Penulis: Rahmi Surainah, M.Pd | Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu. Gelar ibu sejatinya selalu sepaket dengan anak yang dilahirkannya. Artinya, ada dua generasi yang terhubung dalam satu ikatan amanah: ibu dan anak, yang sama-sama berjuang menjalani kehidupan sekaligus menapaki arah peradaban.
Momentum Hari Ibu semestinya menjadi ruang refleksi tentang bagaimana dua generasi ini berkarya dalam satu tujuan besar.
Seperti dirilis Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, pada peringatan Hari Ibu 2025 tema nasional yang diusung adalah “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”.
Di Kalimantan Timur, peringatan Hari Ibu ke-97 diwarnai dengan ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa, Samarinda, Kamis (11/12/2025), yang digelar oleh DP3A Kaltim.
Masih sebagaimana diberitakan Pemprov Kaltim, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Lapas Perempuan di Tenggarong. Kegiatan ini menegaskan pesan bahwa masih ada perempuan-perempuan yang membutuhkan perhatian, dukungan moral, serta kesempatan untuk bangkit dan mengembangkan diri.
Secara keseluruhan, peringatan Hari Ibu tahun ini diharapkan menjadi penguat komitmen bersama dalam meneladani perjuangan pahlawan perempuan dan mencetak generasi perempuan Kaltim yang tangguh, produktif, serta berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Ibu dan Generasi yang Terancam
Jika suatu bangsa ingin mengambil posisi sebagai pemimpin peradaban dunia, maka perhatian serius terhadap generasi dan dukungan penuh terhadap peran strategis ibu menjadi keniscayaan.
Negara seharusnya tidak memandang perempuan berdaya dan berkarya hanya ketika menghasilkan nilai material. Namun realitas hari ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya: perempuan didorong aktif di ruang publik demi menghasilkan materi, sementara peran utamanya sebagai istri dan ibu justru dipinggirkan.
Fungsi utama perempuan bahkan kerap dipersoalkan dan dianggap sebagai pemborosan waktu. Tenaga perempuan diremehkan karena pekerjaan domestik tidak dibayar. Narasi yang dibangun: perempuan berdaya adalah perempuan yang produktif secara ekonomi.
Perempuan diajak bekerja demi menyongsong Indonesia Emas 2045. Namun, pertanyaannya, bagaimana mungkin generasi emas terwujud jika fokus utama ibu justru teralihkan pada pencarian cuan?
Sekularisasi kehidupan masyarakat telah mengubah paradigma kemuliaan perempuan. Ukuran kehormatan direduksi pada keberdayaan ekonomi. Bahkan dari dalam rumah pun, ibu didorong tetap bekerja melalui penjualan daring dan aktivitas digital lainnya.
Ini bukan soal salah atau benar, melainkan soal dampak. Ketika generasi dibiarkan tenggelam dalam dunia digital tanpa filter dan pendampingan, bukankah ibu dan anak sama-sama berada dalam ancaman?
Kita patut mengakui bahwa di era digital, kapitalisme tidak hanya hadir di dunia nyata, tetapi juga menghegemoni ruang maya melalui platform.
Platform digital menjadi sarana utama kapitalisme global dalam membentuk opini, menanamkan nilai-nilai sekuler, serta mengendalikan cara pandang politik masyarakat dengan corak liberal.
Meski memiliki sisi positif, tanpa sudut pandang Islam yang kokoh, dunia digital justru melahirkan ancaman nyata seperti judi daring, pinjaman online, hingga kejahatan siber.
Karena itu, jika benar ingin melahirkan generasi emas 2045, peran utama perempuan harus dikembalikan pada fitrahnya sebagai istri dan ibu.
Kehormatan perempuan wajib dijaga. Negara seharusnya melindungi, bukan malah memperdayakan perempuan demi tuntutan ekonomi hingga berujung pada tragedi sosial dan jeruji besi.
Himpitan ekonomi akibat sistem kapitalisme telah mendorong sebagian ibu terjerumus pada situasi yang merusak martabat. Ibu yang seharusnya mempersembahkan generasi bagi peradaban justru terseret dalam pusaran masalah.
Penghormatan sejati kepada ibu adalah memastikan ia mampu menjalankan peran fitrahnya dengan aman dan bermartabat, bukan membebani dengan tuntutan “berdaya dan berkarya” ala ide kesetaraan gender feminisme.
Dua Generasi, Satu Amanah
Dalam Islam, peran ibu dijaga dan dimuliakan. Dari rahim ibu akan lahir generasi peradaban. Karena itu, peran ibu membutuhkan dukungan dan penjagaan sistemik. Di sinilah urgensi hadirnya sistem Islam di tengah umat saat ini.
Penerapan sistem Islam akan melahirkan generasi muslim berkualitas yang tumbuh dari ibu-ibu shalihah. Maka, perjuangan menegakkan aturan Islam menjadi ikhtiar mendesak yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh umat Islam.
Dua generasi satu amanah berarti ibu dan anak harus bergandengan tangan dalam berkarya menapaki peradaban. Keduanya menghadirkan kembali kehidupan Islam dan kemuliaan umat sebagai khairu ummah.
Untuk itu, dibutuhkan sosok ibu yang tangguh dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran fitrahnya agar lahir darinya generasi pemimpin dan pelopor perubahan.
Ibu harus memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh. Anak dipahami sebagai amanah Allah yang wajib dijaga dari kemaksiatan. Ibu juga dituntut tegar menghadapi tantangan pendidikan, termasuk di era digital dan kapitalisme platform yang kian agresif.
Kesadaran bahwa ibu memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan khairu ummah harus terus ditumbuhkan. Ibu berkomitmen menyampaikan dan mendakwahkan pemahaman Islam kepada anak-anak dan generasi muda, sekaligus menularkan keyakinan, semangat, dan komitmen dalam menolong agama Allah.
Generasi muda Islam adalah milik umat. Mereka harus dirangkul dan digandeng erat dalam jalan perjuangan bersama. Di atas semua ikhtiar itu, ibu harus memperkuat doa dan kedekatan kepada Allah Swt. Namun, perjuangan ini tidak mungkin dijalani sendiri.
Diperlukan dukungan kolektif dari kaum muslimin yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab membangkitkan peradaban mulia. Mari berkarya menapaki peradaban. Dua generasi, satu amanah. Wallahu a’lam bisshawab.[]









Comment