![]() |
| Heidy Sofiyantri |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Demam korea atau korean wave sudah berkembang di Indonesia. Hal ini diakibatkan karena penyebaran dan pengaruh budaya korea di Indonesia,terutama melalui dunia entertainment seperti musik pop korea dan drama-drama korea.
Budaya asing sudah mencuat dan berbaur di masyarakat saat ini yaitu dikalangan anak sekolah, mahasiswa sampai kaum ibu-ibu pun demam korea. Mulai dari style nya, budaya nya, bahasanya, makanan, cara berpakain mereka tirukan.
Tak jarang istilah (bahasa) korea dibawa dalam bahasa gaul seperti ‘daebak’, ‘oppa’ dan hal-hal yang lain yang berhubungan dengan korea sering direspon secara berlebihan, seperti berteriak histeris terhadap boy band atau girl band korea, merayakan ulang tahun aktor/aktris korea.
Fanatisme yang tinggi,euphoria mereka berlebihan di area konser k-pop biasanya dipadati sejumlah fans memenuhi area konser dan rela mengeluarkan uang untuk pembelian tiket yang cukup mahal. Drakor lovers cenderung menghabiskan waktu berjam-jam bahkan sering begadang demi mengikuti setiap episode yang hampir selalu membuat penasaran untuk di ikuti.
Mereka pun menantikan aktris/aktor berparas menawan yang akan bermain sebagai tokoh utama dalam drama tsb.Yang juga akan mengakibatkan kecanduan yang berdampak negatif. Kecanggihan teknologi mempermudah mendapat informasi apapun, begitu juga budaya asing yang masuk dengan mudahnya kita dapati.
Padahal budaya asing yang masuk belum tentu sesuai dengan syariat Islam, bisa jadi merusak aqidah. Sebagai seorang muslim kita harus terikat dengan aturan islam, harus bisa memilih mana yang sesuai atau tidak. Jangan sampai ikut-ikutan trend saja.
Terutama dalam cara pandang tentang kehidupan mereka, pakaian, makanan, pergaulan, tingkah laku, dll. Tidak sesuai dengan islam.
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR. Ahmad).
Yang harus diikuti dan diidolakan hanyalah apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah SAW dan para sahabat saja bukan yang lain.
Masih banyak hal-hal yang bermanfaat yang bisa dilakukan, apalagi sebagai seorang ummu wa robbatul bait dan ummu ajyal, mendidik anak-anak sebagai generasi penerus peradaban yang mulia adalah kewajiban, walaupun menonton hukum nya mubah. Tetapi menonton konser dimana terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan itu diharamkan dalam islam.
Melalaikan kewajiban dan cenderung dalam perbuatan maksiat yang kaum muslim lakukan, memang itu target mereka.
“Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. TQS : Al – Baqoroh : 120
Yang harus kita lakukan sebagai seorang hamba-Nya, adalah mendekatkan diri kepada Sang Kholiq, menyibukkan diri datang ke majlis-majlis ilmu atau kajian-kanjian, membaca al quran, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya. Agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.
Selain solusi dari individu juga ada dukungan atau peran masyarakat dan negara. Dimana pemerintah harus dengan tegas memberikan kebijakan terkait infomasi ataupun tontonan yang layak di konsumsi masyarakat yang sesuai dengan Islam, tanpa harus merusak aqidah.
Bencana paling besar sekarang yang kita alami adalah karena kita tidak sadar sedang ada bencana.Wallahua’lam bi showab.[]
Penulis adalah seorng ibu rmah tangga










Comment