HM Soedjono, MBA: Lawrence Wong  Pemimpin Visioner yang Pahami Arah Dunia Baru

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  — Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memperingatkan bahwa dunia tengah memasuki masa transisi besar menuju tatanan global baru yang “lebih tidak stabil, tidak pasti, dan penuh turbulensi.”

Dalam wawancara dengan Roula Khalaf, Editor Financial Times pekan lalu, Wong menggambarkan kondisi ini sebagai fase “post-American order” — di mana peran dominan Amerika Serikat mulai memudar dan belum ada kekuatan lain yang siap menggantikan.

Menurut Wong, dunia “sedang bergerak menuju sistem multipolar” yang diwarnai oleh rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Ia menyebut masa ini sebagai periode yang “akan berantakan dan tidak bisa diprediksi, mungkin berlangsung selama satu dekade atau lebih.”

“Kita harus bersiap menghadapi turbulensi yang lebih besar. Dunia yang dulu stabil dan terbuka kini mulai retak. Negara-negara seperti Singapura harus menyesuaikan diri lebih cepat dari sebelumnya,” ujar Wong dalam wawancara tersebut.

Wong menegaskan, di tengah ketidakpastian ini, Singapura memilih bersikap aktif dengan memperkuat kerja sama dengan negara-negara “sehaluan” dan menolak kembali ke sistem blok eksklusif.

“Kami tidak akan menunggu keajaiban terjadi. Kami akan bergerak sekarang, membangun arsitektur multilateral baru bersama mitra yang berpikiran terbuka,” katanya.

Ia juga menilai bahwa dunia multipolar tidak otomatis menjamin stabilitas. “Tanpa kepemimpinan yang inklusif, multipolaritas bisa berarti fragmentasi dan konflik yang lebih sering,” tegasnya.

Lawrence Wong, PM Singapura,  Pemimpin Visioner di Tengah Arah Dunia yang Berubah

Konsultan bisnis HM. Soedjono, MBA, menilai pandangan Lawrence Wong sebagai cerminan kepemimpinan visioner yang memahami arah zaman. Menurutnya, Wong bukan sekadar teknokrat, tetapi pemimpin dengan kejelasan arah dan kemampuan membaca dinamika global secara realistis.

“Lawrence Wong bukan sekadar birokrat, tapi pemimpin dengan pandangan jauh ke depan. Ia tahu dunia sedang berubah dan paham bagaimana menempatkan Singapura di tengah pusaran perubahan itu,” ujar HM. Soedjono, MBA jebolan Harvard University yang juga pernah menjabat Direktur Utama Sempati Air, Senin (27/10/25).

Soedjono menilai, ketenangan dan rasionalitas Wong dalam menghadapi gejolak global adalah karakter penting di masa transisi dunia saat ini.

“Ia tidak reaktif, tidak emosional. Ia tahu bahwa turbulensi ini bukan akhir dunia, melainkan jalan menuju keseimbangan baru. Dan Singapura, seperti biasa, menyiapkan diri lebih awal,” tambahnya.

Menurut HM Soedjono, keunggulan Wong terletak pada kemampuannya menghubungkan isu global dengan kepentingan domestik secara proporsional.

“Wong berbicara tentang dunia multipolar tapi tetap berpijak pada kesejahteraan rakyatnya. Itu keseimbangan yang langka di era politik cepat dan reaktif seperti sekarang,” ujarnya.

Ia juga menilai, kepemimpinan reflektif seperti Wong makin jarang ditemukan. “Banyak pemimpin yang sibuk menanggapi headline harian, tapi Wong berpikir dalam horizon jangka panjang. Itu ciri pemimpin sejati.”

Menanggapi konsep dunia multipolar ala Wong, Soedjono menawarkan gagasan “dunia tiga kutub” sebagai bentuk keseimbangan global yang lebih kokoh.

“Saya melihat dunia seperti meja. Meja berkaki satu atau dua tak akan stabil lama. Tapi jika ada tiga kaki yang seimbang, ia berdiri kokoh,” ujarnya.

Menurutnya, kutub ketiga bisa lahir dari kolaborasi negara-negara non-blok yang memilih kerja sama daripada polarisasi.

“Negara-negara non-blok harus berani mengambil posisi moral dan politik yang menyeimbangkan. Dunia butuh kemitraan, bukan konfrontasi,” tegas HM. Soedjono.

Dalam pandangannya, Singapura menjadi contoh nyata negara kecil yang mampu bertahan dan berpengaruh karena memahami ritme perubahan global.

“Singapura tidak punya sumber daya alam besar, tapi punya kejelasan arah dan konsistensi kebijakan. Wong hanya meneruskan tradisi berpikir jernih dan disiplin yang dibangun para pendahulunya,” jelas HM. Soedjono.

Ia berharap Indonesia dapat meneladani pendekatan strategis tersebut.

“Negara kita besar dan potensinya luar biasa. Tapi tanpa disiplin berpikir dan kesinambungan kebijakan seperti Singapura, kita mudah kehilangan arah di tengah badai global,” tutupnya.[]

Comment