Gen-Z: Penakluk Medan Perubahan di Era Digital

Opini59 Views

Penulis: Kaisa Qomaru Zayyan |
Mahasantriwati Cinta Quran Center  Kampus Pengkaderan Da’i

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA  –  Generasi muda hari ini tumbuh dan berkembang dalam ruang digital yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, ruang ini membuka peluang besar: akses ilmu yang luas, kreativitas tanpa batas, serta kesempatan membangun jejaring dan gagasan. Namun di sisi lain, dunia digital juga membawa tantangan serius, terutama bagi Generasi Z.

Tidak sedikit anak muda yang perlahan terjebak dalam arus tren, pencitraan, dan standar kesuksesan semu. Hidup seolah hanya tentang mengikuti algoritma – memiliki barang terbaru, tampil sempurna, dan terus mengejar validasi.

Di balik kesibukan membangun eksistensi itu, banyak dari mereka justru menyimpan kekosongan batin. Empati kian menipis, kebersamaan terasa hampa, dan jati diri perlahan terkikis oleh tuntutan “sukses” versi media sosial.

Sebagaimana dirilis Detiknews.com (21 April 2025), hasil penelitian Patricia dkk. (2024) menunjukkan bahwa 81 persen anak muda mengaku kerap membandingkan diri dengan orang lain setelah melihat unggahan di media sosial.

Laporan lain juga mengungkapkan bahwa 46 persen remaja usia 13–17 tahun merasa media sosial berdampak negatif pada citra tubuh mereka. Data ini menegaskan bahwa paparan digital tidak hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga membentuk persepsi diri generasi muda.

Dominasi Gen-Z di ruang digital semakin memperkuat situasi ini. Seperti diberitakan Cloudcomputing.com (12/7/ 2025, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa pada 2025 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229,4 juta jiwa, meningkat sekitar 8 juta dalam dua tahun terakhir.

Gen-Z dan Generasi Alpha—kelahiran 1997–2012—menjadi kelompok paling aktif secara daring dengan kontribusi 25,54 persen, disusul Generasi Milenial sebesar 25,17 persen.

Fakta ini menunjukkan bahwa wajah internet Indonesia sangat ditentukan oleh generasi digital native.

Namun, arus perubahan ini tidak hadir secara netral. Ruang digital bergerak dalam ekosistem yang sarat kepentingan. Media sosial, secara struktural, dikuasai oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik.

Generasi muda tumbuh dalam lanskap digital yang dikendalikan oleh logika pasar global, di mana perhatian manusia menjadi komoditas utama.

Akibatnya, generasi yang seharusnya menjadi agen perubahan justru kerap diposisikan sebagai objek konsumsi.
Nilai kapitalisme sekuler mendorong media sosial menjadi arena perlombaan validasi dan materi. Konten dangkal yang viral lebih mudah mendapat ruang dibandingkan gagasan bermakna.

Minimnya literasi digital, ditambah budaya konsumtif dan hedonistik, membuat banyak anak muda kehilangan arah. Algoritma tidak lagi sekadar alat teknis, melainkan instrumen yang secara halus membentuk pola pikir, gaya hidup, dan kebiasaan generasi.

Algoritma bekerja dengan mempelajari apa yang disukai, ditonton, dikomentari, dan dicari pengguna. Dari pola-pola tersebut, sistem kemudian mengurung manusia dalam lingkaran ketergantungan pada layar.

Sayangnya, algoritma tidak mengenal kebenaran, nilai moral, atau kemaslahatan. Ia hanya tunduk pada logika pasar yang dirancang oleh pemilik platform.

Titik kritisnya, infrastruktur digital global berada di bawah kendali korporasi raksasa—big tech—yang menguasai big data dan menentukan arus informasi dunia. Seperti dikutip Muslimahnews.net (12/12/2025), kondisi ini menjadikan ruang digital sebagai pasar raksasa bagi kepentingan segelintir pihak, dengan generasi muda sebagai konsumen utama.

Karena itu, menyelamatkan generasi dari hegemoni ruang digital menjadi sebuah keniscayaan. Teknologi seharusnya menjadi sarana perbaikan, bukan ancaman masa depan.

Upaya ini tidak cukup hanya dengan menyerukan kontrol diri dalam bermedia sosial. Di sisi lain, Gen-Z memiliki potensi kritis yang besar dan mampu menginisiasi perubahan jika diarahkan dengan benar.

Literasi pemanfaatan ruang digital menjadi langkah penting untuk membebaskan generasi dari paradigma keliru yang menjadikan media sosial semata sebagai ruang hiburan.

Generasi muda perlu diajak berpikir lebih dalam, melakukan rekonstruksi peran, dan berkontribusi pada pembangunan peradaban. Dalam konteks inilah, paradigma berpikir Islam menjadi relevan.

Islam tidak hanya berbicara tentang kemajuan teknologi, tetapi juga menempatkan pembangunan akal dan kepribadian manusia sebagai fondasi utama.

Tujuannya bukan sekadar mencetak manusia yang sukses secara duniawi, melainkan insan visioner yang berorientasi pada kebermanfaatan bagi semesta, hingga kehidupan akhirat.

Di tengah dunia yang kian rapuh—ditandai kerusakan alam, krisis kemanusiaan, dan sistem kehidupan yang timpang—generasi muda perlu diarahkan untuk menghadirkan solusi yang sistemis dan ideologis.

Gen-Z harus mampu menjadi penakluk medan perubahan di era digital, dengan menjadikan teknologi sebagai alat perjuangan, bukan perangkap yang melumpuhkan.

Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan pada pemuda semata. Diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Setiap pilar harus memiliki kesadaran kolektif untuk menjadikan ruang digital sebagai sumbu perubahan yang positif.

Bukan sekadar melahirkan kecanggihan teknologi, tetapi juga pergerakan yang shahih, yang mampu memperbaiki manusia dan sistem kehidupan secara menyeluruh.

Sebagaimana firman Allah Swt.: “Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”
(QS. Yusuf [12]: 108).

Ayat ini menjadi penegasan bahwa perubahan sejati harus dilandasi kesadaran, ilmu, dan arah perjuangan yang jelas.[]

Comment