Hujan Mikroplastik: Potret Gagalnya Tata Kelola Lingkungan

Opini296 Views

 

Penulis: Fanissa Narita, M.Pd | Pendidik dan Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebagaimana dilaporkan Detik.com (26/11/2025), fenomena hujan mikroplastik kini terdeteksi bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di Solo dan Boyolali dengan tingkat cemaran yang mengkhawatirkan. Temuan ini menguatkan hasil penelitian ECOTON yang dilakukan pada Mei–Juli 2025 di 18 kota di seluruh Indonesia.

Laman Bisnis.com (29/10/2025) menulis, seluruh kota yang diteliti tercemar mikroplastik. Jakarta Pusat mencatat tingkat partikel tertinggi, sementara Kota Malang menjadi wilayah dengan temuan terendah.

Detik.com (26/11/2025), menjelaskan bahwa pendiri Ecoton Foundation menyebut ada tiga pemicu utama kontaminasi air hujan oleh mikroplastik: pembakaran sampah terbuka, abrasi ban dan rem kendaraan bermotor, serta tumpukan sampah plastik yang melepaskan partikel ke udara hingga terbawa hujan.

Sebagaimana ditulis UGM.ac.id (24/10/2025), ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia juga sangat besar. Pada penelitian hewan, mikroplastik ditemukan di organ dan berpotensi menimbulkan gangguan reproduksi.

Akar Masalah: Bukan Sekadar Perilaku Individu

Fenomena hujan mikroplastik yang terjadi di berbagai wilayah merupakan alarm keras akan gagalnya tata kelola lingkungan di Indonesia.

Selama ini masyarakat kerap dijadikan kambing hitam, padahal persoalan ini merupakan hasil dari kerusakan sistemik—mulai dari buruknya manajemen sampah nasional hingga minimnya tanggung jawab industri dalam kerangka ekonomi kapitalis.

Kebijakan pemerintah lebih menitikberatkan pada pengelolaan hilir seperti TPA dan TPST. Sementara aspek hulu—kebijakan pengurangan sampah, edukasi publik, fasilitas pemilahan, dan pengawasan industri—masih lemah.

Akibatnya, sampah yang seharusnya dapat dipilah dan diolah justru bercampur dan berakhir dalam praktik open dumping, solusi paling mudah namun paling merusak.

Regulasi industri pun longgar. Produksi plastik sekali pakai tidak dikendalikan ketat, standar emisi lemah, dan proses daur ulang tetap menghasilkan residu berbahaya. Industri tetap memproduksi plastik dalam jumlah besar tanpa tanggung jawab ekologis yang memadai.

Ironisnya, skema industri daur ulang justru menambah beban baru. Sebagaimana sering terjadi di negara berkembang, Indonesia menjadi tujuan ekspor sampah plastik negara maju karena regulasinya longgar.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku daur ulang, sampah plastik impor masuk dengan risiko impuritas tinggi. Alhasil, masalah sampah domestik belum selesai, Indonesia justru menanggung sampah global.

Akar persoalan ini jelas bahwa paradigma kapitalisme yang menempatkan alam sebagai komoditas bebas eksploitasi. Selama pengelolaan lingkungan tunduk pada logika profit, persoalan hanya akan terus berulang.

Solusi Lingkungan: Dari Profit ke Amanah

Selama alam dianggap komoditas, kerusakan akan terus terjadi. Solusi yang lahir dari sistem kapitalis hanya bersifat parsial dan jangka pendek. Islam menawarkan paradigma berbeda: alam adalah amanah. Manusia sebagai khalifah fil ard ditugaskan menjaga dan memakmurkan bumi, bukan merusaknya.

Kesadaran menjaga lingkungan dibangun mulai dari individu, diperkuat masyarakat, dan ditopang negara. Negara berperan besar dalam edukasi publik, penerapan regulasi tegas, pembatasan plastik sekali pakai, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, dan pengaturan industri.

Gaya hidup anti mubazir yang diajarkan Islam adalah rem bagi perilaku konsumtif yang menghasilkan tumpukan sampah plastik, fesyen, dan limbah lainnya.

Dalam ekonomi Islam, industri tidak dibiarkan berjalan semata-mata oleh mekanisme pasar. Negara adalah ra’in (pengurus) rakyat dan bertanggung jawab mengawasi produksi, distribusi, hingga dampaknya terhadap lingkungan. Negara memiliki kewenangan untuk menindak, bahkan menghentikan kegiatan industri yang merusak lingkungan—tanpa kompromi politik atau negosiasi kepentingan.

Jika tata kelola hulu tertata, maka residu hilir akan jauh berkurang. Negara bersama masyarakat dapat mengembangkan inovasi pengelolaan limbah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Persoalan hujan mikroplastik dan buruknya pengelolaan sampah bukanlah masalah perilaku individu semata, melainkan persoalan struktural yang tidak mungkin terselesaikan dalam sistem kapitalis yang melemahkan peran negara dan memberi ruang besar bagi industri.

Tata kelola lingkungan yang berbasis amanah, berorientasi kemaslahatan, dan menjaga keseimbangan alam hanya dapat terwujud dalam sistem pemerintahan Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment