Gita Wirjawan: Kunci Transformasi Asia Tenggara Ada pada Literasi, Pendidikan, dan Energi

Pendidikan364 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Universitas Paramadina menggelar forum Meet the Leaders dengan menghadirkan Gita Wirjawan sebagai pembicara di Auditorium Benny Subianto, Kampus Kuningan, Jakarta, Kamis (4/9/2025).

Forum ke-6 yang dipandu oleh Wijayanto Samirin itu mengangkat tema “What It Takes: Southeast Asia from Periphery to Core of Global Consciousness” dan membahas tantangan serta peluang Asia Tenggara untuk menjadi pusat kesadaran global.

Dalam paparannya, Gita menyoroti lemahnya literasi di kawasan Asia Tenggara. Dari sekitar 140 juta buku yang terbit di seluruh dunia, hanya 0,26 persen yang membahas Asia Tenggara, meskipun kawasan ini dihuni lebih dari 700 juta penduduk.

“Ini menunjukkan masih lemahnya kemampuan masyarakat Asia Tenggara dalam bercerita, menguasai literasi, dan numerasi,” kata Gita.

Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II itu juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi perubahan. Data menunjukkan, sekitar 88 persen kepala keluarga dan 93 persen pemilih di Indonesia belum berpendidikan S1.

Menurut dia, investasi besar dalam pendidikan merupakan syarat utama untuk memperkuat kualitas kepemimpinan dan politik.

“Guru memiliki peran sentral dalam menyuntikkan imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang lahir dari kerja keras. Inilah modal utama generasi muda untuk melangkah maju,” ujarnya.

Selain literasi dan pendidikan, Gita menyinggung kesenjangan sosial-ekonomi di kawasan. Menurut dia, ketimpangan muncul dalam empat bentuk, yakni kekayaan, pendapatan, peluang, dan pertumbuhan ekonomi, terutama antara kota besar dan daerah kecil. Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur, khususnya energi, menjadi krusial.

Indonesia, kata Gita, membutuhkan tambahan 400.000 megawatt listrik untuk menopang modernisasi, sementara kapasitas pembangunan baru mencapai 3.000–5.000 megawatt per tahun.

Dalam konteks global, Gita membandingkan capaian Tiongkok dengan Asia Tenggara. Selama 30 tahun terakhir, produk domestik bruto (PDB) per kapita Tiongkok tumbuh 30 kali lipat, sedangkan Asia Tenggara hanya meningkat 2,7 kali lipat.

Perbedaan itu, menurutnya, dipicu oleh strategi Tiongkok yang menekankan investasi di bidang pendidikan, infrastruktur, tata kelola, daya saing, serta model politik-ekonomi yang memberi keleluasaan kota untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Gita menutup dengan menekankan makna nasionalisme. “Nasionalisme sejati tidak berhenti pada identitas, tetapi pada siapa yang mampu menikmati manfaat pembangunan.

Keterbukaan terhadap talenta, imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang dibentuk oleh kerja keras harus menjadi nilai utama generasi muda kita,” ujarnya.[]

Comment