Job Hugging Melanda Kaum Muda: Cermin Kegagalan Kapitalisme

Opini453 Views

 

Penulis: Alpa Dilla, S. Sos | Tenaga Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS COM, JAKARTA – Fenomena baru muncul di dunia kerja, dikenal dengan istilah job hugging. Jika sebelumnya tren yang populer adalah job hopping—pekerja kerap berpindah tempat untuk mengejar gaji lebih tinggi atau pengalaman baru—kini terjadi hal sebaliknya.

Job hugging menggambarkan pekerja yang tetap bertahan di pekerjaan lama, meskipun merasa tidak puas atau tidak berkembang.

Fenomena ini makin marak di tengah ketidakpastian dunia kerja. Banyak pekerja merasa lebih aman bertahan di tempat lama daripada menghadapi risiko ketidakpastian di tempat baru. Nicole Bachaud, ekonom tenaga kerja, menilai banyak pekerja menyadari risiko besar di tengah situasi pasar kerja saat ini.

CNBC mencatat tingkat pengunduran diri karyawan hanya 2% dalam beberapa bulan terakhir—terendah sejak 2016. Sementara survei ZipRecruiter seperti ditulis detikfinance menunjukkan 52% karyawan baru hanya sekali berganti pekerjaan dalam dua tahun terakhir.

Selain faktor risiko, perusahaan pun kini lebih memeluk karyawan mereka. Pada 2021–2022, banyak perusahaan di Amerika Serikat mengalami kekurangan tenaga kerja sehingga lebih memilih mempertahankan staf lama ketimbang merekrut karyawan baru.

Fenomena job hugging tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di banyak negara lain. Penyebab utamanya adalah perlambatan ekonomi global, meningkatnya PHK, dan semakin sempitnya peluang kerja. Rasa aman menjadi alasan utama pekerja bertahan, meski sering kali hanya semu.

Lebih jauh, fenomena ini tak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalisme yang telah gagal menyediakan lapangan kerja layak. Dalam sistem ini, pekerjaan dianggap urusan individu, bukan tanggung jawab negara. Akibatnya, rakyat dipaksa berjuang sendiri di tengah kompetisi kerja yang kian ketat.

Negara hanya berfungsi sebagai regulator, sering kali berpihak pada kepentingan investor dan korporasi besar. Kapitalisme menyerahkan hampir seluruh urusan ekonomi kepada swasta, termasuk penguasaan sumber daya alam.

Modal besar para kapitalis pun lebih banyak mengalir ke sektor non-riil—seperti saham, obligasi, atau instrumen ribawi—yang minim menyerap tenaga kerja. Akibatnya, banyak pekerja terjebak dalam situasi stagnan, bertahan pada pekerjaan yang tidak memberikan ruang untuk berkembang.

Krisis job hugging sesungguhnya mencerminkan kegagalan kapitalisme dalam menjalankan fungsi utama ekonomi: menjamin kebutuhan rakyat dan menyediakan pekerjaan yang layak. Negara seolah lepas tangan, membiarkan warganya berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Berbeda halnya dengan sistem Islam. Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh mengurusi rakyat, termasuk menyediakan lapangan pekerjaan.

Melalui sistem ekonomi islam, pengelolaan sumber daya alam dilakukan sepenuhnya demi kepentingan rakyat, bukan segelintir pemilik modal.

Negara juga berkewajiban memberikan bantuan modal, sarana, dan keterampilan bagi mereka yang membutuhkan.

Lebih dari itu, pendidikan dan pekerjaan dalam Islam selalu dilandasi ruh keimanan. Pekerjaan bukan semata-mata aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ibadah yang terikat dengan standar halal-haram. Negara pun melayani rakyatnya dengan dorongan ibadah, bukan sekadar keuntungan.

Dengan demikian, job hugging adalah gejala dari krisis kapitalisme yang gagal memenuhi hak-hak rakyat. Islam menawarkan solusi sistemik dengan menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat, termasuk dalam penyediaan lapangan kerja yang bermartabat.[[

Comment