Integrasikan Akademik dan Aksi Sosial, Perjalanan Nina Nugroho Perluas Kebermanfaatan Hidup

Profile51 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perjalanan hidup Nina Nugroho memasuki fase yang semakin mempertemukan dunia akademik, industri kreatif, dan pengabdian sosial. Di tengah kiprahnya sebagai desainer busana modest, Nina juga tengah menempuh pendidikan doktoral sekaligus mengambil peran sebagai Dewan Pembina Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia (YPJI).

Bagi Nina, bertambahnya usia membawa perubahan dalam cara memaknai pencapaian. Keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari target personal maupun capaian duniawi, tetapi dari sejauh mana ilmu, pengalaman, dan aktivitas yang dijalani dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

” Sebenarnya dari dulu masih sama, tapi sekarang bobotnya lebih banyak ingin jadi manusia yang bermanfaat. Kelihatannya standar sekali, tapi ternyata dalam perjalanannya banyak hal yang harus diselaraskan,” ujar Nina saat ditemui di Imperial Kitchen, Senayan Park, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026).

Menurut Nina, kebermanfaatan hidup pada akhirnya merupakan bagian dari bentuk pengabdian kepada Tuhan. Karena itu, berbagai aktivitas yang dijalaninya berusaha diarahkan pada sesuatu yang memiliki nilai positif dan memberikan dampak yang lebih luas.

“Ujung-ujungnya adalah bagaimana kita melayani Tuhan melalui kebermanfaatan hidup kita di dunia ini. Jadi sudah tidak terlalu memikirkan urusan duniawi, apalagi usia sudah lebih dari 40 tahun,” katanya.

Menyatukan Fashion, Psikologi, dan Komunikasi

Komitmen tersebut juga tercermin dalam perjalanan akademiknya. Memasuki tahun kedua pendidikan doktoral dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93, Nina kini bersiap menghadapi sidang proposal disertasi.

Penelitian yang dikembangkannya memadukan sejumlah disiplin ilmu, yakni fashion, psikologi, public relations, dan komunikasi. Kajian tersebut diarahkan untuk membangun model komunikasi busana yang dapat meningkatkan otoritas kepemimpinan perempuan, khususnya perempuan Muslimah di Indonesia.

Menurut Nina, pilihan tema tersebut tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya di bidang komunikasi sejak jenjang sarjana hingga magister.

“Disertasi saya menggabungkan fashion, psikologi, public relations, dan komunikasi karena core pendidikan saya dari S1 dan S2 memang komunikasi. Target tiga tahun ke depan pengen cepat lulus doktoral supaya bisa memberikan kontribusi yang lebih nyata untuk dunia fashion Indonesia,” jelasnya.

Bagi Nina, pendidikan doktoral bukan sekadar pencapaian akademik. Pengetahuan yang diperolehnya diharapkan dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap perkembangan industri fashion di Indonesia.

Dari Industri Kreatif ke Pengabdian Sosial

Latar belakang komunikasi yang dimilikinya juga berjalan beriringan dengan keterlibatan Nina di YPJI. Sebagai Dewan Pembina, ia turut mendukung berbagai agenda sosial serta upaya yang berkaitan dengan kesejahteraan insan pers.

Peran tersebut menjadi bagian dari upaya Nina memperluas ruang pengabdiannya. Jika dunia fashion menjadi ruang kreativitas dan profesionalisme, organisasi sosial menjadi ruang untuk mengembangkan kebermanfaatan melalui kegiatan yang menyentuh kepentingan masyarakat.

Menjalankan berbagai peran tersebut tentu membutuhkan pengelolaan waktu yang baik. Nina mengakui, aktivitas akademik, bisnis, organisasi, dan keluarga memiliki tuntutan masing-masing sehingga seluruhnya harus direncanakan secara matang.

“Karena segala sesuatunya di-planning, jadi enak bagi waktunya—berapa persentasenya untuk kuliah, di rumah, dan pekerjaan lainnya. Saya banyak mobile dan bisa bekerja dari rumah, jadi pembagian waktunya aman,” ungkapnya.

Pola kerja yang fleksibel tersebut membuat Nina dapat tetap menjalankan aktivitas profesional dan sosial tanpa mengabaikan kewajiban akademiknya. Perencanaan menjadi kunci agar berbagai peran yang dijalani dapat berjalan secara beriringan.

Ke depan, Nina berharap penyelesaian pendidikan doktoralnya dapat menjadi fondasi untuk memperluas kontribusi, baik dalam pengembangan industri fashion maupun melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan bersama YPJI.

Bagi Nina, kebermanfaatan tidak harus selalu diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Yang terpenting adalah menjaga arah setiap ikhtiar agar tetap berada pada hal-hal positif dan memberi pengaruh yang semakin luas.

“Yang penting semua daya upaya kita lakukan. Hidup bertasbih saja, mengalir di hal-hal yang positif, dan memberi dampak yang lebih besar. Semakin lama efeknya digedein, digedein, digedein,” pungkas Nina.[]

Comment