by

Jumlah Guru Kekurangan, Kualitas Bangsa Dipertaruhkan

-Opini-36 views

 

 

 

Oleh : Khansa Mustaniratun Nisa*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada kualitas pendidikan. Begitu kiranya ungkapan yang dilontarkan oleh banyak lapisan masyarakat. Namun, apa jadinya bila pendidikan yang dianggap penting ini kenyataannya malah kekurangan tenaga pendidik?

Sebagaimana terjadi di Kabupaten Bandung yang kekurangan tenaga pendidik mencapai 7.221 untuk guru SD dan 1.139 untuk guru pendidikan agama. Namun jumlah tersebut belum mencangkup kekurangan guru ditingkat SMP. (bandung.pojoksatu.id, 29/01/2021)

Kekurangan guru ini ternyata sudah diprediksi oleh Kemendikbud pada tahun 2020.

Dilansir cnnindonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memprediksi sekolah di Indonesia kekurangan 1 juta guru setiap tahun sepanjang kurun 2020-2024. Angkanya ditaksir terus meningkat seiring tahun.

Menurut Kemendikbud, kekurangan guru ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pembukaan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas baru dan pensiun setiap tahun yang tidak diimbangi dengan rekrutmen CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil).

Fakta lain menunjukkan bahwa masalah kekurangan guru tak bisa lepas dari masalah anggaran. Pemerintah menyatakan telah mengalokasikan 20% Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan. Namun nyatanya, jumlah tersebut masih kurang. Maka wajarlah jika pemerataan pendidikan, termasuk jumlah guru masih menjadi problem panjang hingga saat ini.

Di sisi lain, para guru juga menjadi korban sistem kapitalis yang bercokol saat ini. Sistem kapitalis telah mencetak guru berpandangan kapitalistik. Tak sedikit guru mengajar karena dorongan kepentingan ekonomi ketimbang moral mendidik. Sistem kapitalis sekuler telah menggeser fungsi mulia guru menjadi materialis.

Selain itu, himpitan ekonomi pun dialami semua masyarakat, termasuk para guru. Guru pun menggadaikan idealisme mendidik dengan sejumlah materi untuk menutupi kesulitannya itu. Demikianlah, problem kekurangan guru ini hakikatnya adalah problem sistemik.

Pemerintah bisa saja berupaya agar jumlah guru segera terpenuhi melalui pengangkatan CPNS. Namun, bila anggaran masih tidak bisa memenuhi, maka program ini akan sulit dijalankan.

Di samping itu, terpenuhinya jumlah guru tidak menjamin tuntasnya persoalan guru. Masalah pemerataan misalnya, bukanlah problem jumlah. Bila jumlah memadai namun tidak rata penyebarannya, maka tetap saja sebagian daerah masih kekurangan guru.

Betapa beratnya menata pendidikan dalam sistem kapitalis sekuler. Ini baru masalah guru, belum lagi kurikulum dan pengelolaan lembaga pendidikan. Oleh sebab itu, bila sistem yang bercokol saat ini tidak mampu mengatasi problematika pendidikan secara tuntas, maka kini saatnya beralih pada sistem Islam.

Islam sangat menghargai profesi guru, karena hasil didikannya lah yang kelak bisa menjadi ulama dan tentunya generasi yang berkualitas. Para guru pun menyadari betul tugasnya sehingga tidak mempersoalkan di mana pun mereka harus mendidik, karena yang diinginkan hanyalah kebaikan dari Allah Swt.

Bila Islam dijadikan sistem bernegara termasuk sistem pendidikannya, maka akan mampu menghasilkan pendidikan yang berkualitas, baik pengadaan guru, kurikulum hingga pengelolaan sekolah. Perhatian negara pada guru pun begitu besar. Sistem ekonomi yang tangguh mengantarkan negara memiliki anggaran cukup besar bagi pendidikan.

Hal ini pernah terjadi di masa kepemimpinan Umar bin Khaththab. Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari al-Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak.

Khalifah Umar bin Khaththab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25gram emas). Ini sangat jauh dengan upah yang didapat guru pada sistem saat ini, apalagi yang masih berstatus honorer.

Demikianlah yang terjadi bilamana Islam dijadikan aturan di bidang pendidikan. Semua orang yang bertugas mengelola sistem ini akan amanah karena takut akan pertanggungjawaban kelak di akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari)

Dari semua ini, masihkah kita berharap pada sistem kapitalis sekuler yang jelas terbukti tidak mampu menuntaskan problematika negara khususnya pendidikan? Wallaahu a’lam bish shawab.[]

*Mentor Kajian Remaja

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + twenty =

Rekomendasi Berita