Jurnalis Fatima Ftouni Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan

Internasional220 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, LEBANON — Dunia jurnalistik kembali berduka. Seorang jurnalis perempuan asal Lebanon, Fatima Ftouni, dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan militer Israel di wilayah Jezzine, Lebanon selatan, Sabtu (28)3/2026).

Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2026, sekitar pukul 19.21 waktu setempat, ketika kendaraan yang ditumpangi para jurnalis menjadi sasaran rudal Israel.

Fatima Ftouni, yang merupakan reporter dari media Al Mayadeen, saat itu tengah menjalankan tugas jurnalistik bersama rekan-rekannya untuk meliput situasi konflik di wilayah tersebut. Ia berada dalam satu kendaraan bersama jurnalis lain, termasuk saudaranya, Mohammed Ftouni, yang berprofesi sebagai kameramen, serta Ali Shoeib dari Al-Manar TV.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan laporan sejumlah media dan organisasi jurnalis internasional, serangan Israel menargetkan sebuah kendaraan yang telah diberi tanda “press” (pers) secara jelas.

Serangan terjadi dalam dua tahap. Pada serangan pertama, kendaraan para jurnalis dihantam rudal. Fatima Ftouni dilaporkan sempat selamat dan keluar dari kendaraan untuk menyelamatkan diri.

Namun nahas, beberapa saat kemudian serangan lanjutan kembali menghantam area tersebut dan mengenai dirinya secara langsung hingga meninggal dunia di lokasi.

Sebelum kejadian, Fatima diketahui sempat melakukan siaran langsung (live report) dari wilayah Lebanon selatan, menandakan ia tengah aktif menjalankan tugas jurnalistik saat insiden terjadi.

Klaim Israel dan Kecaman Internasional
Militer Israel mengakui melakukan serangan tersebut, namun menyatakan bahwa target utama adalah Ali Shoeib yang dituduh sebagai bagian dari unit intelijen Hizbullah. Meski demikian, tidak ada bukti yang disampaikan secara terbuka terkait klaim tersebut.

Pemerintah Lebanon serta berbagai organisasi internasional mengecam keras insiden ini. Serangan terhadap jurnalis yang sedang bertugas dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional, karena jurnalis termasuk dalam kategori warga sipil yang harus dilindungi dalam konflik bersenjata.

Insiden ini juga menambah panjang daftar korban dari kalangan pekerja media dalam eskalasi konflik Timur Tengah yang kian memanas dalam beberapa waktu terakhir.

Duka Dunia Jurnalistik

Fatima Ftouni dikenal sebagai jurnalis yang aktif melaporkan situasi konflik di lapangan dengan keberanian tinggi. Kepergiannya menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi media tempatnya bekerja, tetapi juga bagi dunia jurnalistik internasional.[]

Sumber:
Reuters
Al Jazeera
Sky News
Committee to Protect Journalists (CPJ)
The Guardian 
Reuters 

Comment