Penulis: Dr Imam Shamai Ali, Lc, M.A
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di zaman yang penuh hiruk-pikuk ini, manusia mudah terpesona oleh kata-kata indah tentang iman dan ketakwaan, namun sering lupa menimbang kedalaman jiwa di baliknya. Padahal, iman yang sejati tidak terletak pada kefasihan berbicara, melainkan pada kejernihan dan ketenangan hati. Dari sanalah memancar cahaya iman yang sesungguhnya: ilmu, amal, dan pengabdian yang tulus.
Seseorang bisa saja berbicara lancar tentang iman dan takwa. Lisannya manis, kata-katanya tersusun rapi, bahkan mampu membuat orang lain terharu.
Namun ia bisa runtuh ketika ujian menimpanya. Sebaliknya, ada yang mungkin gagap dalam berkata-kata, tetapi hatinya kokoh laksana gunung. Teguh dan tenang menghadapi ujian, tetap bersandar kepada Allah dalam diamnya.
Keteguhan dan ketenangan itulah ukuran sejati iman dan ketakwaan seseorang. Gambaran ini seolah menyentak kesadaran kita: inilah cermin hakikat iman yang sebenarnya. Bahwa iman bukan sekadar ucapan, tetapi apa yang bersemayam dalam hati dan tercermin dalam amal serta akhlak.
Dalam Kitab Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan bahwa Ibnu Mas‘ud pernah berkata: “Barang siapa memperoleh ilmu agama namun tidak mengamalkannya, maka kesombongannya justru akan bertambah.”
Ini mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal dapat menjadi sumber bencana. Ia membuat seseorang merasa tinggi, padahal di sisi Allah ia rendah. Allah mengingatkan:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3).
Surah ini, yang menurut Imam Asy-Syafi‘i sudah cukup jika hanya ini yang Allah turunkan, menegaskan bahwa keselamatan dari kerugian mensyaratkan iman yang disertai amal. Dan amal itu harus dibangun di atas kesabaran saat kehidupan diguncang oleh ujian.
Dalam kehidupan sehari-hari, ujian sering datang tanpa pemberitahuan. Kehilangan, kegagalan, hinaan, bahkan pengkhianatan bisa datang dari arah yang tak terduga.
Di situlah kualitas iman dan takwa diuji. Mereka yang hanya kuat dalam ucapan bisa runtuh. Namun mereka yang hatinya dipenuhi iman akan tetap teguh dan kuat. Ia tidak banyak mengeluh, karena yakin setiap takdir mengandung hikmah dan kasih sayang dari Allah yang Maha Pengasih.
Hal ini juga mengingatkan doa Nabi yang tidak sekadar memohon ilmu, tetapi ilmu yang bermanfaat: ‘ilman naafi‘an, yakni ilmu yang diamalkan. Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi beban, bahkan dapat mengeraskan hati. Hati yang tidak tunduk akan sulit tenang, dan jiwa yang tidak pernah merasa cukup akan selalu gelisah.
Ketenangan dalam hidup bukan berarti tanpa masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap teguh dan tidak goyah di tengah badai. Seperti lautan yang dalam: permukaannya boleh bergelombang, tetapi dasarnya tetap tenang.
Orang seperti ini tidak mudah panik, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dan tidak kehilangan arah saat ujian datang.
Maka jika hari ini kita masih mudah terpesona oleh kata-kata, belajarlah melihat lebih dalam. Lihat bagaimana seseorang bersikap saat diuji.
Lihat bagaimana ia menjaga lisannya saat marah. Lihat bagaimana ia tetap bersyukur saat kehilangan. Di situlah ukuran kedalaman iman dan kokohnya takwa.
Di dunia yang gemar pada kemarahan dan kegaduhan, kagumilah mereka yang tenang. Diam mereka seringkali lebih bernilai dan lebih kuat daripada suara paling lantang dan kata-kata paling manis.[]









Comment