Ibu, Pemuda dan Kebangkitan Islam

Opini71 Views

Penulis: Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS | Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ada kegelisahan yang sulit ditepis ketika kita menatap wajah generasi hari ini. Mereka tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang nyaris tanpa jeda, namun pelan-pelan kehilangan arah tentang siapa dirinya dan untuk apa hidup ini dijalani. Jari mereka lincah menari di layar gawai, cepat menyerap informasi, tetapi rapuh ketika diminta menegaskan identitasnya sebagai Muslim.

Sekularisasi tidak datang dengan paksaan, melainkan lewat pembiasaan. Agama dipersempit menjadi urusan ibadah personal, sementara cara berpikir, bermimpi, dan menentukan tujuan hidup sepenuhnya dibentuk oleh standar dunia.

Di ruang digital, pemuda Muslim dibanjiri narasi kebebasan, kesenangan instan, dan pencapaian materi. Mereka diajak mengejar validasi, popularitas, dan gaya hidup, namun dijauhkan dari kesadaran sebagai pelopor perubahan. Islam hadir sebagai simbol, bukan sebagai ideologi.

Akibatnya, banyak pemuda tumbuh cerdas secara teknis, tetapi kosong secara makna. Mereka mudah cemas, bingung menentukan arah, dan kehilangan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Padahal sejarah Islam justru dibangun oleh pemuda yang jernih aqidahnya dan kokoh sikapnya di tengah tekanan zaman.

Kondisi kaum ibu pun tidak kalah memprihatinkan. Di balik jargon pemberdayaan perempuan, tersimpan realitas pahit bahwa sistem Kapitalisme telah merampas kemuliaan peran mereka. Ibu tidak lagi diposisikan sebagai ummun wa rabbatul bayt, madrasah pertama bagi generasi, tetapi direduksi menjadi objek pasar dan mesin produksi.

Nilai seorang ibu sering diukur dari produktivitas ekonomi, bukan dari kontribusinya dalam membentuk generasi berkepribadian Islam.

Tekanan ini membuat banyak ibu kelelahan secara fisik dan batin. Mereka dituntut berperan ganda, namun minim pembinaan ruhiyah dan pemikiran Islam.

Ketika peran strategis ibu dilemahkan, generasi yang tumbuh pun kehilangan fondasi. Anak-anak dibesarkan dengan fasilitas, tetapi miskin arah. Inilah krisis yang sering luput disadari, karena dibungkus narasi kemajuan dan modernitas.

Akar persoalan dari semua ini bukan sekadar lemahnya moral individu. Digitalisasi yang hari ini kita nikmati berada di bawah hegemoni kapitalisme global. Ia tidak netral. Di balik kemudahan dan hiburan, terselip misi ideologis untuk menjauhkan umat dari Islam sebagai cara pandang hidup.

Algoritma media sosial, budaya populer, hingga industri hiburan secara sistematis menormalisasi gaya hidup sekuler dan menjauhkan umat dari pemikiran Islam ideologis.

Negara sekuler turut memperparah keadaan. Dengan memisahkan agama dari urusan publik, negara memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek kebijakan dan komoditas ekonomi.

Pendidikan diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, bukan pembentuk kepribadian Islam. Agama diajarkan sebatas nilai moral dan ritual, bukan sebagai sistem yang mengatur kehidupan.

Akibatnya, Islam kaffah terasa asing, bahkan dianggap tidak relevan dalam mengatur realitas.

Dalam kondisi seperti inilah, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen. Di tengah sistem yang abai bahkan memusuhi Islam, jamaah dakwah ini hadir sebagai penjaga kesadaran umat.

Ia tidak sekadar mengajak pada kebaikan parsial, tetapi membina umat dengan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh. Ibu dan generasi muda dibina agar memiliki kepribadian Islam, memahami realitas dengan kacamata Islam, serta siap memperjuangkan perubahan yang hakiki.

Landasan kewajiban ini ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 104, bahwa harus ada segolongan umat yang bangkit menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar.

Ayat ini bukan sekadar seruan moral, melainkan panggilan tanggung jawab yang agung. Dakwah tidak dimaksudkan berjalan sendiri-sendiri, apalagi seadanya, tetapi membutuhkan jamaah yang terorganisir, berjiwa ideologis, dan memiliki visi perubahan yang jelas.

Sebab dakwah bukan hanya untuk menenangkan luka umat, melainkan untuk membangunkan kesadarannya, menggerakkan langkahnya, dan menuntunnya menuju kebangkitan yang Allah ridai.

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan yang jelas. Pada fase Makkah, beliau memulai dakwah dengan tatsqif, pembinaan aqidah dan pemikiran secara mendalam. Para sahabat dibentuk menjadi pribadi yang sadar akan kebatilan sistem jahiliah dan yakin penuh pada kebenaran Islam.

Dari proses inilah lahir generasi yang tidak silau oleh kekuasaan, tidak gentar oleh tekanan, dan siap memikul amanah perubahan.

Tahapan dakwah Rasulullah ﷺ tidak pernah berhenti pada pembinaan individu semata. Setelah aqidah dan pemikiran umat ditegakkan, beliau turun berinteraksi dengan masyarakat, membongkar kebatilan yang dianggap kebenaran, serta menggugat sistem jahiliah yang menindas manusia.

Dakwah ini tidak kompromi dengan kezaliman, namun juga tidak lahir dari emosi sesaat. Hingga akhirnya, dengan izin Allah, dakwah tersebut berujung pada istilamul hukmi, penyerahan kekuasaan agar Islam diterapkan secara menyeluruh sebagai sistem kehidupan. Inilah dakwah yang melahirkan peradaban agung, dakwah yang mengubah arah sejarah, bukan sekadar membentuk kesalehan personal yang terkurung di ruang privat.

Membina ibu dan generasi muda dalam jamaah dakwah Islam ideologis sejatinya adalah ikhtiar paling mendasar untuk menyiapkan kebangkitan yang hakiki. Ketika seorang ibu tercerahkan oleh Islam kaffah, ia tidak hanya mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang, tetapi juga menanamkan aqidah, keberanian, dan arah hidup yang lurus.

Dari rahim dan pelukannya lahir generasi yang tidak mudah goyah oleh arus zaman. Sementara itu, pemuda yang dibina secara ideologis tidak akan tumbuh sebagai penonton sejarah, apalagi korban sistem, melainkan sebagai pelopor perubahan yang sadar akan amanahnya.

Dari hati, pikiran, dan langkah merekalah, dengan izin Allah, Islam kembali memimpin kehidupan dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu A’laam Bisshawaab.[]

Comment