Gen Z dalam Himpitan Hedonisme: Antara Tekanan Sosial dan Realitas Ekonomi

Opini1239 Views

 

Penulis: Sherly Agustina, M.Ag | Penulis buku dan Pemerhati Kebijakan Publik

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam Intisari tafsir Ibnu Katsir, QS Al-Hadid: 20) ditulis, “Kesenangan dunia bersifat sementara dan melalaikan. Manusia, terutama yang muda dan kuat fisiknya, mudah kagum pada gemerlap dunia, padahal semua itu laksana tanaman hijau yang berangsur menguning, kering, dan hancur lebur.”

Generasi Z hari ini menghadapi tekanan dari berbagai arah. Di satu sisi, mereka berhadapan dengan persoalan ekonomi, biaya hidup yang meningkat, serta ketidakpastian masa depan. Di sisi lain, mereka berada dalam arus budaya konsumtif dan hedonis yang terus diproduksi melalui media sosial.

Persoalannya bukan sekadar kemampuan Gen Z memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga bagaimana mereka menemukan arah dan tujuan hidup di tengah tekanan tersebut.

Mereka berisiko diposisikan bukan sebagai generasi yang dipersiapkan untuk membangun masa depan, melainkan sebagai konsumen dalam pusaran sistem ekonomi dan budaya yang semakin konsumtif.

Tekanan Ekonomi dan Kecemasan Finansial

Deloitte Global melalui 2025 Gen Z and Millennial Survey menyebutkan bahwa biaya hidup kembali menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial. Survei yang melibatkan 23.472 responden dari 44 negara itu menunjukkan persoalan cost of living menjadi kekhawatiran utama selama empat tahun berturut-turut.

Pada 2025, sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai persoalan yang paling mengkhawatirkan, mengungguli isu lingkungan, kesehatan mental, dan stabilitas politik.

Deloitte juga mencatat 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial merasa tidak aman secara finansial. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang masing-masing berada di kisaran 30 persen dan 32 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa kecemasan ekonomi di kalangan generasi muda bukan sekadar persepsi. Ketidakpastian pekerjaan, tingginya biaya hidup, dan tekanan untuk mempertahankan gaya hidup tertentu dapat menjadi beban tersendiri.

Laman Money.kompas.com (19/2/2026) melaporkan, adanya kesenjangan antara tuntutan kehidupan modern dan kemampuan ekonomi sebagian generasi muda untuk memenuhinya.

Ketika Konsumsi Menjadi Pelarian

Di tengah tekanan ekonomi, fenomena self-reward dan healing justru semakin akrab dalam kehidupan anak muda. Nongkrong di kafe, bepergian, membeli barang yang sedang tren, hingga mengikuti gaya hidup tertentu kerap dipandang sebagai kebutuhan emosional.

Persoalannya muncul ketika aktivitas tersebut tidak lagi ditempatkan sebagai pilihan rekreasi yang wajar, tetapi menjadi standar kebahagiaan. Media sosial kemudian memperkuat tekanan melalui budaya fear of missing out (FOMO).

Gen Z setiap hari berhadapan dengan berbagai konten yang menampilkan gaya hidup artis, influencer, dan figur publik. Kondisi itu dapat menciptakan perasaan tertinggal bagi mereka yang tidak mampu mengikuti tren.

Kemewahan yang terus dipertontonkan berpotensi membuat seseorang merasa kurang, gagal, bahkan tidak berharga hanya karena kondisi ekonominya berbeda.

Dalam perspektif tulisan ini, persoalannya tidak tepat jika seluruh beban kesalahan diarahkan kepada Gen Z. Ada lingkungan sosial dan sistem ekonomi yang turut membentuk cara pandang terhadap kebahagiaan, kesuksesan, dan kebutuhan hidup.

Cengkeraman Kapitalisme Sekuler

Tekanan ekonomi dan budaya konsumtif tidak dapat dilepaskan dari sistem sosial yang menjadikan materi sebagai salah satu ukuran keberhasilan.

Dalam sistem kapitalisme, kebebasan individu dan mekanisme pasar menjadi fondasi penting dalam kehidupan ekonomi. Namun, kritik yang muncul adalah ketika negara terlalu menitikberatkan perannya sebagai regulator dan kurang hadir sebagai penjamin kesejahteraan masyarakat.

Biaya pendidikan, kesehatan, pangan, dan kebutuhan hidup yang terus meningkat, sementara kesempatan kerja dan tingkat pendapatan tidak selalu bergerak seimbang, dapat memperbesar tekanan terhadap generasi muda.

Pada saat yang sama, sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik dinilai turut memengaruhi cara manusia mencari makna dan kebahagiaan.

Ketika keberhasilan lebih banyak diukur melalui materi, popularitas, dan pencapaian duniawi, kebahagiaan pun berisiko menjadi sesuatu yang bersifat sementara.

Karena itu, istilah self-reward dan healing perlu ditempatkan secara proporsional. Rekreasi tentu bukan persoalan. Namun, menjadikan konsumsi sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi tekanan hidup dapat melahirkan siklus baru – bekerja untuk mendapatkan uang, menghabiskannya demi kesenangan, kemudian kembali menghadapi tekanan ekonomi.

Krisis Tujuan Hidup

Di balik persoalan ekonomi dan budaya konsumtif terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni krisis makna dan tujuan hidup.

Gen Z membutuhkan pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja, tetapi juga membentuk karakter, nilai, dan orientasi hidup.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tujuan penciptaan yang jelas, sebagaimana Allah berfirman dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

Dengan orientasi tersebut, ukuran kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kepemilikan materi. Kesuksesan tidak hanya diukur dari pendapatan, jabatan, popularitas, atau kemampuan mengikuti tren, tetapi juga dari ketakwaan dan kebermanfaatan bagi sesama.

Di sinilah pentingnya membangun benteng nilai bagi generasi muda. Tekanan ekonomi memang tidak otomatis hilang, tetapi seseorang yang memiliki landasan spiritual dan tujuan hidup yang kuat memiliki bekal untuk menghadapi tekanan tersebut secara lebih bijak.

Media dan Tantangan Budaya Digital

Media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir generasi muda. Media sejatinya dapat menjadi sarana pendidikan, literasi, dan pengembangan kreativitas.

Namun, arus konten yang berorientasi pada popularitas, kemewahan, dan konsumsi dapat membentuk standar kehidupan yang tidak realistis.

Konten pamer kekayaan, gaya hidup glamor, hubungan percintaan, hingga berbagai bentuk perilaku konsumtif dapat terus muncul dalam linimasa pengguna. Algoritma media sosial bahkan dapat membuat seseorang berulang kali menerima konten serupa sesuai dengan pola interaksinya.

Karena itu, persoalan Gen Z tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan individu. Keluarga, sekolah, masyarakat, industri media, dan negara memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan generasi muda.

Islam sebagai Jalan Penyelesaian

Dalam perspektif Islam, persoalan generasi tidak hanya diselesaikan pada tingkat individu, tetapi juga melalui pembentukan keluarga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan tata kelola negara.

Pertama, negara memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Rasulullah SAW bersabda, “Imam adalah ra’in (penggembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).

Prinsip tersebut menempatkan penguasa bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.

Dalam perspektif syariah yang menjadi dasar tulisan ini, sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan masyarakat. Negara juga didorong membuka kesempatan kerja serta membantu masyarakat yang membutuhkan.

Kedua, pendidikan harus membentuk kepribadian dan orientasi hidup. Pendidikan Islam tidak berhenti pada pencapaian akademik atau kesiapan kerja, tetapi membentuk syakhsiyyah Islamiyah, yakni kepribadian yang berlandaskan akidah dan memahami halal-haram.

Ketiga, sistem pergaulan Islam diarahkan untuk menjaga kehormatan manusia. Islam mengatur interaksi sosial, menjaga aurat, serta mencegah berbagai bentuk pergaulan yang dapat merusak moral dan kehormatan.

Keempat, masyarakat memiliki peran melalui amar ma’ruf nahi mungkar. Kepedulian sosial diperlukan agar generasi muda tidak menghadapi persoalan hidup seorang diri.

Keluarga, guru, dan lingkungan memiliki peran memberikan pendampingan sekaligus mengingatkan ketika terdapat perilaku yang menyimpang.

Kelima, media diarahkan sebagai sarana pendidikan dan dakwah. Dalam perspektif Islam, media seharusnya tidak hanya mengejar perhatian dan keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap akidah, moral, dan kehidupan masyarakat.

Gen Z Bukan Generasi Lemah

Gen Z bukan generasi yang lemah. Mereka adalah generasi yang tumbuh di tengah perubahan teknologi, tekanan ekonomi, serta derasnya arus informasi. Karena itu, mereka membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan perlindungan, pendidikan, kesempatan ekonomi, sekaligus arah hidup.

Persoalan self-reward, healing, dan gaya hidup konsumtif tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan generasi muda. Persoalan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari persoalan sosial yang lebih luas.

Dalam pandangan Islam, solusi terhadap persoalan generasi harus menyentuh akar masalah, mulai dari ekonomi, pendidikan, keluarga, masyarakat hingga tata kelola negara.

Islam tidak hanya menawarkan ketenangan spiritual secara individual, tetapi juga menawarkan tata kehidupan yang diyakini mampu menjaga kesejahteraan dan kehormatan manusia.

Pada akhirnya, Gen Z tidak hanya membutuhkan penghasilan yang layak, tetapi juga membutuhkan visi tentang untuk apa kehidupan dijalani. Sebab, ketika tujuan hidup hanya digantungkan pada materi, kesenangan sebesar apa pun tidak akan pernah benar-benar mencukupi.

Karena itu, membangun generasi yang kuat tidak cukup dengan meningkatkan daya beli. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang memiliki ketahanan ekonomi, karakter, nilai, dan tujuan hidup yang jelas.
Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment