by

Intan Jaya Papua Kaya, Sejahterakah Penduduknya?

-Opini-72 views

 

Oleh: Oki Ummu Kinan, Member Komunitas Menulis WCWH

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– “Tanah Papua yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak madu. Adalah┬áharta harapan”

Sepenggal bait lagu “Tanah Papua” karya Yance Rumbino, menggambarkan realita kekayaan tanah Papua akan hasil sumber daya alam, yaitu emas dan hasil tambangnya. Gunung emas menjadikan tanah Papua yang kaya.

Penampakan Gunung emas blok Wabu yang berada di Intan Jaya, Papua bernilai lebih Rp220 T, bekas tambang PT Freeport yang sudah dikembalikan pada pemerintah pada 21 September 2018.

Blok Wabu sudah dikembalikan PT. Freeport Indonesia secara resmi saat penandatanganan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Semenjak saat itu blok Wabu tidak lagi milik Freepot. Bukan karena wilayahnya yang tidak menarik tetapi Freeport fokus pada sumber daya Grasbergnya.

Okezone (3/10/2021) melansir bahwa Mine ID dan PT. Aneka Tambang Tbk menyatakan siap untuk mengelola blok Wabu dan ini menjadi rebutan para pengusaha lainnya. Wilayah tambang tersebut memiliki potensi emas yang diperkirakan mencapai 8,1 juta ounces.

Potensi emas yang dimiliki oleh blok Wabu inilah yang menjadi incaran para korporasi untuk mengeruk kekayaan demi kepentingan pribadi dan segelintir orang.

Sayangnya dalam sistem kapitalisme hari ini, segala pengurusan yang berkaitan dengan kemaslahatan rakyat dipasrahkan kepada pihak swasta bukan dikelola oleh negara.

Eksistensi sumber daya alam dan kekayaan bumi Papua telah lama dimanfaatkan sebelumnya oleh Freeport sebagai pengelola. Swasta dan asing adalah pihak yang diuntungkan dalam hal ini. Kini, apakah dalam pengelolaan blok Wabu akan diserahkan pada pihak swasta dan asing kembali?

Sistem kapitalis memarginalkan peran negara untuk melakukan intervensi dalam pengelolaan SDA. Maka wajar pengusaha dan pemodal mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Eksploitasi sumber daya alam tanpa batas menimbulkankan dampak kerusakan lingkungan dan hal ini luput menjadi perhatian.

Dalam hal ini, sudah selayaknya mengganti tata kelola kepemilikan rakyat kepada sistem yang tepat.

Butuh sistem yang tepat dalam menangani setiap problem dan masalah yang ada di tengah-tengah rakyat (umat), termasuk dalam mengelola sumber daya alam yang ada.

Di antara pedoman dalam pengelolaan sumber daya alam, merujuk pada hadis Nabi SAW, “Kaum muslim berserikat dalam (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal : air, api dan rumput, kemudian Rasulullah SAW kembali bersabda : tiga hal yang tak boleh dimonopoli air, rumput dan api (HR. Ibnu Majah)

Jadi, dalam Islam hasil tambang yang jumlahnya sangat besar seperti batu bara, emas, gas, tembaga dan lainnya adalah hasil sumber daya alam yang terkategori milik rakyat (umat).

Hari ini, sudah saatnya merubah tata kelola yang tepat dengan sistem yang benar, mengembalikan hak rakyat (umat) dari pihak yang tak bertanggung jawab.

Selama pengaturan hanya didasari oleh sistem kapitalis sekuler, maka akan melahirkan kesengsaraan dan kemiskinan dalam kehidupan rakyat (umat) serta hilangnya keberkahan.

Sangat ironis, meskipun tanah Papua kaya akan hasil buminya, tapi kondisi kehidupan mereka tetap miskin. Negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh mengurus dan melayani umat, wajib mengambil alih kembali. Sehingga SDA dikelola sendiri dan memanfaatkan hasil bumi untuk mensejahterakan rakyat.Wallahu alam bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita