Islam dan Upaya Mengoptimalkan Peran Ibu dalam Menjaga Peradaban

Opini960 Views

Penulis: Naimatul Jannah | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Islam memberikan perhatian yang sangat serius terhadap peran perempuan, khususnya sebagai ibu. Dalam pandangan Islam, ibu bukan sekadar figur domestik, melainkan penopang utama misi keluarga dan fondasi pembentukan generasi.

Karena itu, Allah SWT sebagai Pembuat hukum telah menetapkan seperangkat aturan yang mengatur secara detail peran perempuan sejak sebelum pernikahan hingga menjalani perannya sebagai ibu.

Syariat Islam bahkan telah mewanti-wanti para lelaki agar memilih pasangan yang subur, penyayang, dan memiliki pemahaman Islam yang memadai. Hal ini bukan tanpa alasan. Seorang ibu kelak akan menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Tanggung jawab pengasuhan, pemeliharaan, dan pendidikan generasi berada di pundaknya, sebuah amanah besar yang menentukan arah masa depan umat dan peradaban.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa perjalanan peran seorang ibu tidak lagi mudah. Beban yang harus dipikul semakin berat, sementara dukungan sistemik justru semakin melemah. Di tengah tekanan ekonomi, krisis moral, dan rapuhnya struktur sosial, banyak ibu berjuang sendirian dalam mencetak generasi terbaik.

Tragedi demi tragedi menjadi potret buram kondisi ini. Kasus pembunuhan seorang ibu oleh anaknya di Medan, misalnya, merupakan peristiwa yang sangat mengerikan. Seorang anak perempuan yang masih belia, belum baligh, tega menusuk ibu kandungnya sendiri berulang kali.

Secara naluriah, jeritan, darah, dan situasi horor seharusnya memicu ketakutan pada anak seusia itu. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ini bukan sekadar kejahatan individual, melainkan sinyal rusaknya fondasi kemanusiaan dan relasi keluarga.

Peristiwa lain yang tak kalah memilukan terjadi di Nusa Tenggara Timur. Seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena merasa menjadi beban bagi ibunya yang hidup dalam kemiskinan.

Ketidakmampuan membeli buku dan bolpoin mendorongnya pada keputusan tragis tersebut. Lebih menyayat hati, ia meninggalkan surat wasiat agar sang ibu tidak menangisi kepergiannya. Hati ibu mana yang sanggup menanggung luka sedalam ini?

Sistem Kapitalisme dan Keruntuhan Keluarga

Rentetan tragedi tersebut merupakan alarm keras atas hancurnya struktur keluarga dan kian pudarnya peran orang tua dalam menjaga serta membentuk generasi tangguh. Keluarga seharusnya menjadi benteng terakhir di tengah arus kehidupan global yang sarat nilai sekuler-liberal, namun justru ikut tergerus oleh sistem yang berlaku.

Sistem sekuler kapitalisme liberal terbukti melahirkan berbagai persoalan struktural: ketimpangan ekonomi, kemiskinan, konflik sosial, hingga dekadensi moral.

Sistem ini menyingkirkan peran Tuhan dari pengaturan kehidupan, menjadikan materi sebagai orientasi utama, dan pada akhirnya merusak fitrah manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.

Dampaknya sangat nyata. Peran-peran fitri manusia—sebagai ayah, ibu, anak, suami, istri, dan anggota masyarakat—menjadi kabur. Struktur keluarga melemah, solidaritas sosial menipis, dan negara gagal hadir sebagai support system bagi terwujudnya kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan bermartabat.

Cara Islam Mengoptimalkan Peran Ibu
Islam sebagai agama yang sempurna dan sahih, yang diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW, memiliki seperangkat aturan yang komprehensif untuk mengoptimalkan peran ibu.

Pertama, Islam menjamin kesejahteraan keluarga. Negara berkewajiban menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi para ayah dan wali, sehingga kebutuhan hidup keluarga terpenuhi.

Dengan jaminan ini, ibu dapat fokus menjalankan perannya sebagai pendidik utama generasi tanpa dibebani tekanan ekonomi.

Kedua, Islam menempatkan pendidikan sebagai pilar utama. Para ibu dibekali ilmu dan kapasitas yang memadai agar mampu menjalankan tugas pengasuhan dan pendidikan secara optimal. Seorang ibu harus memiliki pemahaman yang luas, tidak hanya dalam urusan domestik, tetapi juga pengetahuan sosial, ekonomi, dan politik, agar mampu melahirkan generasi pemimpin peradaban.

Ketiga, Islam menjamin kesehatan, baik fisik maupun mental, sebagai hak dasar setiap individu, termasuk para ibu.
Keempat, Islam menjamin keamanan melalui sistem perlindungan yang menyeluruh, sehingga ibu dan keluarga dapat hidup dengan rasa aman dan tenteram.

Lebih dari itu, Islam menekankan pentingnya peran kolektif masyarakat melalui amar makruf nahi mungkar, serta kehadiran negara sebagai pengontrol dengan kebijakan dan undang-undang yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.

Sejarah telah membuktikan, selama lebih dari 13 abad, Islam melahirkan umat yang unggul dalam ilmu pengetahuan, inovasi, dan kepemimpinan dunia. Kejayaan peradaban tersebut tidak pernah lepas dari peran para ibu yang hebat—ibu-ibu yang bersinergi dengan masyarakat dan negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh.

Dari rahim ibu-ibu inilah lahir para ilmuwan, pemimpin, dan tokoh besar yang mengubah wajah dunia. Maka, mengoptimalkan peran ibu bukan sekadar isu domestik, melainkan agenda strategis peradaban. Wallahu a‘lam bis shawab.[]

Comment