut meliputi:
- Pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium.
- Pencabutan seluruh sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
- Penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah.
- Penghentian permusuhan di semua lini, termasuk di Libanon.
- Larangan gencatan senjata digunakan sebagai dalih untuk mempersenjatai kembali pihak lawan.
Amerika yang selama ini selalu mengendalikan semua perjanjian, semua kerja sama atas dasar keuntungan untuk negaranya sendiri dan selalu menunjukkan kearoganannya, ternyata bisa tunduk mengikuti aturan yang tentunya tidak berpihak pada keuntungan dan manfaat negaranya itu.
Suatu hal yang perlu diketahui, Iran memiliki sistem politik yang unik dengan menggabungkan unsur republik dengan struktur kepemimpinan religius. Dimana jabatan tertinggi negara adalah pemimpin tertinggi (supreme leader) yang memiliki otoritas strategis dalam bidang militer, keamanan nasional, serta arah kebijakan luar negeri.
Jadi kekuasaan tidak hanya dikendalikan oleh satu individu, melainkan adanya jaringan institusi politik, religius, dan militer yang saling terhubung, sehingga fungsi pemerintahan tetap berjalan meskipun dalam keadaan genting, karena masyarakat akan memberikan dukungan atas keputusan politik negara, dan negara memberikan apa yang dibutuhkan rakyatnya berupa layangan publik dasar.
Bisa dibayangkan jika semua negara muslim memiliki mentalitas, persatuan politik dan ketakwaan, dengan seorang pemimpin yang berani melawan Musuh Islam seperti yang dicontohkan Iran, tentu penindasan di negeri-negeri Islam akan berakhir.
Saat itu, berbagai bangsa dan ras umat menjadi umat yang satu dan sebaik-baik umat. Menjadi pemimpin peradaban dan menjadi pelopor kemajuan di berbagai bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan.
Negara memiliki wibawa dan kepemimpinan yang kuat, karena akidah dan hukum-hukum Islam diterapkan di semua lini kehidupan. Sehingga kesejahteraan, keadilan, kemajuan, dan ketinggian moral akan terwujud.
Seperti yang dicontohkan saat ini yaitu mentalitas rakyat dan pemimpin Iran lebih memilih diembargo daripada tunduk pada keinginan AS. Bahkan, dengan adanya embargo, Iran mampu mengonsolidasi kekuatan internal dan mampu bertahan dengan mengembangkan teknologi domestik, persenjataan mandiri (termasuk drone), dan memperkuat jaringan dagang dengan negara-negara saingan Amerika seperti Cina dan Rusia.
Apakah kita siap menjadi pribadi yang berani menghadapi hegemoni Barat dengan semua kesulitannya ? Harusnya siap jika kita menggunakan aturan dari Allah SWT.[]









Comment