Generasi Nekat demi Viral: Freestyle dan Ancaman bagi Masa Depan Anak

Opini42 Views

Penulis:  Novita Mayasari, S.Si. | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia digital kembali menyisakan duka. Dua anak berusia TK dan SD di Lombok Timur dilaporkan meninggal dunia setelah diduga meniru aksi freestyle yang viral di media sosial dan permainan daring. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa di balik berbagai konten yang dianggap menghibur, tersimpan risiko nyata yang dapat mengancam keselamatan anak-anak.

Sebagaimana dilansir Kumparan.com (7/5/2026), Kapolsek Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, menyampaikan bahwa kedua korban sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit akibat cedera serius pada bagian leher. Namun, nyawa keduanya tidak dapat diselamatkan dan mereka meninggal dunia pada Minggu, 3 Mei 2026.

Peristiwa tersebut tidak hanya menjadi duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terpapar berbagai konten berbahaya yang beredar tanpa batas.

Pada dasarnya, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Namun, kemampuan mereka dalam menilai risiko dan memahami konsekuensi dari suatu tindakan belum berkembang secara sempurna. Karena itu, ketika melihat sesuatu yang dianggap menarik, menantang, atau sedang populer, mereka cenderung menirunya tanpa mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi.

Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah keluarga semata. Fenomena anak meniru konten berbahaya berkaitan erat dengan pola pendidikan, lingkungan sosial, budaya digital, hingga sistem perlindungan generasi yang berlaku saat ini.

Di Balik Tren Viral, Tersimpan Bahaya Nyata

Perkembangan media sosial telah mengubah cara anak-anak memperoleh informasi dan hiburan. Berbagai tren yang muncul setiap hari sering kali dikemas secara menarik, menantang, dan memancing rasa penasaran. Akibatnya, tidak sedikit anak yang terdorong untuk mencoba berbagai aksi tanpa memahami risiko yang mengintai keselamatan mereka.

Masalah ini semakin kompleks karena konten digital dapat menyebar begitu cepat. Dalam hitungan detik, sebuah video dapat ditonton jutaan orang dan menjangkau berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak yang belum memiliki kemampuan memadai untuk menyaring informasi secara kritis.

Di sisi lain, pengawasan terhadap penggunaan gawai masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Banyak anak telah memegang telepon pintar sejak usia dini tanpa pendampingan yang cukup. Mereka bebas mengakses berbagai aplikasi, bermain game, serta mengonsumsi beragam konten selama berjam-jam.

Tidak jarang, kondisi anak yang tenang saat bermain gawai dianggap sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal, di balik layar perangkat tersebut terdapat berbagai pengaruh yang dapat membentuk pola pikir, perilaku, bahkan membahayakan keselamatan mereka.

Selain keluarga, lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Sayangnya, budaya individualisme yang semakin menguat membuat sebagian masyarakat enggan terlibat dalam urusan di luar lingkup keluarganya. Akibatnya, ketika anak-anak melakukan tindakan berisiko, tidak banyak orang dewasa yang merasa perlu memberikan teguran atau peringatan.

Persoalan ini semakin diperparah oleh lemahnya pengawasan terhadap konten digital. Berbagai konten berbahaya masih dapat ditemukan dengan mudah dan terus diproduksi demi mengejar jumlah penonton, interaksi, serta popularitas. Dalam sistem yang menjadikan keuntungan sebagai orientasi utama, aspek keselamatan dan pendidikan generasi kerap terabaikan. Anak-anak pun menjadi pihak yang paling rentan menerima dampak negatif dari budaya viral tersebut.

Islam Menyelamatkan Generasi

Dalam pandangan Islam, anak merupakan amanah besar yang wajib dijaga dan dibina dengan penuh tanggung jawab. Mereka adalah generasi penerus yang kelak menentukan arah peradaban. Karena itu, perlindungan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat dan negara.

Memang benar bahwa anak yang belum balig belum dibebani hukum syariat karena akalnya belum sempurna. Namun, justru kondisi itulah yang menuntut adanya peran aktif dari orang tua dan orang-orang dewasa di sekitarnya untuk membimbing, mendidik, serta melindungi mereka dari berbagai bahaya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”

Artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk membentuk generasi yang tangguh dan berkepribadian Islam, diperlukan mekanisme perlindungan yang menyeluruh.

Pertama, peran keluarga. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjaga akidah, akhlak, serta keselamatan mereka.

Di era digital, pengawasan terhadap penggunaan teknologi menjadi bagian penting dari amanah tersebut. Orang tua perlu mengetahui konten yang ditonton anak, permainan yang dimainkan, serta aktivitas mereka di media sosial.

Kedua, peran masyarakat. Islam memandang lingkungan sebagai salah satu faktor penting dalam pendidikan generasi. Lingkungan yang baik akan mendorong lahirnya kebiasaan positif, sedangkan lingkungan yang buruk dapat menyeret anak pada perilaku yang merugikan.

Karena itu, masyarakat tidak boleh bersikap acuh terhadap kondisi generasi muda. Kepedulian bersama diperlukan agar anak-anak tumbuh dalam suasana yang aman, sehat, dan kondusif.

Ketiga, peran negara. Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan membina generasi. Negara tidak boleh membiarkan konten maupun permainan yang membahayakan anak tersebar bebas di tengah masyarakat. Media harus diarahkan untuk menjadi sarana edukasi, pembentukan karakter, dan penyebaran nilai-nilai kebaikan.

Konten yang berpotensi merusak mental, moral, maupun keselamatan anak wajib diawasi dan dibatasi secara tegas. Pada saat yang sama, negara perlu menghadirkan lebih banyak tayangan edukatif yang mampu meningkatkan ilmu, membangun akhlak, dan menguatkan kepribadian generasi muda sehingga mereka memiliki kemampuan membedakan antara yang bermanfaat dan yang membahayakan.

Tragedi meninggalnya dua anak di Lombok Timur hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak. Keselamatan generasi tidak cukup diserahkan kepada keluarga semata, melainkan memerlukan sinergi antara orang tua, masyarakat, dan negara.

Jika perlindungan tersebut dapat diwujudkan secara menyeluruh, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan arah dan jati dirinya. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment