Gelombang Panas Ekstrem Melanda Dunia, Islam Solusi Paripurna

Opini1329 Views

 

 

Oleh Ranti Nuarita, S.Sos, Aktivis Muslimah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Beberapa hari belakangan ini banyak masyarakat Indonesia mengeluhkan tentang cuaca terik yang terjadi. Tidak terkecuali masyarakat di wilayah Sukabumi Jawa Barat merasakan suhu yang tak biasa dari biasanya, menjadikan masyarakat lebih gampang berkeringat ketika beraktivitas.

Saat ini dunia dalam keadaan tidak baik-baik saja, bukan hanya di Indonesia masyarakat global terutama yang berada di wilayah Asia Tengah mengalami lonjakan suhu panas.

Menurut penuturan BMKG cuaca panas yang terjadi di Indonesia karena memang Indonesia sudah mulai memasuki musim kemarau dan akibat dari fenomena gerak semu matahari yang menjadi siklus biasa setiap tahunnya, dan diprediksi bahwa musim kemarau ini akan berlangsung cukup lama, mengingat adanya fenomena El Nino.

Berbeda dengan wilayah Asia dan global lainnya mengutip dari BBC Indonesia, Rabu (26/04/2023) Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa lonjakan gelombang panas di sekitar wilayah sub-kontinen Asia Selatan, kawasan Indochina juga wilayah Asia Timur pada tahun 2023 ini termasuk yang paling signifikan lonjakan di mana saat ini, suhu terpanas berada di wilayah Bangladesh tepatnya Kumarkhali, dengan suhu maksimum harian sebesar 51,2°C pada Senin (17/4/2023) lalu.

Indonesia sendiri suhu harian tertinggi menurut pengamatan BMKG di Ciputat pada pekan lalu berada di angka 37,2°C. Secara umum suhu tertinggi yang tercatat di beberapa lokasi di wilayah Indonesia berada pada kisaran 34°C–36°C.

Jika kita tilik lebih gelombang panas, kekeringan, dan krisis iklim lainnya bukan hanya faktor alam melainkan ada tiga faktor yang disinyalir memicu krisis atau perubahan iklim di dunia. Mulai dari masifnnya penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, juga industri.

Mungkin sudah banyak dari kita yang tahu bahwa di era modern ini hampir di setap rumah memiliki kendaraan bermotor yang bahan bakarnya menggunakan fosil, di mana asap kendaraan mengandung karbondioksida yang menjadi penyumbang emisi karbon, semakin banyak kendaraan semakin banyak emisi karbon. Belum lagi laju deforestasi yang melahirkan kerusakan hutan dan kinerja poohon yang memiliki kemampuan menyerap emisi karbon menjadi terganggu. Belum cukup sampai di situ asap industri pun tidak mau kalah menjadi penyumbang emisi karbon.

Jika mengacu pada pernyataan BMKG gelombang panas ekstrem imbas perubahan iklim yang melanda wilayah-wilayah Asia dan global tidak akan terjadi di Indonesia, tetapi tentunya baik Indonesia maupun wilayah dunia mana pun juga tetap harus melakukan aksi mitigasi melawan perubahan iklim.

Mungkin banyak dari kita yang mengetahui bahwa untuk mengerem masalah iklim ini sudah banyak sekali lembaga sosial, para komunitas pecinta alam dibentuk untuk mengampanyekan menjaga hutan dan lainnya.

Namun perlu kita pahami bahwa penyebab masalah iklim yang terjadi hari ini sangat kompleks dan melibatkan banyak pihak. Maka tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan individu atau kelompok untuk mengatasinya, sebab ada faktor-faktor institusional. Tidak usah jauh-jauh bahkan ironisnya setingkat PBB saja tidak punya kapasitas politik yang mumpuni untuk mengatasi masalah bumi hari ini.

Mengapa demikian? Karena baik PBB maupun dunia hari ini berada di bawah cengkeraman sistem kapitalisme sekular di mana kebijakan ditentukan oleh tuan politik dan aktivitas dari korporasi Barat yang tak lain ialah Amerika Serikat juga negara lain yang menjadi antek-anteknya dengan orientasi utama mereka adalah materi hasil dari profit industri. Tidak peduli apakah yang mereka lakukan merusak bumi atau tidak.

Sebagai seorang muslim kita harus sadar bahwa, sungguh tidak ada solusi terbaik yang bisa menyelamatkan dunia dari masalah iklim juga kehancuran ekologis kecuali dengan merubah paradigma dan sistem politik, juga ekonomi yang ada hari ini – dengan sistem alternatif yang bersandar pada Sang Khaliq, yakni Islam. Karena sistem kapitalisme sekular yang mendominasi dunia saat ini terbukti telah gagal menjaga planet ini dari kerusakan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman;

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS. Ar-Rum: 41)

Sungguh hanya Islam yang dapat mengatasi masalah perubahan iklim, sebab syariat Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam kepemimpinan seorang khalifah akan dengan optimal menyelesaikan masalah iklim di dunia mulai dari akarnya. Negara dengan konteks Islam akan melakukan perubahan mindset bahwa setiap kebijakan yang dibuat bukan berorientasi profit industri layaknya kapitalisme sekular tetapi lebih memperhatikan aspek ekologis dan bagaimana syariat Islam mengaturnya. Negara menyiapkan penggunaan energi terbarukan misal energi surya dalam berbagai bentuk seperti solar-cell, solar farm, dan lainnya.

Belum cukup sampai di situ, negara mengumpulkan dan mengoptimalkan peran para peneliti dari seluruh negeri, yang nantinya tidak hanya dipekerjakan, tetapi juga diapresiasi dan dibiyai.

Sungguh hanya Islam satu-satunya solusi dari semua masalah kehidupan. Dengan penerapan Islam di muka bumi ini dapat dipastikan bahwa keberkahan akan menyelimuti planet Bumi ini. Wallahualam bishawab.[]

Comment