by

Hipokrisi Para Penguasa, Derita Rakyat Palestina

-Opini-467 Views

 

Oleh A. Maleeka, Pelajar/Homeschooler

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –Selama 74 tahun Israel tidak memberikan keluasan bagi penduduk Al-Aqsa dalam bernegara. Bahkan dalam peta dunia, tak lagi dapat ditemukan negara bernama Palestina.

Bagi mereka, Ramadan menjadi bulan perjuangan yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus melewati bulan yang mulia dengan iringan kebengisan zionis Israel yang kian menggila.

Seolah memberikan perhatian khusus, lagi dan lagi, Israel tidak membiarkan muslim Palestina untuk nyaman dalam beribadah di bulan Ramadan. Penyiksaan, penganiayaan, serta suara tembakan dan ledakan begitu bersahabat dengan mereka yang tengah berpuasa, atau yang sedang menjalani salat di Masjidilaqsa.

Dikutip CNBC Indonesia, di tengah bulan Ramadan ini, pasukan Israel tiba-tiba menyerbu kompleks Masjidil Aqsa di Yerusalem Timur pada Jumat subuh dini hari (15/4/2022), ketika ribuan jemaah sedang berkumpul di masjid untuk salat subuh.

Akibatnya, setidaknya 158 warga Palestina dikabarkan terluka dalam kekerasan ketika pasukan Israel menahan ratusan warga, seperti  dikutip dari Aljazeera, Sabtu (16/4/2022).

“Ada banyak orang yang terluka, mereka menembakkan peluru karet di dalam kompleks Masjidil Aqsa. Mereka memukuli semua orang, bahkan paramedis.” kata al-Khatib, yang mengalami patah tangan.

Mirisnya lagi, kekejaman ini terjadi di tengah eratnya hubungan Israel dengan pemimpin muslim di dunia. Seakan-akan tak ada simpati untuk rakyat Palestina memperjuangkan nasibnya sendirian.

Dikutip dari Muslimah News Com – Presiden Erdogan menyatakan negaranya dan Israel berusaha menghidupkan kembali dialog politik bilateral berdasarkan kepentingan bersama. Sementara Perdana Menteri Israel Naftali Bennett berkata, “Sambutan hangat untuk Presiden Israel Isaac Herzog, lagu kebangsaan Israel di Istana di Ankara, momen yang menyenangkan.”

Semua kenyataan ini tentulah sangat memilukan. Terlebih selama ini negeri-negeri muslim dianggap sebagai mitra strategis bagi rakyat Palestina  memperjuangkan hak-hak mereka.
Suara lantang penguasa dalam menyoal Palestina, hanya sebuah sikap hipokrit dan sandiwara untuk menutup kerakusan atas dunia.

Mereka keras mengutuk Rusia dalam aksinya di Ukraina, tetapi diam ketika terjadinya pembantaian dan kezaliman yang dilakukan Israel pada rakyat Palestina dari masa ke masa. Standar ganda yang ada, cukup membuat paham ketika media sosial sangat membatasi unggahan tentang negeri Palestina.

Tiak ada satu pun pemimpin (muslim) di dunia yang serius dalam membela penduduk Al-Aqsa? Tidaklah heran ketika masalah di Palestina tak kunjung selesai, karena berharap pada penguasa hanyalah buang-buang waktu saja. Mereka butuh pelindung yang nyata, tak cukup hanya aksi demo, protes Dan kutukan semata.

Fakta memperlihatkan bahwa zionis Israel tak paham bahasa manusia, yang mereka paham hanyalah bahasa senjata. Maka, mengerahkan kekuatan militer dan kepemimpinan Islam merupakan tindakan yang dibutuhkan umat Islam untuk memerdekakan Palestina.

Kepemimpinan Islam memiliki kekuatan politik dan militer, sekaligus juga mengemban misi penerapan syariat Islam agar rahmat bagi seluruh alam dapat terealisasikan. Mengingat bahwa sistem Islam pernah berdiri lebih dari 13 abad lamanya, membuktikan bahwa umat Islam pernah menjadi umat terbaik di dunia dengan kegemilangan peradabannya.

Rahasia kejayaan Islam selama berabad-abad terletak pada pundak seorang khalifah yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kafah).

Ikatan persaudaraan antara sesama muslim diibaratkan seperti satu tubuh. Jika menginjak pecahan kaca, otomatis mulut yang akan mengaduh, mata yang meneteskan air mata, tangan yang memegangi bagian luka, dan darah akan membentuk antibodi supaya tidak infeksi.

Oleh sebab itu, tak ada alasan bagi umat muslim untuk tak peduli dengan saudara seiman yang terjajah atau teraniaya di belahan dunia lainnya.

Meski saat ini tak ada senjata untuk melawan mereka (zionis Israel), solusi yang sebanding adalah umat muslim harus memiliki sebuah negara adidaya yang menguasai dunia. Sebuah negara yang dipimpin oleh seorang khalifah yang mampu menyatukan umat muslim yang saat ini memiliki sekat oleh batas negara.

Hari ini, tugas kita sebagai muslim adalah berusaha, mengambil langkah yang sebelumnya Rasulullah contohkan. Hasilnya, hanya Allah yang berhak menentukan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105).Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment