RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali melambat. Pada triwulan III 2025, laju ekonomi nasional tercatat 5,04 persen secara tahunan (year-on-year), turun dari 5,12 persen pada triwulan sebelumnya. Angka ini memberi sinyal bahwa target pertumbuhan 5,2 persen yang tercantum dalam APBN 2025 tampaknya kian sulit tercapai.
Lembaga riset ekonomi INDEF menilai perlambatan ini bukan sekadar siklus tahunan, melainkan pertanda bahwa mesin utama ekonomi—yakni konsumsi rumah tangga dan investasi—belum bekerja maksimal. Dalam keterangan tertulisnya, INDEF mengeluarkan lima catatan penting sekaligus rekomendasi kebijakan untuk “menghentikan perlambatan ekonomi” tersebut.
Catatan pertama, laju konsumsi rumah tangga masih tersendat. Sejak triwulan IV 2023, pertumbuhannya tak pernah menembus 5 persen. Pada triwulan III tahun ini, hanya tumbuh 4,89 persen, sedikit di bawah capaian tahun lalu (4,91 persen).
“Belum ada resep mujarab untuk mengungkit daya beli masyarakat,” tulis INDEF. Padahal konsumsi rumah tangga masih menyumbang porsi terbesar terhadap produk domestik bruto—mencapai 53,14 persen. Tanpa lonjakan konsumsi, sulit bagi Indonesia mengejar target pertumbuhan 5,2 persen.
Pendorong kedua ekonomi, yakni investasi (PMTB), juga menunjukkan perlambatan. Pada triwulan III 2025, investasi hanya tumbuh 5,04 persen, lebih rendah dari 5,16 persen setahun sebelumnya.
Menurut INDEF, kondisi ini mencerminkan masih adanya gangguan serius dalam iklim investasi.
“Tanpa investasi yang kuat, sulit bagi Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menuju pertumbuhan 8 persen,” tegas lembaga tersebut.
Meski begitu, ada titik terang dari sektor ekspor. Laju ekspor tumbuh 9,91 persen, naik dari 8,79 persen pada periode sama tahun lalu. Capaian ini dianggap sebagai bukti resiliensi ekspor Indonesia di tengah panasnya perang dagang Amerika Serikat dengan sejumlah mitra global.
Namun pada sektor jasa ekspor, khususnya pariwisata, pertumbuhannya melambat dari 14,4 persen (2024) menjadi 7,62 persen. INDEF menilai pemerintah perlu memperkuat promosi wisata dan memperbaiki konektivitas untuk mendongkrak kunjungan mancanegara.
Berbeda dengan konsumsi dan investasi, industri pengolahan nonmigas justru mencatat pertumbuhan di atas rata-rata ekonomi nasional, yakni 5,58 persen. Angka ini naik signifikan dari 4,84 persen pada tahun lalu.
Peningkatan tersebut didorong oleh lonjakan permintaan ekspor produk industri. Karena itu, INDEF menekankan pentingnya menjaga pasar ekspor sekaligus memperkuat konsumsi produk industri dalam negeri agar sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Sektor pertanian menunjukkan perbaikan, tumbuh 4,93 persen di triwulan III. Namun, rerata pertumbuhannya setelah pandemi (2022–2025) masih rendah—hanya 2,24 persen, jauh di bawah rerata 3,84 persen pada periode pra-pandemi (2016–2019).
INDEF menilai optimalisasi subsektor tanaman pangan menjadi krusial karena menyangkut kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.
Lima Rekomendasi Keluar dari Perlambatan
Untuk mengakselerasi ekonomi jelang akhir tahun, INDEF memberikan lima rekomendasi konkret:
1. Perkuat daya beli masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru dengan menjaga keterjangkauan harga transportasi, akses pasar bagi UMKM, serta mendorong kreativitas pemerintah daerah memanfaatkan momentum konsumsi musiman.
2. Perbaiki iklim investasi dengan memberi kepastian regulasi dan menghapus biaya tidak resmi yang kerap membebani pelaku usaha.
3. Pastikan diplomasi ekonomi di berbagai forum internasional membawa dampak langsung bagi perluasan pasar ekspor Indonesia.
4. Dukung industri pengolahan melalui insentif fiskal, efisiensi logistik, dan pasokan energi yang stabil.
5. Percepat realisasi anggaran ketahanan pangan serta perluas akses kredit pertanian untuk memperkuat peran sektor pertanian dalam menopang kesejahteraan petani.
Dengan serangkaian catatan itu, INDEF menilai pemerintah perlu “bekerja lebih keras dari sebelumnya.”
Jika tidak, kata Indef, pertumbuhan ekonomi tahun ini berisiko berhenti di angka lima persen—sekadar simbol stabilitas, bukan kemajuan.[]














Comment