Penulis: Naimatul-Jannah | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ramadhan kembali menyapa kita. Begitu singkat hidup ini berlalu—hari demi hari, bulan demi bulan—hingga tanpa terasa setahun telah terlewati dan kini kita kembali dipertemukan dengan bulan yang penuh keistimewaan.
Marhaban ya syahrul mubarak, tamu agung umat Islam telah hadir di hadapan kita. Di dalamnya Allah melipatgandakan pahala, menurunkan keberkahan, serta melimpahkan rahmat dan ampunan. Ramadhan adalah bulan mulia yang setiap detik dan menitnya bernilai ibadah, setiap siang dan malamnya menyimpan keutamaan.
Allah melipatgandakan pahala bagi setiap mukmin yang beramal saleh. Pintu ampunan dan tobat dibuka seluas-luasnya. Pintu-pintu kebaikan dibentangkan bagi siapa saja yang menginginkannya. Sudah seharusnya umat Islam menyambutnya dengan penuh sukacita dan kesiapan iman.
Bahagia sebagai Tuntutan Keimanan
Kegembiraan dalam menyambut Ramadhan bukanlah perkara sepele dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar rasa senang karena pergantian waktu dalam kalender. Lebih dari itu, kegembiraan atas hadirnya Ramadhan adalah ekspresi iman yang hidup, tanda hati yang sehat, serta bukti kecintaan seorang hamba terhadap musim ketaatan yang Allah bentangkan.
Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58).
Ayat ini menegaskan bahwa kegembiraan yang diperintahkan Islam bukanlah kegembiraan duniawi semata—bukan pula kebahagiaan karena harta, kedudukan, atau capaian materi. Kegembiraan yang hakiki adalah kebahagiaan atas karunia Islam, iman, hidayah, dan kesempatan untuk taat kepada Allah SWT.
Sebagaimana dijelaskan para ulama, ayat tersebut mengarahkan manusia agar bergembira atas petunjuk dan agama yang benar—agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Inilah kegembiraan yang paling layak dirasakan oleh seorang mukmin, karena berkaitan dengan keselamatan hidup, ketenangan hati, dan masa depan yang abadi.
Teladan Para Sahabat dalam Menyambut Ramadhan
Teladan terbaik dalam menyambut Ramadhan tentu adalah Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Mereka menanti kedatangan Ramadhan dengan penuh harap dan kerinduan. Semangat mereka dalam menyambut bulan suci begitu luar biasa.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab menyalakan lampu-lampu di masjid untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah dan bacaan Al-Qur’an. Pada masa Ali bin Abi Thalib, ketika beliau memasuki masjid pada malam pertama Ramadhan dan melihatnya terang benderang, ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu, wahai Ibnul Khattab, sebagaimana engkau menerangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
Kedermawanan para sahabat pun meningkat drastis di bulan agung ini. Mereka semakin rajin bersedekah, meneladani Rasulullah SAW. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih, Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan—“lebih cepat daripada angin yang berhembus” (HR Bukhari dan Muslim).
Bentuk sedekah yang mereka lakukan beragam, di antaranya memberi makan dan menyiapkan hidangan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa. Selain itu, mereka bersungguh-sungguh dalam tadarus Al-Qur’an.
Utsman bin Affan, misalnya, dikenal mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari pada bulan Ramadhan. Abdullah bin Amr bin Ash juga dikenal sangat intens dalam membaca Al-Qur’an, meski Rasulullah SAW mengarahkan agar mengkhatamkannya tidak kurang dari tiga hari.
Semua itu menunjukkan betapa para sahabat menyambut Ramadhan dengan kebahagiaan yang lahir dari iman dan kesungguhan dalam beramal. Semoga Allah memberi kita kesempatan dan kemudahan untuk meneladani semangat mereka dalam menghidupkan Ramadhan dengan ketaatan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]









Comment