by

Generasi Perlu Pegangan Agar Tidak Terbawa Arus

-Opini-29 views

 

Oleh : Yauma Bunga Yusyananda, Alumni Universitas Pendidikan Indonesia

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena di tengah masyarakat dan generasi hari ini cukup beragam. Sebelum fenomena Citayam Fashion Week yang sedang hangat menjadi obrolan, kita mengenal fenomena prank, berbagai challenge ataupun foody or beauty vlogger.

Semangat membangun kreatifitas di dunia digital bagi generasi muda di Indonesia khususnya, memang potensi yang luar biasa. Beberapa orang mendadak viral dan berubah hidupnya dengan popularitas dari fenomena yang terbangun di sosial media. Sebut saja Bonge, Jeje, Roy atau Kurma serta beberapa anak Dukuh Atas yang sedang disorot saat ini, sampai-sampai sekelas Sandiaga Uno ingin memberikan beasiswa pada salah satu dari mereka yang memunculkan Fenomena Citayam Fashion Week ini.

Selain Citayam Fashion Week, tidak lupa juga pernah ada Gerakan membaca Al Qur’an di Malioboro, dan hal ini juga menimbulkan pro dan kontra di masyarakat ( Suara.com 01/04/2022 ). Hal tersebut juga merupakan fenomena yang muncul di masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah. Biasanya fenomena saat itu terbangun dengan banyaknya informasi yang kita dapat di sosial media.

Dilansir Kompas.com, bahwa otak manusia memang haus dengan informasi, namun jika otak manusia mendapatkan kelebihan informasi maka informasi tersebut seperti junk food yaitu mengandung kalori yang kosong.

Dengan banyaknya informasi akan menciptakan kebingungan di masyarakat, jika tidak memiliki standar dan aturan yang menjadi standar untuk menentukan benar dan salah. Bahkan lebih halus lagi, potensi besar yang dimiliki oleh generasi bisa terbajak, seolah terlihat baik-baik saja namun pada kenyataannya energinya sudah dieksploitasi hingga habis.

Pembajakan memiliki arti pengambil alihan secara paksa, namun jika terbajak maka secara sengaja potensi generasi ini benar-benar dimanfaatkan untuk keuntungan segelintir orang.

Generasi muda saat ini sejatinya tidak mudah untuk terbawa arus berbagai fenomena agar tidak kehilangan identitas diri. Membangun identitas diri juga harus didasarkan pada penilaian yang bukan bersifat sementara. Maka ketika kita hendak membangun identitas diri, kita sandarkan pada penilaian Allah Subhanahu wa ta’alaa sebagai Al Kholiq yang menciptakan kita. Jangan menjadi generasi yang bingung, sehingga bersifat netral karena netral pun adalah pilihan dan sangat cenderung tidak memiliki pendirian.

Generasi ini harus menjadi generasi yang kuat, memiliki pendirian dan identitas yang dibangun berdasarkan aturan Allah Subhanahu wa ta’alaa agar keselamatan yang kita bangun adalah keselamatan yang bisa menjadi bekal hingga akhirat.

Genggam dunia di tanganmu, namun tetap pelajari agama sebagai pedoman hidupmu. Jika dunia seolah tidak menyukaimu karena agamamu, maka kita harus kembalikan lagi bahwa Islam berasal dari Allah, bukan nafsu manusia.

Mewujudkan generasi yang memiliki pendirian memang perlu dukungan dari dirinya, keluarganya, lingkungannya serta tempat ia hidup hingga lingkup negara.

Perlu disadari bahwa generasi kita sedang tidak baik-baik saja. Generasi saat ini menelan banyak informasi tanpa filter atau bahkan terbangun dengan kondisi yang belum memiliki pegangan dalam hidupnya.

Semoga generasi kita bukan generasi yang menjadi objek kebingungan dengan banyaknya informasi yang diterima. Semoga generasi ini bisa memahami bahwa standar hakiki menentukan segala sesuatu terutama dalam kehidupan ini perlu melibatkan Al Kholiq sebagai Sang Pencipta yang Maha Mengetahui maksud dan tujuan dari kehidupan kita ini. Wallohu’alam bi ash showab.[]

Comment