RADARINDONESIANEWS.COM, PALEMBANG – Ratusan umat Islam di Kota Palembang menggelar salat Idulfitri di halaman parkir Masjid Al-Mustanir, Kamis (19/3/2026). Jemaah masjid tersebut merayakan Idul fitri lebih awal dibandingkan dengan ketetapan pemerintah.
Salat Id dipimpin oleh Ustadz Syahrul Musta’in sebagai imam, sementara khutbah disampaikan oleh Ustadz Surakhman. Dalam pengantarnya, Syahrul menjelaskan bahwa pelaksanaan salat Id didasarkan pada kesaksian sejumlah besar Muslim di Afghanistan—warga provinsi Helmand, Farah, dan Ghor—yang melihat hilal Syawal 1447 Hijriah. Menurut dia, kesaksian tersebut dinyatakan sah menurut tiga mazhab.
Dalam khutbahnya, Surakhman menyampaikan bahwa Ramadan merupakan madrasah besar pembentuk ketakwaan.
“Demikianlah, Ramadan adalah madrasah besar pembentuk takwa. Takwa tentu memiliki sejumlah tanda. Para ulama telah menjelaskan hakikat dan ciri-cirinya,” ujarnya di hadapan jemaah.
Ia mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa takwa adalah takut kepada Tuhan Yang Mahaagung, mengamalkan Al-Qur’an, merasa cukup dengan yang sedikit, serta mempersiapkan bekal amal saleh untuk menghadapi hari penghisaban.
“Dengan demikian takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah cara hidup. Takwa adalah ketika hati kita senantiasa tunduk dan jiwa kita selalu taat,” kata Surakhman.
Ia menegaskan bahwa takwa berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai pengatur kehidupan secara menyeluruh. “Bukan oleh hawa nafsu manusia. Al-Qur’an ini tentu wajib kita amalkan secara keseluruhannya. Bukan hanya sebagiannya saja,” ujarnya.
Surakhman juga mengutip ayat dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 85: “Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang berlaku demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat menyiksa. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan.”
Menurut dia, ayat tersebut menegaskan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya menjalankan ibadah ritual.
“Tak layak bagi kita hanya mengamalkan kewajiban salat, puasa, dan ibadah-ibadah ritual lainnya, lalu mencampakkan kewajiban untuk menerapkan hukum-hukum Al-Qur’an dalam berbagai perkara lainnya; seperti politik atau pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, dan hukum pidana,” ujarnya.
Dalam bagian lain khutbah, Surakhman menyebut Idulfitri sebagai momentum kesadaran. “Karena itu Idulfitri sesungguhnya harus menjadi hari kesadaran. Hari saat kita memahami bahwa umat ini pernah memimpin dunia dengan penuh keadilan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa umat Islam, menurutnya, pernah menjadi pelindung bagi bangsa-bangsa yang tertindas.
“Dulu, saat umat Islam sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan, mereka menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan,” ujarnya.
Menurut Surakhman, dalam kondisi tersebut, pihak luar tidak mudah merendahkan umat Islam. Ia menyebut kaum Muslim selama berabad-abad berada dalam naungan sistem kekhalifahan.
Ia mencontohkan kisah pada masa Al-Mu’tashim yang disebut mengerahkan ribuan pasukan untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Ia juga mengisahkan Harun al-Rashid yang merespons penolakan pembayaran jizyah oleh Kaisar Bizantium dengan pengerahan pasukan hingga akhirnya pihak lawan tunduk.
Selain itu, ia menyinggung hubungan kekhalifahan dengan Amerika pada abad ke-18. Menurut dia, Amerika saat itu disebut membayar upeti kepada Kekhalifahan Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka dapat melintas dengan aman di Afrika Utara, merujuk pada Perjanjian Tripoli 1796.
Khutbah diakhiri dengan ajakan agar umat Islam menjadikan Idul fitri sebagai titik awal memperkuat ketakwaan sekaligus kesadaran akan peran historis umat dalam membangun peradaban.[]









Comment