by

Anna Ummu Maryam: Perayaan Tahun Baru Bukan Ajaran Islam

Anna Ummu Maryam
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah Kota Banda Aceh kembali melarang warganya menggunakan kembang api untuk merayakan tahun baru. Pada malam pergantian tahun, petugas akan disiagakan untuk mencegah adanya pesta kembang api. 
“Pada malam pergantian tahun baru masehi 1 Januari 2019 nanti kita harus mampu mengulang keberhasilan tahun lalu, bahkan harus lebih sukses. Tahun lalu kita berhasil mengawal malam tahun baru tanpa kembang api, mercon, terompet, dan pesta atau hura-hura,” kata Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman saat dikonfirmasi, Kamis (13/12/2018). 
Untuk mencegah adanya perayaan tahun baru, Pemkot Banda Aceh bersama Forum Komukasi Pemerintah Daerah (Forkopimda) sudah menggelar rapat. Semua unsur baik Ketua Pengadilan Negeri, Ketua Mahkamah Syariah, dan lainnya sepakat melarang perayaan malam pergantian tahun. 
Dinas Syariat Islam juga tolong disosialisasikan melalui khatib Salat Jumat perihal seruan bersama di setiap masjid se-Banda Aceh,” jelas Aminullah. 
Berikut lima poin seruan yang disepakati Forkopimda Banda Aceh terkait pelarangan perayaan malam tahun baru masehi 2019:
1. Diminta kepada warga Kota Banda Aceh agar pada malam pergantian Tahun Baru Masehi 1 Januari 2019, tidak melakukan perayaan seperti pesta kembang api, mercon/petasan, meniup terompet, balap-balapan kendaraan dan permainan/kegiatan hura-hura lainnya yang tidak bermanfaat serta bertentangan dengan Syariat Islam dan Adat Istiadat Aceh
2. Dilarang memperjualbelikan petasan/mercon, kembang api, terompet atau sejenisnya
3. Mari kita bersama memperkokoh kesatuan dan persatuan serta kerukunan umat beragama guna memelihara perdamaian, keamanan dan ketertiban di dalam kehidupan masyarakat.
4. Mari kita bersama meningkatkan kepedulian dalam menegakkan Syariat Islam dengan tidak melakukan berbagai kegiatan yang melanggar peraturan perundang-undangan dan Qanun Syariat Islam, serta menjaga jati diri warga Kota Banda Aceh yang Gemilang dalam Bingkai Syariah.
5. Demikianlah Seruan Bersama ini disampaikan untuk dimaklumi dan dipatuhi serta menjadi pedoman bagi semua pihak.
(DetikNews,Com 13/12/2018 ).
Sangat patut untuk diapresiasi akan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Aceh,  mengingat tahun baru Masehi sudah di depan mata. Mengingat moment ini bagi sebagian masyarakat masih dijadikan  sebagai sebuah perayaan tahunan karena belum memahami makna dari perayaan tersebut.
Maka ada beberapa hal yang harus di ketahui dalam perayaan tahun baru,  yaitu : 
Pertama,  perayaan tahun baru adalah perayaan yang dilakukan oleh orang kafir,  dengan meniup terompet,  bermain petasan dan menghabiskan malam berpesta bersama sambil menunggu pergantian tahun. 
Dari Amr ibn Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,
 لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ
“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR Tirmidzi, hasan).
Kedua, Islam melarang bagi kaum muslim untuk menyerupai kebiasaan orang-orang kafir dalam segala hal.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)
Ketiga,  melakukan perbuatan yang tak ada syari’atnya dalam islam adalah bentuk pelanggaran atau berdosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda:
عليكم بسنتي وسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِييْنَ مِنْ بَعْدِي ، تَمَسَّكُوا بها، وعَضُّوا عليها بالنَّوَاجِذِ ،وإيَّاكُم ومُحْدَثَاتِ الأمورِ؛ فإِنَّ كلَّ بدعةٍ ضلالةٌ
“Wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).
Keempat,  sesungguhnya takutlah kita akan teguran dari Allah atas kelalaian dan ketidakfahaman kita.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)
Kelima,  saling mengingatkan dalam kebaikan dan menyelamatkan saudara kita sesama muslim untuk tidak melakukan kemaksiatan. 
Maka peran negara amat penting dalam pandangan islam,  karena negara atau pemerintah adalah penjaga keterlaksanaan hukum Allah ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Yang mana kekuasaan dan kekuatannya lebih besar dibandingkan individu maupun jamaah, dan ini sesuai sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt.
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Katakanlah: ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk…‘” (QS. An Nuur: 54).
Maka jelas tindakan ini bukanlah tidak toleran pada agama lain,  tapi semata-mata terlaksananya perintah Allah bagi setiap muslim.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 12 =

Rekomendasi Berita