Cek Kesehatan Gratis, Mengenali Tubuh Sebelum Terlambat

RADARINDONESIANEWS.COM, CIREBON — Sejumlah pelajar SMA dan SMK di Kota Cirebon hari itu tidak sekadar duduk mendengarkan sosialisasi tentang kesehatan. Mereka diajak mengenali sesuatu yang selama ini kerap luput dari perhatian yakni kondisi tubuh sendiri.

Di usia muda, penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan penglihatan, hingga penyakit tidak menular lainnya mungkin terasa sebagai persoalan yang masih jauh bagi mereka. Tubuh yang masih bugar membuat pemeriksaan kesehatan sering dianggap belum mendesak.

Padahal, penyakit tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dikenali. Kadang ia datang seperti tamu tanpa diundang.

Sebagian justru berkembang perlahan, tanpa keluhan berarti. Tanpa tanda -tanda yang kita sadari. Karena itu, mengenali kondisi tubuh sejak dini menjadi langkah penting sebelum gangguan kesehatan berkembang menjadi lebih serius.

Pesan itulah yang mengemuka dalam sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Kota Cirebon.

Salah satu yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sebuah upaya untuk mendorong perubahan cara pandang masyarakat lebih khusus para pelajar terhadap kesehatan.

Pemeriksaan tidak harus dilakukan ketika seseorang sudah jatuh sakit. Sebaliknya, kondisi kesehatan perlu diketahui lebih awal agar faktor risiko dapat segera ditangani.

Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. Hj. Netty Prasetiyani, M.Si., mengatakan bahwa pelibatan pelajar dalam gerakan tersebut memiliki arti yang sangat penting.

Para siswa, kata Netty, bukan hanya penerima informasi. Mereka juga dapat menjadi agen perubahan yang membawa pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan dari sekolah ke keluarga dan lingkungan sekitarnya.

“Program yang baik seperti cek kesehatan gratis harus didorong agar masyarakat tidak takut dan berani datang ke tempat-tempat layanan untuk memeriksakan dirinya,” ujar Netty.

Kesehatan sering kali baru menjadi perhatian ketika tubuh mulai memberikan keluhan. Padahal, pada sejumlah penyakit, proses gangguan kesehatan dapat berlangsung jauh sebelum gejala dirasakan.

Ketika keluhan muncul, kondisi seseorang bisa saja sudah membutuhkan penanganan lebih serius.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengetahui seseorang sedang sakit atau tidak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Hj. Siti Maria Listiawaty, MM, menjelaskan bahwa CKG juga diarahkan untuk menemukan faktor risiko penyakit sejak awal.

Seseorang, misalnya, dapat diketahui berada dalam kondisi pradiabetes. Pada fase tersebut, masih tersedia kesempatan untuk memperbaiki pola hidup agar kondisi kesehatan tidak berkembang menjadi diabetes.

“Kalau proses pra-penyakit ini, misalnya diabetes itu pradiabetes. Dengan mengubah pola hidup kepada perilaku hidup sehat bisa kembali kepada kondisi normal,” jelas Siti Maria.

Deteksi dini juga membuka peluang penanganan lebih cepat ketika suatu penyakit telah ditemukan. Dengan begitu, risiko penyakit yang mungkin berkembang lebih berat atau menimbulkan komplikasi dapat ditekan sedini mungkin.

CKG, dengan demikian, bukan sekadar pemeriksaan tanpa biaya. Program ini menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenali kondisi tubuh sekaligus mengevaluasi kebiasaan hidup.

Gambaran mengenai begitu pentingnya pemeriksaan dini terlihat dalam pelaksanaan CKG di wilayah kerja Puskesmas Majasem, Kota Cirebon.

Kepala Puskesmas Majasem, dr. Suhandri Nurhidayat, mengatakan layanan CKG telah dilaksanakan sejak program tersebut diluncurkan oleh pemerintah.

Pelaksanaannya tidak hanya menunggu masyarakat datang ke puskesmas. Petugas kesehatan secara aktif juga mendatangi sekolah, posyandu, tempat umum hingga perkantoran.

Dari pemeriksaan tersebut, berbagai persoalan kesehatan dapat ditemukan. Di antaranya gangguan penglihatan seperti miopia, gangguan pendengaran, serta masalah kesehatan gigi dan mulut.

Pada kelompok tertentu, petugas juga menemukan faktor risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes dan pradiabetes.

Persoalan gizi, termasuk obesitas maupun kekurangan gizi pada kelompok usia tertentu, turut menjadi perhatian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menunggu sakit untuk mengetahui ada atau tidaknya persoalan kesehatan. Terkadang, pemeriksaan sederhana justru menjadi titik awal untuk menyadari bahwa ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.

Dari Bayi hingga Lansia. CKG tidak hanya ditujukan bagi pelajar.

Program ini dirancang untuk menjangkau masyarakat berdasarkan kelompok usia, mulai bayi baru lahir, balita, anak sekolah, remaja, usia produktif hingga lanjut usia. Jenis pemeriksaannya pun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Pada anak sekolah, misalnya, gangguan penglihatan dan pendengaran, kesehatan gigi dan mulut, serta status gizi menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.

Sementara pada kelompok dewasa, perhatian lebih diarahkan pada faktor risiko hipertensi, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya.

Siti Maria mengingatkan masyarakat agar tidak ragu menjalani pemeriksaan. “No worry, jangan ragu. CKG sama sekali tidak harmful dan tidak merugikan,” ujarnya.

Menurut dia, mengetahui kondisi kesehatan justru dapat menjadi kesempatan bagi seseorang untuk melakukan evaluasi terhadap pola hidupnya.

“Kalau bisa hidup sehat, kenapa harus sakit dan cacat?” katanya.

CKG dan Deteksi TBC

Upaya deteksi dini juga terus dikembangkan di tingkat layanan kesehatan. Puskesmas Majasem, misalnya, akan mengintegrasikan pelaksanaan CKG dengan pemeriksaan tuberkulosis atau TBC. Kegiatan tersebut dijadwalkan pada 1 hingga 7 September di wilayah kerja Puskesmas Majasem.

Integrasi tersebut memperlihatkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak berhenti pada mengetahui kondisi seseorang saat pemeriksaan berlangsung.

Jika diperlukan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan untuk menemukan penyakit tertentu sedini mungkin. Suhandri mengatakan pemeriksaan lanjutan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Termasuk pemeriksaan elektrokardiografi atau EKG untuk kondisi tertentu maupun pemeriksaan laboratorium.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak menunggu penyakit berkembang menjadi kronis sebelum mencari pertolongan medis.

Kesehatan sebagai Investasi Masa Depan

Bagi Netty Prasetiyani, mengenalkan pemeriksaan kesehatan kepada pelajar berarti menanamkan investasi untuk masa depan.

Para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut kelak akan memasuki usia produktif dan mengisi berbagai bidang kehidupan—menjadi tenaga profesional, pemimpin, pengusaha, birokrat maupun tokoh masyarakat.

Karena itu, kesehatan menjadi modal penting yang perlu disiapkan sejak dini.

“Calon-calon pemimpin masa depan yang akan berinvestasi untuk masa depan mereka, membangun peradaban,” kata Netty.

Pada akhirnya, pesan CKG sederhana: jangan menunggu tubuh benar-benar sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan.

Pemeriksaan lebih awal memberikan kesempatan untuk melakukan banyak hal. Pola makan dapat diperbaiki, aktivitas fisik ditingkatkan, kebiasaan hidup diubah, pengobatan dimulai, dan apabila diperlukan, pasien dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai.

Di tengah kebiasaan sebagian masyarakat yang baru memeriksakan diri ketika tubuh mulai mengeluh, CKG mencoba menumbuhkan kebiasaan baru.

Memeriksakan kesehatan bukan berarti sedang sakit. Sebaliknya, memeriksakan diri ketika tubuh terasa sehat merupakan salah satu cara untuk mengetahui apakah kesehatan benar-benar berada dalam kondisi baik.

Dari ruang-ruang sekolah di Cirebon, pesan itu disosialisasikan kepada generasi muda dengan mengenal kondisi tubuh hari ini merupakan bagian dari menyiapkan masa depan.

Kenali kondisi tubuh sejak dini. Jika ditemukan masalah kesehatan, segera ditangani. Sebab hidup sehat bukan sekadar harapan, melainkan sesuatu yang perlu dijaga sejak sekarang.[]

Comment