Penulis: Sekar Amara Dika | Mahasantriwati Cinta Qur’an Center
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Hujan deras dan badai musim dingin yang melanda Jalur Gaza kembali memperburuk kondisi para pengungsi yang sejak berbulan-bulan bertahan di tenda-tenda darurat. Seperti dilaporkan UNRWA, banyak tenda yang sobek, roboh, hingga terendam banjir, memaksa warga mencari perlindungan lain di tengah minimnya perlengkapan hunian.
Badan PBB tersebut menegaskan bahwa bantuan tempat tinggal sangat mendesak. Namun hingga kini, Israel masih membatasi masuknya material perlindungan ke Gaza, meski gencatan senjata telah diberlakukan.
UNRWA memperingatkan bahwa tanpa akses bantuan, badai musim dingin dapat memicu konsekuensi kemanusiaan yang jauh lebih parah bagi jutaan warga yang terlantar.
Laporan terkini juga menyebutkan bahwa sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya terluka sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober.
Kondisi keamanan tetap rentan, dan upaya internasional untuk menekan Israel membuka akses bantuan masih belum menunjukkan hasil konkret.
UNRWA menekankan bahwa sekolah-sekolah yang mereka kelola kini berubah fungsi menjadi tempat perlindungan aman, dengan ruang kelas disulap menjadi hunian sementara.
Sebagaimana diberitakan ANTARA dari Istanbul, UNRWA kembali meminta Israel mengizinkan masuknya perlengkapan hunian darurat karena hujan lebat telah membanjiri tenda-tenda pengungsi.
Pertahanan Sipil Gaza mencatat, puluhan tenda di wilayah Al-Mawasi, Khan Younis, terendam banjir akibat sistem tekanan rendah disertai udara dingin dan hujan yang mengguyur Gaza sejak Jumat pagi.
Situasi ini memperburuk penderitaan 1,5 juta warga yang terusir akibat agresi militer. Sementara itu, Israel tetap memblokir material perlindungan seperti tenda dan rumah mobil, mengingkari kewajibannya dalam kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober 2025.
Israel telah membunuh lebih dari 69.000 warga Gaza sejak Oktober 2023, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta meratakan hampir seluruh wilayah kantong tersebut.
Krisis yang terus melanda Gaza memperlihatkan bahwa gencatan senjata tidak menyelesaikan akar persoalan. Penindasan dan pendudukan tetap berlangsung.
Selama struktur penjajahan berdiri, setiap gencatan hanyalah jeda singkat, bukan solusi hakiki. Dunia tampak menganggap kondisi Gaza membaik, padahal realitas lapangan jauh lebih memburuk.
Sebagaimana dirilis sejumlah sumber internasional, Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam membentuk narasi global mengenai Gaza. Media besar dunia pun banyak yang bergerak mengikuti kepentingan geopolitik negara-negara Barat.
Tak heran, realitas pahit di lapangan kerap tertutup oleh narasi yang menyejukkan, seolah tragedi di Gaza hanyalah konflik biasa — bukan genosida dan penjajahan berkepanjangan.
Solusi Barat juga terbukti tidak pernah menyelesaikan masalah Palestina. Dukungan politik, militer, dan diplomatik kepada Israel berlangsung tanpa syarat.
Setiap upaya menuntut keadilan untuk Palestina sering kandas oleh veto negara-negara Barat, terutama AS. Akibatnya, proses perdamaian hanya menjadi instrumen melanggengkan dominasi Israel, bukan menghadirkan kebebasan bagi rakyat Palestina.
Situasi ini menunjukkan bahwa solusi sejati hanya dapat hadir jika para pemimpin negeri-negeri Muslim kembali pada prinsip-prinsip Islam: keadilan, persatuan, dan tanggung jawab moral terhadap umat. Solusi Islam bukan sekadar slogan, tetapi kerangka nyata yang menuntut: Keberanian politik untuk menolak penindasan, koordinasi antarnegara Muslim untuk bersuara tegas di forum internasional, penguatan ekonomi dan kemandirian umat, menjadikan nasib bangsa tertindas sebagai amanah, bukan komoditas politik.
Lebih dari itu, Gaza membutuhkan keberpihakan yang nyata – jihad dengan segala bentuknya dan penerapan Islam kaffah sebagai sistem hidup yang adil dan melindungi. Allah SWT berfirman:
“Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah.” (QS. Al-Baqarah: 208).
Imam As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan umat untuk menjalankan syariat Islam secara penuh, bukan setengah-setengah.
Islam kaffah bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga keberpihakan terhadap yang tertindas, penegakan keadilan, dan solidaritas kemanusiaan.
Dalam konteks Gaza, mengamalkan Islam secara kaffah berarti tidak berdiam diri di tengah penderitaan saudara Muslim. Memberikan bantuan, memperjuangkan hak pengungsi, menjaga martabat mereka, dan menolak segala bentuk ketidakadilan adalah wujud iman yang sejati. Keimanan selalu tercermin dalam tindakan.
Gaza tidak hanya membutuhkan doa, tetapi aksi nyata dari umat Islam di seluruh dunia. Semoga Allah memudahkan perjuangan warga Gaza dan membangkitkan umat untuk menolong mereka dengan cara yang benar. Wallahu a’lam bishshawab.[]














Comment