Asal Usul Tradisi Lebaran Betawi Keliling Kampung 7 Hari di Duri Kosambi

Budaya211 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA  – Tradisi Lebaran Betawi “keliling kampung” di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, terus hidup dan berkembang hingga kini. Tradisi ini bahkan disebut telah ada jauh sebelum generasi sekarang lahir dan tidak pernah terputus setiap tahunnya.

Hal tersebut disampaikan oleh H. Naman Setiawan (57), yang pada Rabu (25/3/2026) menjadi tuan rumah kegiatan tersebut di kediamannya di Jalan Cemara, Duri Kosambi.

Menurutnya, tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para orang tua dan ulama, lalu terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga sekarang.

“Dari dulu sampai sekarang tidak pernah terputus. Setiap tahun selalu ada dan terus dilanjutkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, awal mula penjadwalan tradisi ini berangkat dari kebiasaan para ulama yang ingin saling berkunjung saat Lebaran.

Namun, karena belum adanya alat komunikasi pada masa itu, mereka kerap tidak bertemu, bahkan bisa berpapasan di jalan saat hendak bersilaturahmi.
Dari situlah muncul kesepakatan untuk mengatur jadwal kunjungan antarkampung agar silaturahmi berjalan lebih efektif.

“Dulu kalau tidak dijadwalkan, kita datang orangnya tidak ada, bahkan bisa berpapasan di jalan. Akhirnya dibuat kesepakatan hari-harinya. Biasanya hari pertama untuk keluarga inti, termasuk ziarah ke makam orang tua,” kata dia.

Sejarah mencatat, tradisi ini awalnya hanya mencakup dua kampung, yakni Duri Kosambi dan Tanah Koja. Seiring waktu, tokoh agama seperti KH Ahmad Zaini dan KH Abdul Mubin memperluas jangkauan silaturahmi hingga mencakup lebih banyak wilayah.

Kini, rute keliling kampung semakin panjang, meliputi Duri Kosambi, Tanah Koja, Selong, Kampung Gunung, Cantiga, hingga Gondrong.

Di setiap titik, warga mengunjungi rumah ulama dan tokoh masyarakat sebagai bentuk penghormatan sekaligus mempererat hubungan sosial.

Salah satu warga, Abdul Gofur, menyebut tradisi ini terus berkembang, baik dari sisi durasi maupun jumlah kampung yang dikunjungi.

“Biasanya setelah hari kedelapan, warga baru bebas bepergian ke luar wilayah,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ustad Hazami. Ia menuturkan, pada masa lalu wilayah tradisi ini memang masih sangat terbatas.

Menurutnya, sejumlah ulama yang dikenal saat itu antara lain KH Muhammad Najihun, KH Ahmad Zaini, KH Arsyad, serta KH Asirun.
Seiring perkembangan wilayah dan interaksi masyarakat, tradisi ini pun meluas hingga menjangkau Kalideres, Cengkareng, Rawa Buaya, hingga Basmol.

“Khusus ke kampung Basmol biasanya hari Jumat, sekaligus ziarah ke makam KH Abdul Majid,” ujarnya.

Dalam praktiknya, tradisi ini bersifat terbuka. Siapa pun dapat ikut bergabung, tidak terbatas hanya warga Betawi. Hal ini seiring dengan semakin kuatnya akulturasi budaya, di mana masyarakat Betawi banyak yang menikah dengan berbagai suku lain.

Sebagai tuan rumah, kegiatan biasanya berlangsung dari pagi hingga malam hari, dengan menyajikan beragam hidangan, mulai dari makanan ringan hingga menu utama.

Keterlibatan keluarga juga menjadi kunci keberlangsungan tradisi ini. Setiap generasi membawa anak-anak mereka untuk ikut serta dan saling mengenal.

“Semua keluarga saling mengenalkan kepada anak-anaknya. Itu yang membuat tradisi ini terus hidup,” kata H. Naman.

Kini, tradisi “keliling kampung” tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi telah menjelma sebagai simbol kuat kebersamaan, kekompakan, serta penghormatan masyarakat Betawi terhadap para ulama.

Tradisi ini pun diharapkan terus lestari dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam menjaga nilai silaturahmi lintas generasi.[]

Comment