Jelang Pemilihan Walikota New York, Dr Shamsi Ali, Lc, PhD: Zohran Mamdani, Tantang Bayang-Bayang 9/11

Internasional372 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK — Dua puluh empat tahun setelah tragedi 11 September 2001, luka kolektif itu masih terasa di jantung Kota New York. Namun, di tengah kenangan pahit dan prasangka yang masih menggantung, muncul satu nama yang mengubah arah percakapan publik tentang Islam di Amerika Serikat: Zohran Mamdani.

Politikus muda Partai Demokrat itu kini mencuri perhatian setelah memenangkan Democratic primary election untuk pemilihan Wali Kota New York pada Juni lalu. Jika terpilih dalam pemilihan umum 4 November mendatang, ia akan mencatat sejarah sebagai Walikota Muslim pertama di kota terbesar Amerika Serikat itu.

Bagi komunitas Muslim, langkah Zohran bukan sekadar upaya politik. Ia dianggap simbol keberanian keluar dari bayang-bayang ketakutan yang menghantui umat Islam sejak serangan 9/11.

“Keberaniannya menegaskan bahwa Islam tidak identik dengan teror,” ujar Dr Shamsi Ali, Lc, PhD, Direktur Jamaica Muslim Center, New York, Senin (27/10/25).

Zohran Mamdani bukan sosok baru di kancah politik lokal New York. Lahir di Uganda dari keluarga keturunan Asia Selatan, ia datang ke Amerika pada usia tujuh tahun dan tumbuh di Queens, salah satu distrik paling beragam di kota itu.

Enam tahun lalu, namanya mulai dikenal ketika berhasil menumbangkan petahana dalam pemilihan anggota DPRD Negara Bagian New York. Sejak awal, Zohran tampil terbuka sebagai Muslim yang bangga dengan identitasnya—sesuatu yang masih jarang dilakukan oleh politisi Amerika.

Dalam setiap pidatonya, ia menekankan isu keadilan sosial, keberagaman, dan solidaritas lintas agama. Namun, posisinya yang tegas menentang pendudukan Israel di Palestina menjadikannya sasaran serangan politik dari kelompok pro-Israel dan beberapa lawan dalam partainya sendiri.

“Dia menolak tunduk pada tekanan politik. Keberaniannya menentang genosida di Gaza membuatnya diserang habis-habisan,” kata Shamsi Ali.

Meski diserang dari berbagai arah, tambah Shamsi, Zohran justru makin mendapat simpati luas, terutama dari generasi muda dan komunitas minoritas.

“Kampanyenya yang menekankan transparansi, keadilan, dan solidaritas lintas etnis membuatnya menjadi figur alternatif di tengah krisis kepercayaan terhadap elite politik New York.” Tegas Shamsi.

Di media sosial, tagar #MamdaniForMayor menggema. Dukungan juga datang dari berbagai komunitas agama, termasuk beberapa rabi Yahudi progresif yang menilai tuduhan antisemitic terhadapnya tidak berdasar.

“Zohran adalah harapan baru bagi Muslim New York. Ia membuka ruang bagi kami untuk bangga, bukan takut,” ujar Shamsi.

Selama dua dekade terakhir, komunitas Muslim Amerika sering berada dalam posisi defensif. Stigma pasca-9/11 membuat banyak Muslim memilih diam atau menutupi identitas mereka. Zohran mengubah narasi itu.

Dalam salah satu pidato kampanyenya, ia menegaskan, “Sudah saatnya Muslim di New York keluar dari bayang-bayang. Kita bukan ancaman—kita bagian dari kota ini.”

Bagi Shamsi Ali, kehadiran Zohran di panggung politik adalah karunia besar bagi umat Islam. “Dia mendobrak dinding ketakutan yang sudah terlalu lama membatasi kita,” ujarnya.

Jika menang pada pemilihan November mendatang, New York akan mencatat sejarah baru: seorang walikota Muslim yang lahir dari keberanian, kejujuran, dan tekad untuk memperjuangkan keadilan bagi semua.

“Zohran bukan hanya milik umat Islam. Ia milik semua yang percaya bahwa kemanusiaan lebih besar dari prasangka.” imbuh Shamsi.[]

Berita Terkait

Baca Juga

Comment