Gaya Hidup Mewah di Tengah Kemiskinan

Opini2266 Views

 

Oleh: Rahmawati Ayu Kartini, Pemerhati Sosial

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dilansir detik.com (27/9/2022), mobil keluaran terbaru Range Rover generasi kelima dengan harga mulai 5,9 miliar rupiah meluncur di pasaran. Meski mahal dan baru diluncurkan, mobil yang tersedia sebanyak 50 unit sampai akhir tahun ini nyaris ludes.

Orang-orang berduit (The rich man) berlomba-lomba melakukan apa saja yang mereka inginkan, tanpa perduli nasib orang lain. Gaya hidup mereka yang hedonis seolah menutup mata terhadap kondisi rakyat kecil yang kian sengsara di tengah kenaikan harga bahan-bahan pokok.

Dilansir dari CNN Indonesia (30/9/2022), Indonesia masuk dalam kategori 100 negara paling miskin di dunia. Indonesia masuk urutan ke-73 negara termiskin di dunia. Hal ini diukur menurut Pendapatan nasional bruto perkapita.

Sebelumnya, Bank Dunia (World Bank) mengubah batas garis kemiskinan. Hal ini membuat 13 juta warga Indonesia yang sebelumnya masuk golongan menengah ke bawah menjadi jatuh miskin. Ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM serta bahan pokok, membuat rakyat kecil sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Betapa mirisnya melihat kesenjangan yang begitu lebar antara si kaya dan si miskin. Ketimpangan makin nyata di negeri ini. Segelintir orang-orang kaya menghabiskan uang untuk berfoya-foya di tengah penderitaan orang-orang miskin yang makin sempit hidupnya. Mengapa hal ini terjadi?

Kapitalisme Mematikan Hati Nurani

Kapitalisme sekuler makin mematikan hati nurani manusia. Ciri kapitalisme yang mementingkan hak milik individu, memberikan kebebasan sebesar-besarnya untuk menimbun kekayaan pribadi tanpa perduli dengan posisi orang lain yang tidak memiliki kemampuan yang sama. Kapitalisme pun memberikan kebebasan berkompetis mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Pandangan hidup yang berasaskan sekularisme ini tidak perdulikan aturan agama dalam kehidupan. Bagi mereka, agama adalah urusan pribadi masing-masing orang. Karena itulah, walaupun kebanyakan orang-orang yang hedonis itu muslim, mereka tidak menjadikan aturan Allah dan rasul sebagai standar dalam tindak laku kehidupan. Hanya materi yang mereka kejar dalam hidup.

Mereka hanya memiliki kepedulian terhadap sesama, jika menguntungkan secara materi. Bagi mereka, tidak pernah ada ‘makan siang gratis’ alias no free lunch.

Inilah bahayanya pandangan hidup kapitalisme sekuler. Mereka tetap bisa tidur nyenyak walaupun sekitarnya miskin dan kelaparan, sebab hati nuraninya telah mati. Terpenting bagi mereka adalah keluarga dan kroni-kroninya bisa hidup mewah dan berhura-hura.

Bahkan negara yang berasaskan kapitalisme pun, tetap tidak mampu melindungi rakyatnya. Sebab, negara dalam sistem kapitalisme tidak boleh banyak berperan memberikan subsidi untuk rakyat.

Bagi mereka, ini akan menghambat perusahaan swasta dan asing untuk bersaing secara bebas. Negara hanya berfungsi sebagai regulator para kapitalis yang hendak meraih keuntungan sebesar-besarnya dari produk-produk mereka yang dijual kepada rakyat. Contoh nyata hal ini adalah dicabutnya subsidi BBM, naiknya harga minyak goreng, naiknya harga beras, telur, dll.

Rakyat tidak mungkin bisa sejahtera dalam sistem kapitalisme, serta tidak akan mampu bersaing dengan para kapitalis raksasa disebabkan tidak adanya perlindungan negara.

Islam Melarang Individualisme

Islam adalah agama sekaligus pandangan hidup yang sempurna. Islam diturunkan oleh Allah SWT sebagai solusi dari segala persoalan kehidupan. Islam memandang tiap muslim adalah satu tubuh. Seorang muslim harus merasakan penderitaan muslim yang lain, sebagaimana hadits berikut:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim)

Bahkan dalam hadits lain disebutkan:
“Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H. R. Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i).

Masih banyak lagi dalil-dalil dalam Al Qur’an dan hadits yang melarang individualisme, hanya memikirkan urusan diri sendiri. Bahkan syariat Islam hampir semua aturannya terkait kewajiban perduli dengan orang lain. Seperti misalnya sholat jama’ah, silaturahim, zakat, dakwah, jihad, jinayat, uqubat, dll.

Seorang yang beriman tidak mungkin bisa tidur nyenyak sementara saudaranya mengalami kelaparan. Apalagi sampai terdzolimi.

Negara yang menerapkan sistem Islam pun ditegakkan sebagai sarana untuk mengurus rakyat. Pemimpin negara yang diangkat, hakikatnya adalah penanggung jawab bagi urusan rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Pemimpin negara harus memastikan bahwa tiap-tiap individu rakyat terpenuhi kebutuhan pokoknya. Pendataan rakyat miskin harus diupdate terus-menerus, sehingga bisa diketahui siapa yang belum terpenuhi kebutuhan pokoknya.

Seperti yang pernah dilakukan pemimpin muslim di masa Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Aziz. Kedua pemimpin muslim ini bahkan rela tidak tidur semalaman untuk memastikan bahwa tiap-tiap rakyatnya dalam kondisi tidak kekurangan. Ini adalah bentuk tanggung jawab mereka kelak di hadapan Allah.

Bukan berarti dalam Islam tidak boleh memiliki mobil mewah, rumah megah, dll. Hanya saja, lebih utama harta digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Bukan sekadar untuk gaya hidup.

Seperti yang dicontohkan oleh sahabat nabi Utsman bin Affan yang kaya raya. Dalam kondisi kaum muslimin kesulitan mendapatkan air, Utsman pernah membeli sumur seorang Yahudi yang dijual dengan harga mahal dan diberikan kepada kaum muslimin secara gratis. Bahkan sampai sekarang, sumur Utsman bin Affan ini masih terus digunakan oleh umat.

Semestinya orang-orang kaya dalam kondisi ekonomi makin sulit saat ini, meneladani apa yang telah dilakukan oleh Utsman bin Affan. Hartanya tidak hanya untuk diri sendiri, namun digunakan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Inilah sebenarnya investasi yang sesungguhnya, yang kelak menjadi penolong di akhirat. Wallahu a’lam bishowab.[]

Comment