Isra Mi’raj: Antara Spiritualitas dan Tanggung Jawab Sosial Umat

Opini65 Views

 

Penulis: Sumiati | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung yang menempati posisi istimewa dalam sejarah Islam. Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW bukan sekadar meneguhkan hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta melalui perintah shalat, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang tanggung jawab umat Islam dalam menata kehidupan sosial. Dari langit, Rasulullah SAW membawa amanah besar yang seharusnya membumi dalam realitas kehidupan manusia.

Selama ini, Isra Mi’raj kerap dimaknai secara terbatas sebagai peringatan turunnya perintah shalat sebagai ibadah mahdhah. Pandangan ini kemudian mengakar kuat di tengah masyarakat, sehingga Islam sering diposisikan hanya sebagai urusan ritual dan simbol keagamaan.

Padahal, dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW, Isra Mi’raj justru menjadi bagian dari fase penting menuju perubahan besar umat, yang kemudian diikuti oleh Bai’at Aqabah Kedua sebagai gerbang terbentuknya tatanan kehidupan Islam secara menyeluruh.

Isra Mi’raj memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perjalanan spiritual. Peristiwa ini menguatkan misi kenabian Rasulullah SAW sekaligus menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan antarmanusia dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Shalat sebagai hasil utama Isra Mi’raj menjadi fondasi spiritual, sementara penerapan syariat Islam secara kaffah merupakan manifestasi tanggung jawab sosial umat.

Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa umat Islam hidup dalam sistem yang justru menjauhkan agama dari kehidupan publik. Sekularisasi telah memisahkan nilai-nilai ilahiah dari pengaturan kehidupan, sehingga hukum Allah SWT tidak lagi menjadi rujukan utama. Kondisi ini sejatinya merupakan bentuk pengabaian terhadap amanah besar yang dibawa Rasulullah SAW dari peristiwa Isra Mi’raj.

Ditinggalkannya hukum Allah SWT membawa dampak serius bagi kehidupan umat. Berbagai krisis sosial, ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, hingga bencana kemanusiaan dan alam yang terus berulang menjadi peringatan nyata.

Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan yang tidak diatur dengan nilai-nilai ilahiah akan kehilangan arah dan keberkahan.

Oleh karena itu, peringatan Isra Mi’raj semestinya tidak berhenti pada seremoni dan ritual tahunan semata. Momentum ini harus menjadi ruang muhasabah bersama, sejauh mana nilai-nilai Islam telah benar-benar hadir dalam kehidupan umat.

Ketika spiritualitas terhubung erat dengan tanggung jawab sosial, Islam tidak lagi sekadar simbol, melainkan menjadi solusi bagi berbagai persoalan kehidupan.

Dengan mempelajari, memahami, memperjuangkan, dan menerapkan syariat Islam secara kaffah, umat diharapkan mampu meraih keselamatan, keadilan, dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah hakikat Isra Mi’raj sebagai momentum membumikan nilai-nilai langit dalam kehidupan di bumi.[]

Comment