Generasi Mulai Depresi, Islam Menjadi Solusi

 

 

Penulis: Masitah | Pegiat Media Maros

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Saat ini marak berita tentang seorang anak yang melakukan bunuh diri. Tentu ini menjadi hal serius dan menjadi pertanyaan mengapa bisa hal demikian terjadi. Dikutip dari laman media online, seorang bocah di Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Korban ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya, Rabu (22/11).

Aksi nekad bocah SD itu seperti ditulis detik.com (22/11/2023) diduga dipicu karena dilarang bermain HP. Kasatreskrim Polres Pekalongan, AKP Isnovim membenarkan adanya kejadian tersebut. Isnovim mengatakan pihaknya telah menerima adanya laporan tersebut, pada Rabu sore kemarin.

Faktor Penyebab Depresi

Sungguh miris melihat perkembangan anak saat ini, merekalah bakal calon penerus masa depan. Namun sangat disayangkan, mental mereka terbangun dengan dasar yang tak cukup kuat. Memang benar, tidak bisa dipungkiri bahwasanya banyak faktor yang menyebabkab hal tersebut terjadi. Lemahnya tatanan keluarga, kurangnya kontrol masyarakat dan tidak kondusifnya interaksi masyarakat, bahkan peran pemerintah yang masih kurang, menjadi penyebab rusaknya kehidupan sekarang.

Gadget (HP) saat ini seolah menjadi alternatif tepat untuk menangani generasi terutama pada anak.
Tentu keberadaan HP memiliki hal positif, tapi disamping itu HP memiliki dampak negatif pula.

Kemudahan untuk mengakses setiap laman menjadi pemantik munculnya berbagai pengetahuan. Dimana jika tak ada penyaringan maka semua hal bisa masuk layaknya hujan meteor. Ditambah tontonan yang serba bebas, sekalipun ada peringatan usia tontonan tetap saja itu tak bisa jadi patokan.

Belum lagi lingkungan sekolah, guru disibukkan dengan berbagai aktivitas pengadministrasian dan teman-teman yang toxic serta pembulian. Ini menjadi faktor juga munculnya mental illness. Banyak hal yang menjadi pemicu mengapa kondisi mental anak mengalami penurunan atau menyebabkan depresi. Hal ini bukan hanya berlaku pada anak tetapi pada orang dewasa juga.

Sekulerisme Asal Munculnya Berbagai Gangguan

Pada dasarnya ini terjadi karena sistem kehidupan yang membebaskan kita pada setiap hal. Orientasi kehidupan hanya mengejar materi, yang mana dipahami materi menjadi sumber kebahagian.

Berbondong-bondonglah orang untuk mengembangkan diri dengan berbagai karya tanpa memperhatikan halal-haram. Pemerintah sebagai garda terdepan ikut pula dalam mengejar materi melalui kekuasaan. Globalisasi menjadi patokan yang mengharuskan kemajuan namun minim pengontrolan. Misalnya tontonan, film kini menjadi guru terbaik bagi anak-anak.

Masih jelas teringat kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak dibawah 10 tahun dan korbannya adalah anak dibawah 5 tahun. Ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun kondisi mental generasi terus mengalami degradasi.

Pemerintah mencatat, setidaknya ada 20 kasus bunuh diri anak-anak sejak Januari 2023. Hal itu disampaikan Deputi bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Para korban bunuh diri merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Kebanyakan mereka yang bunuh diri disebabkan oleh depresi. (rri.go.id). Ini menjadi potret pilu dan kewaspadaan bagi orang tua ke depan.

Sistem Sekulerisme – memisahkan agama dari kehidupan – menjadi akar lahirnya mengapa generasi mengalami gangguan mental. Bahkan semua persoalan hidup terjadi karena keberadaan sistem ini yang mengesampingkan peran Pencipta sebagai pengatur kehidupan. Semua hal serba di bebaskan, bahkan dalam dunia pendidikan pun.

Tentu saat kebebasan itu menyebar dapat mengakibatkan lahirnya berbagai persoalan. Hingga pada puncaknya nanti tidak ada lagi generasi yang sehat secara jasmani maupun rohani. Mengapa demikian?

Sebab pemerintah yang menjadi pelindung masyarakat kehilangan perannya karena kekuasaan semu dan materi. Lingkungan masyarakat pun tidak bisa diharapkan untuk menjadi mata, karena sifat individualismenya. Ranah terakhir yakni keluarga, gagal juga sebab disibukkan dengan mengejar cuan serta rapuhnya pondasi keluarga.

Islam Menjadi Solusi Tepat Atasi Persoalan

Maka hanya Islamlah yang menjadi solusi tepat untuk menyelesaikannya. Sebelum mental illness yang menyerang generasi tambah parah, sebaiknya segera untuk di perbaiki dengan solusi pasti.

Dalam Islam, tatanan keluarga akan kuat dengan akidah. Setiap pria-wanita menikah bukan saja berlandaskan cinta, melainkan visi dan misi yang jelas, yakni terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah semata-mata karena ridho Allah SWT serta ketakwaan terhadapNya. Setiap individupun akan membangun dalam dirinya mental yang kuat dan kokoh berlandasakan akidah Islam.

Oleh karena itu, setiap individu akan mengetahui mana yang baik dan benar serta halal-haram. Dengan Islam pula, lingkungan masyarakat pun tidak akan saling apatis. Sebab menjaga silahturahmi dan saling mengingatkan itu adalah kewajiban. Yang terpenting adalah Pemerintah yang merupakan ra’in (pelayan) atas masyarakat.

Setiap bagian dari pemerintah akan menjalankan amanah dengan benar, karena esensi pertanggung jawaban. Bukan sekedar menjadi sirkuit perlombaan kekuasaan semata.
Sangat jelas terlihat, bagaimana saat Islam menjadi tampuk kekuasaan. Melahirkan berbagai generasi cerdas nan mumpuni dalam segala bidang. Mentalnya pun kuat terbangun dengan kekokohan akidah serta keilmuan.

Penerapan sanksi tegas atas tindakan kriminal menjadi motivasi untuk berhati-hati dalam beraktivitas. Pemimpin dalam hal ini Khalifah akan menjalankan tugasnya dala memastikan terpenuhinya kebutuhan masyarakat, kesejahteraan, keamanan dan keadilannya.

Hal ini bahkan bukan cuma untuk kaum Muslim saja, melainkan seluruh warga negara selama masih berada pada kekuasaan islam.

Karena generasi merupakan aset penting bagi Negara maka akan diperhatikan secara detail tentang kemakmurannya. Dengan laju globalisasi saat ini, Khalifah yang dibantu dengan strukturnya tentu akan membatasi bahkan memblokir hal-hal yang dapat membahayakan diri maupun akal.

Sungguh sangat indah jika Islam diterapkan secara keseluruhan dalam sebuah kepemimpinan (Khilafah), mengatasi berbagai persoalan kehidupan dan menjadi keseriusan kita dalam mengimani Islam. Bentuk keyakinan kita akan kebenaran iman dan bisyarah Rasulullah Shallallahu Alaihiwassalam. Wallahu’alam Bisshawab.[]

Comment