Inner Child: Masalah Masa Lalu atau Tantangan Masa Kini?

Opini56 Views

Penulis:  Naswa Aliifah Maulida | Mahasiswi Fakultas Dirasat Islamiyyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA  — Istilah inner child kini semakin akrab dalam percakapan sehari-hari. Ia kerap muncul di media sosial, ruang konseling, hingga diskusi seputar kesehatan mental.

Banyak orang mulai menyadari bahwa emosi, reaksi, dan pola hubungan yang mereka alami saat dewasa sering kali berkaitan dengan pengalaman masa kecil.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan penting: apakah inner child hanya soal masa lalu, atau justru menjadi tantangan nyata yang kita hadapi di masa kini?

Tulisan ini mencoba membahas inner child dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, agar konsep ini tidak terasa rumit atau hanya milik kalangan tertentu.

Apa itu inner child?

Secara sederhana, inner child dapat dipahami sebagai bagian dari diri kita yang terbentuk dari pengalaman masa kecil, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.

Di dalamnya tersimpan kenangan, perasaan, serta kebutuhan emosional yang mungkin tidak sepenuhnya terpenuhi ketika kita masih anak-anak.

Seiring bertambahnya usia, bagian ini tidak serta-merta menghilang, melainkan tetap hidup dan memengaruhi cara kita berpikir, merasa, serta merespons berbagai situasi.

Sebagai contoh, seseorang yang sering merasa takut ditinggalkan bisa jadi pernah mengalami kurangnya perhatian atau rasa aman di masa kecil.

Begitu pula dengan individu yang kesulitan mengekspresikan emosi, mungkin sejak kecil terbiasa diminta untuk “diam” atau “jangan cengeng”. Pengalaman-pengalaman semacam inilah yang kemudian membentuk inner child dalam diri seseorang.

Mengapa inner child sering dikaitkan dengan masa lalu?

Pembahasan tentang inner child memang kerap menyoroti luka masa lalu, karena akar persoalan ini terbentuk sejak fase awal kehidupan.

Masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan kepribadian. Lingkungan keluarga, sekolah, dan pergaulan awal menjadi fondasi utama perkembangan emosional seseorang.

Cara orang dewasa memperlakukan anak pada fase ini sangat memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Pola asuh orang tua memiliki peran besar dalam menanamkan rasa aman dan kepercayaan diri.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh dukungan dan kasih sayang cenderung memiliki konsep diri yang lebih positif. Sebaliknya, pola asuh yang keras, penuh tuntutan, atau minim kehangatan emosional dapat membuat anak merasa tidak cukup baik atau tidak layak dicintai.

Selain keluarga, lingkungan sekolah dan pergaulan juga memberi pengaruh signifikan. Cara guru menyampaikan teguran atau apresiasi, serta pengalaman bersama teman sebaya—seperti diremehkan, dikucilkan, atau sering dibandingkan—dapat meninggalkan luka emosional jika terjadi berulang kali.

Luka inilah yang kemudian terbawa hingga dewasa dan kerap dianggap sebagai “masalah lama”, padahal dampaknya masih terasa hingga kini.

Inner child sebagai tantangan masa kini
Meski berakar dari masa lalu, dampak inner child justru sangat nyata di masa sekarang. Ia bisa muncul dalam bentuk reaksi emosional yang berlebihan, kesulitan membangun hubungan yang sehat, rendahnya kepercayaan diri, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

Dengan kata lain, inner child bukan sekadar cerita lama, melainkan tantangan aktual yang memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Dalam dunia kerja, misalnya, seseorang bisa merasa sangat tertekan saat menerima kritik. Bukan semata karena kritik tersebut, melainkan karena inner child-nya teringat pada pengalaman dimarahi atau diremehkan di masa kecil.

Dalam hubungan personal, konflik kecil bisa memicu rasa takut ditinggalkan secara berlebihan. Situasi-situasi ini menunjukkan bahwa inner child tetap aktif di masa kini.

Tanda-tanda inner child yang belum terselesaikan

Inner child yang belum terselesaikan sering kali muncul tanpa disadari. Seseorang bisa merasa tidak pernah cukup baik meskipun telah berusaha keras, atau sulit mempercayai orang lain karena takut kembali disakiti. Rasa takut ditolak juga kerap membuat seseorang ragu mengekspresikan pendapat dan perasaannya secara jujur.

Selain itu, ada kecenderungan untuk selalu ingin menyenangkan semua orang demi mendapatkan penerimaan. Pola ini biasanya terbentuk karena di masa lalu, kasih sayang dirasakan sebagai sesuatu yang bersyarat.

Akibatnya, kebutuhan diri sendiri kerap dikesampingkan demi menjaga hubungan dengan orang lain.
Tanda lain yang cukup umum adalah kebiasaan menekan dan memendam emosi.

Perasaan marah, sedih, atau kecewa dianggap tidak pantas untuk ditunjukkan, sehingga disimpan sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memunculkan perasaan bersalah tanpa sebab yang jelas.

Penting untuk dipahami bahwa kondisi-kondisi tersebut bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, hal itu menunjukkan adanya kebutuhan emosional yang dulu belum terpenuhi dan kini berusaha muncul ke permukaan.

Mengapa menyembuhkan inner child itu penting?

Menyembuhkan inner child bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan menerima dan memahaminya dengan sudut pandang yang lebih dewasa. Ketika seseorang mampu berdamai dengan bagian dirinya yang terluka, ia akan lebih mampu mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, dan mengambil keputusan dengan lebih bijak.

Proses ini juga membantu seseorang berhenti mengulang pola yang sama. Tanpa disadari, luka inner child sering membuat seseorang terjebak dalam hubungan atau lingkungan yang tidak sehat karena terasa “akrab”. Kesadaran akan hal ini membuka peluang untuk memilih pola hidup yang lebih sehat.

Cara sederhana berdamai dengan inner child

Berdamai dengan inner child tidak selalu membutuhkan proses yang rumit. Langkah awal yang penting adalah kesadaran dan kejujuran pada diri sendiri. Mengakui adanya luka emosional bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk keberanian.

Menulis jurnal, berbicara dengan orang tepercaya, atau sekadar meluangkan waktu untuk memahami perasaan diri sendiri bisa menjadi awal yang baik.

Selain itu, belajar bersikap lebih lembut pada diri sendiri juga sangat membantu. Banyak orang dewasa terbiasa bersikap keras pada dirinya karena tuntutan yang dialami sejak kecil.

Memberi ruang untuk beristirahat, menikmati hal-hal sederhana, serta menghargai pencapaian kecil merupakan bentuk perawatan terhadap inner child.

Inner child dan pertumbuhan diri
Menariknya, inner child tidak selalu identik dengan luka. Di dalamnya juga tersimpan sisi positif seperti kreativitas, rasa ingin tahu, dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana.

Ketika luka-luka emosional mulai disembuhkan, sisi positif ini justru dapat muncul kembali dan memperkaya kehidupan.

Dalam konteks ini, inner child bisa menjadi jembatan menuju pertumbuhan diri. Dengan mengenal dan merawatnya, seseorang tidak hanya menyelesaikan persoalan emosional, tetapi juga membuka ruang untuk hidup yang lebih otentik dan bermakna.

Pada akhirnya, inner child memang berakar dari masa lalu, tetapi dampaknya sangat nyata di masa kini. Ia bukan sekadar kenangan lama yang harus dilupakan, melainkan bagian dari diri yang perlu dipahami dan dirawat.

Dengan kesadaran, penerimaan, dan langkah kecil yang konsisten, inner child dapat menjadi sumber kekuatan, bukan lagi beban.

Berdamai dengan inner child adalah proses mengenal diri secara lebih utuh—bukan untuk menyalahkan masa lalu, melainkan untuk membangun masa kini dan masa depan yang lebih sehat, seimbang, dan penuh empati, terutama kepada diri sendiri.[]

Comment